“Nih, liat!”
•••
Senin biasanya jadi hari paling menyebalkan bagi pelajar dan pekerja. Bangun dari kasur saja butuh perjuangan. Tapi itu tidak berlaku bagi seorang laki-laki berseragam putih abu yang kini berdiri di depan pagar rumah sederhana, menatapnya seolah menunggu seseorang muncul.
Dengan jaket hitam dan motor ninja kesayangannya, Reano memeriksa jam di pergelangan tangan.
05.35 WIB — terlalu pagi untuk anak sekolah, tapi tidak untuk seseorang yang gelisah.
Sejak semalam mendapat kabar bahwa Asha tidak baik-baik saja, Reano ingin langsung datang. Namun tidak mungkin ia mendatangi rumah seorang gadis di tengah malam. Jadi ia menahan diri sampai pagi.
Reano sudah tahu seluruh kejadian Asha dan Geo. Bahkan ia dan Araski semalam hampir baku hantam karena suami korban memaksa meminta ganti rugi. Padahal jelas, ini kecelakaan tanpa pelaku.
Araski sempat ingin menyelesaikan semuanya dengan uang demi menghindari masalah, membuat Reano hampir menghajarnya karena gegabah.
Untung mereka akhirnya bermusyawarah. Suami korban luluh, sadar bahwa mereka sama-sama korban ketidaksengajaan.
Reano mengangkat kepala ketika pagar digeser. Geo muncul, rapi dengan seragam putih biru. Reano refleks menatap perban di tangan Geo. Geo pun sama kagetnya melihat Reano di sana.
“Bang? Ngapain di sini?” tanya Geo sambil melirik jamnya.
06.45 WIB.
“Kakak lu ada?”
“Ada. Lagi siap-siap pakai sepatu.”
“Oh.”
Asha muncul, terlihat terkejut begitu melihat siapa tamunya.
“Geo…” Asha menoleh.
“Kak Rean?”
“Pagi, Sha.” Reano tersenyum kecil.
Geo buru-buru mengambil alih suasana. “Hallo, Kak Rean ngapain?”
“Sebenernya mau ngajak berangkat bareng ke sekolah.”
“Hah? Asha bareng Geo kok, kak. Nggak usah repot.”
Tapi Geo memotong cepat, “Gak apa-apa. Kalau mau bareng Bang Rean duluan aja. Geo mau mampir ke rumah Bang Aras sebentar.”
Sambil menyalakan motor, Geo meraih tangan Asha untuk disalami. Asha kikuk.
“Eum… boleh deh, kak.”
Rean segera pakai helm dan naik motor, memberi kode agar Asha ikut.
“Kakak berangkat dulu ya. Kamu hati-hati bawa motornya, Ge. Titip salam ke Bang Aras.”
Reano langsung mendelik tidak suka.
**Apa pentingnya titip salam segala?**
Geo hanya mengangguk. “Bang, hati-hati.”
Reano menggas motor.
---
Di perjalanan, Reano ingin membuka topik. Tapi mulainya di mana?
“Kak Rean, tumben pagi-pagi ada di depan rumah Asha. Pasti bukan cuma mau berangkat bareng kan?” tanya Asha tak sabar. Jelas penasaran kenapa Reano datang tanpa kabar.
Asha saja bingung… kalau mau bareng, kenapa nggak chat dulu?
Rean tersenyum kecil.
Akhirnya ditanya juga.
“Tadi malam mau kirim pesan, tapi lupa. Terus iseng lewat sini. Gw pikir sekalian aja jemput. Tadi juga gw kira lu udah berangkat soalnya sepi.”
“Oalah… ada-ada aja kak Rean hehe.”
“Btw, semalam lu ikut ke tempat balapan?”
Asha langsung terdiam.
Pertanyaan itu menusuk emosinya yang masih sensitif soal Geo.
Ia teringat jelas: untuk pertama kalinya ia kecewa pada adiknya. Dan Reano ada di sana. Andi, Angga, geng Aras. Geo bahkan melawan Rean.
Tapi pagi ini Reano dan Geo tampak akrab, seolah lupa insiden semalam.
Rean melirik lewat kaca spion.
“Sha.”
“Hah? I-iya kak? Udah sampai?”
“Dikit lagi.”
“Lu belum jawab pertanyaan gw.”
“Oh…” Asha menunduk. “Iya kak.”
Nada itu terlalu singkat. Dingin. Seolah ingin cepat mengakhiri pembicaraan. Moodnya anjlok sejak topik balapan muncul.
“Maaf ya, kalau lancang. Gak maksud apa-apa.”
“Eh enggak! Asha gak papa. Cuma… masih kecewa aja. Terus kenapa sih kak Rean ikut balapan begitu? Mau jadi jagoan kayak Geo?”
“Hahah! Adek lu? Sama gw juga jagoan gw.”
Asha terkejut.
**Ketawa Reano keras, percaya dirinya menggelegar.**
Sesampainya di parkiran sekolah, semua mata tertuju pada mereka berdua.
Asha turun duluan, tapi tetap saja bisik-bisik mulai terdengar.
Dari kejauhan, Naya, Violet, Sella, dan Keana berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Wajah Naya mengeras, rahang mengatup, tangan mengepal.
Masih segar di kepalanya peristiwa malam itu—ketika keluarga Naya datang silaturahmi ke rumah Reano setelah orang tua Reano pulang dari luar negeri.
Dan Reano berkata lantang:
“Rean gak bisa terima perjodohan ini. Rean punya pilihan sendiri."
Ibunya terkejut. Ayahnya murka.
Tapi Reano tetap tegak, menatap ayahnya balik.
“Ini hidup Rean, Pah! Stop ikut campur!”
Upaya Rosita menenangkan meja perjamuan tidak terlalu berhasil. Namun ia tahu betul: Reano adalah duplikat Abazar. Jika dikerasi, ia melawan. Jika dilembutkan, ia luluh.
Naya menggigit bibir.
Ia tidak menyangka akan ditolak di depan keluarganya sendiri. Parahnya, itu bukan penolakan biasa—itu perlawanan.
Tapi Naya bukan tipe yang menyerah.
**Kalau Reano tidak datang padanya, ia akan membuat Reano datang. Apa pun caranya.**
“Reano sama Hafasha pacaran?” tanya Violet, melongo.
“Gak tau. Tapi akhir-akhir ini sering keliatan bareng. Jangan-jangan lagi PDKT?” Sella langsung diam ketika Naya melirik tajam ke arahnya.
Keana menghela napas. Di antara mereka semua, hanya dia yang tidak suka drama. Tapi dia juga yang paling diam-diam memperhatikan Asha… dan pergerakan Naya.
“Kali ini, rencana apa yang mau lu buat, Nay?” Keana menatapnya serius.
Naya hanya tersenyum miring, penuh rencana.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Teen FictionKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
