29. Marah

26 4 3
                                        

"Gimana kalau lu cium gw kaya gw cium lu, tadi?"

- Reano A

••••

Suasana kantin masih berisik setelah aksi nekat Reano Abazar. Semua menatapnya dengan mata membesar, tidak percaya bahwa Reano seberani itu. “Kalau guru-guru tau…?” gumam beberapa siswa pelan.

Rean mengigit bibirnya, senyum manis tetap terpatri meski kepalanya menunduk.

"WAAHH! ANJAY, BANG REAN!" Andi bertepuk tangan meriah, teman-teman lain ikut menoleh sambil duduk menatap Rean dengan seksama.

"Re, lu serius anjir… anak sepolos itu lu sosor," Fathan masih tak percaya. Seperti mimpi di siang bolong!

"Iya Re, kok bisa?" Farel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bulu kuduknya meremang. Senyum Rean yang belum memudar membuatnya merinding.

"Gw juga gak tau kenapa bisa senekad itu," Rean tertawa, menyadari ucapannya sendiri. "Padahal awalnya niat mau nge-prank dia di depan semua orang… tapi lihat dia gugup, gigit bibir, rasanya hati gw meleleh. Hahaha, sial deh."

"Halah! Elu aja yang brengsek, gak bisa liat yang bening dikit," Andi menimpali sambil melempar kulit kacang tepat ke wajah Rean.

"Lu yakin dia gak bakal marah?" Kenzie bertanya, menatap Rean penuh cemas.

"Marah? Kenapa marah?" Rean menjawab polos.

"Goblok!" Bryan mengumpat.

Angga hanya menghela napas panjang, merasa dirinya satu-satunya yang waras di tengah teman-temannya yang gila semua itu.

"Coba tanya aja, dia marah apa enggak? Gw tebak dia marah," Vano tersenyum miring.

Rean mengerutkan alis, mengusap rambutnya kasar. "Sial! Gw baru inget… dia kan muslim!" ucapnya panik.

"Makanya Re, jangan nafsuan jadi orang!" Bryan menambah ejekan.

Tanpa basa-basi, Rean meninggalkan kantin. Ia harus minta maaf.

Sesampainya di kelas Asha, Rean melihat gadis itu tengah dipeluk Zahra. Rasanya kesal sendiri—salahkah setan dalam dirinya yang membuatnya sebrengsek itu? Asha menangis, Rean ingin mendekat, tapi takut membuatnya makin ketakutan.

"Apa kalau pulang sekolah gw ajak ngobrol aja? Tapi kalau dia gak mau… ah elah, lu kan pinter, Re. Kalau dia nolak, tinggal angkut aja langsung. Haha," bisik iblis dalam diri Rean.

Akhirnya Rean kembali ke kelas, memutuskan menunggu waktu pulang.

•••

“Asha! Lu ngindarin gw?” Rean menghadang di depan pintu, saat Asha ingin menyusul Aini dan Zahra di gerbang.

Asha hanya diam, mencoba melewati tubuh Rean yang menjulang seperti tembok. Hatinya kecewa dan malu; semua siswa SMK Galaksi sudah menjadikannya topik perbincangan.

“Minggir, kak… aku mau pulang,” gumam Asha, berusaha tetap tenang.

Rean tersenyum tipis, matanya tetap menyorot. Ia tahu, untuk mendapatkan Asha, ia harus sabar… atau sedikit lebih nakal.

REANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang