Kursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
Langkah kaki menggema di dalam gedung yang dikenal sebagai markas Dark Blood. Di belakang Geo, lima orang anggota lain mengikuti dengan rapi. Geo membuka pintu bertuliskan Dark Blood. Aroma asap rokok langsung menyambutnya.
Di dalam, seorang laki-laki berdiri membelakangi mereka, menatap ke luar jendela sambil menggigit puntung rokok.
Araski.
Ketika menoleh, alis Araski sedikit terangkat melihat enam orang masuk bersamaan. Tapi dari semuanya, hanya satu yang ia butuhkan: Geo. Tanpa kata, ia mengisyaratkan lima anggota lain untuk keluar.
Mereka mengangguk dan pergi. Tersisa lah Geo dan Araski.
“Duduk.” Suara Araski datar, berat, tanpa intonasi.
Geo duduk. Araski meletakkan beberapa lembar berkas—dengan foto Geo di atasnya.
“Jadi, kamu adiknya Hafasha?” tanyanya, menunjuk berkas itu. Suaranya serak, dingin, tapi tidak marah.
Geo melirik berkas tersebut, menghela napas, lalu duduk lebih tegak. “Iya, Bang.”
Araski menaikkan satu alis, menunggu lanjutan.
“Geo sama Kak Asha tinggal di rumah almh ibu.”
°°°
Di rumah Hafasha, Aini dan Zahra menginap malam ini. Mereka bertiga tidur di kamar Hafasha. Kalau bertanya di mana orang tua Hafasha, jawabannya sederhana namun pahit: mereka sudah tiada. Sejak setahun lalu, Hafasha dan Geo hidup berdua.
Malam ini mereka bertiga menonton film di laptop Aini. Tapi pikiran Hafasha tidak pada filmnya. Sejak tadi ia kepikiran kejadian siang tadi—ini pertama kalinya ia sedekat itu dengan Rean, ketua OSIS yang selalu dielu-elukan guru dan siswa. Biasanya ia hanya melihat dari jauh atau diam-diam menaruh coklat di loker Rean.
Rean cerdas, sopan, ganteng, dan—kata Aini—ambis banget soal pelajaran. Pantas saja semua orang menyukainya.
Zahra melirik Hafasha yang dari tadi senyum-senyum sendiri. Aduh, ngebayangin apa tuh bocah? batinnya.
Zahra mengambil kulit kacang dan melempar—tak!—kena pelipis Hafasha.
Ia turun ke dapur, minum, dan melihat Geo sedang bicara dengan seseorang di luar rumah. Dari dalam hanya terlihat pundak laki-laki. Suaranya berat, asing.
“…bagaimana keadaan kakakmu?” ujarnya.
Hafasha mengerutkan kening. *Siapa itu?*
Ia melangkah mendekat. Geo dan laki-laki itu menoleh bersamaan.