32. Menentang

20 2 7
                                        

Tolong tandain kalau ada kesalahan kata, terima kasih 💌
Happy Reading gengs!

***

Tidak ada satu pun anak yang mau hidupnya dikekang dan diatur oleh orang lain—termasuk oleh orang tua mereka sendiri. Setiap anak punya tujuan dan keinginan masing-masing. Tidak bisakah para orang tua cukup memberikan dukungan dan doa yang terbaik? Jika pun pilihan seorang anak ternyata salah, bukankah itu hal yang wajar bagi anak muda?

Dari kesalahan itu mereka justru belajar, tumbuh, dan pada akhirnya tidak lagi menjadi beban, apalagi bergantung pada orang tua. Terlebih bagi seorang laki-laki: ada banyak hal yang membuat mereka penasaran, banyak hal baru yang harus dicoba dan dipelajari.

Reano adalah salah satu anak laki-laki yang hidupnya begitu diatur. Sejak kecil, Rean harus mengikuti apa pun yang dikatakan Papahnya; bahkan untuk menolak atau memilih pun Rean tidak bisa. Sedikit saja dia membangkang, Papahnya akan menghukumnya dengan mengurungnya di kamar mandi.
Itu ketika Rean masih kecil. Sekarang dia sudah besar.

Cara-cara lama itu sudah tidak mempan. Alex pun sudah tidak mungkin melakukan hal kekanak-kanakan tersebut. Di usia Rean sekarang, akan sangat sulit memaksanya untuk menurut. Tapi Alex selalu punya cara untuk membuat Rean diam dan mengikuti kemauannya.

Tapi tidak untuk yang satu ini.

Brak!

Semua orang terkejut mendengar suara tendangan dari arah pintu masuk. Mereka serentak berdiri, menatap sumber suara. Di sana berdiri Reano dengan helm sport di tangan, sementara di sampingnya Naya menunduk ketakutan.

Nia, wanita paruh baya itu, segera mendekati Naya dan memeluk putrinya. Dia tahu betapa takutnya Naya atas perlakuan Rean barusan. Biarlah para lelaki menyelesaikan urusan mereka; tugasnya adalah menenangkan anak gadisnya.

Alex berdiri tegak dengan sikap angkuh, menatap Rean tanpa ekspresi. Siapa pun yang melihatnya mungkin akan merasa terintimidasi—tapi tidak Rean. Rean justru merasa tertantang.
Keenan hanya berdiri di dekat mereka, tidak berniat ikut campur urusan ayah dan anak itu. Rean berdiri menjulang di depan Papahnya.

“Rean akan menolak pertunangan itu.”
Jika saja di depannya bukan orang tuanya sendiri, mungkin kepalan tangan yang sudah menggenggam erat itu sudah melayang ke wajah Papahnya.

“Kasih Papa alasan. Kenapa kamu nolak dijodohkan dengan Naya?”

Rean diam. Ada begitu banyak alasan. Tapi tidak ada satu pun yang bisa ia ucapkan.
Bukan karena takut—tapi karena dia mempertimbangkan: jika dia berkata jujur, apa yang akan dilakukan Papahnya setelah ini?

Alex terus menatap Rean. Dalam diam, sebenarnya ia melihat bayangan dirinya sendiri di mata anak itu—tatapan penuh kekesalan yang dulu juga pernah ia arahkan pada orang tuanya.

Alex punya alasannya sendiri untuk bersikap seegois itu. Walau ia tahu, rasa sakit yang dirasakan Rean saat ini sama persis dengan yang pernah ia rasakan dulu.

“Rean sudah punya pilihan sendiri. Jadi Papa, tolong berhenti ngatur hidup Rean. Rean sudah besar, pah! Rean bukan anak kecil lagi. Rean punya pilihan sendiri. Tolong ngerti Rean!”
Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya kalimat itu keluar. Rean berbicara dengan jantung yang berdetak kencang. Tapi dia tidak gentar. Jika terus dikekang, dia akan melawan.

“Jadi Rean mohon, pah… batalin perjodohan ini. Sampai kapan pun, Rean nggak akan pernah mau menyetujuinya.”
Tanpa menunggu jawaban, Rean berbalik dan pergi meninggalkan rumah orang tuanya.
Meninggalkan keheningan di rumah besar itu.

Dengan sebatang rokok di antara dua bibirnya, Rean menatap ponselnya yang terus berdering. Nama kedua temannya bergantian muncul di layar.



REANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang