Kursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
"Jantung Asha kenapa? Apa Asha punya penyakit dalam? Ish Naudzubillah. Pasti ini gara-gara Kak Rean."
~Hafasha
______________________________________________
"Kak Rean."
•••
Setelah aku dan Aini melangkah masuk ke dalam ruangan OSIS, mataku langsung tertuju pada seseorang yang—setahun terakhir—diam-diam mewarnai hatiku. Tuhan… entah Kau menciptakannya dari apa sampai bisa setampan itu. Cara ia duduk santai di atas meja, tertawa lepas karena lelucon teman-temannya… sungguh, semuanya terlihat begitu manis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Diatas adalah ilustrasi gambar nya kak Rean lagi duduk. Anggap aja itu meja bukan sofa:v lihat cara duduk dan cara dia melihat Hafasha dan Aini saja yah(:)
Sadar akan kedatangan aku dan Aini, semua pasang mata di ruangan OSIS langsung beralih menatap kami—tak terkecuali Kak Rean, si *most wanted* SMA Galaksi. Ketua OSIS, ketua basket, ketua kelas 12 IPA 1 yang isinya anak-anak ber-IQ tinggi. Sungguh, nikmat mana lagi yang engkau dustakan, wahai umat.
“Ada apa?” tanya Kak Rean pada kami. Aku langsung menunduk—bukan cuma takut, tapi juga tidak sanggup menatap wajah setampan itu. Masya Allah.
“Ehehe, maaf kak, itu anu—” Belum selesai Aini menjelaskan, suaranya langsung dipotong oleh seseorang yang baru datang.
“Kasih hukuman, Re!” seru lelaki di belakang kami. Seketika semua mata menatapnya.
“Kenapa?” tanya Kak Rean bingung.
Wajar kalau dia bingung; tadi sedang asik-asiknya tertawa sama teman-temannya, tiba-tiba aku dan Aini muncul, lalu tidak lama Kak Fathan muncul dan menyuruhnya menghukum kami. Aku melihat dahi Kak Rean berkerut. “Hukuman?” gumamnya.
“Ck. Iya,” sahut Fathan malas.
Kak Rean berdiri tegak menghadap kami yang menunduk ketakutan. Kedua tangannya masuk ke kantung celana bahan yang dia pakai. Aku mencoba menelan saliva, tapi rasanya seret—melihat dia seperti itu… astaga, ketampanannya nyata sekali.
“Alasannya kenapa?” tanya Kak Rean.
Kak Fathan pun menjelaskan kronologinya. Intinya: *ini salah Aini*. Lagi khidmat upacara, dia malah tiba-tiba narik aku ke UKS.
Setelah mendengar semua, Kak Rean menatap kami. Tidak lama kemudian ia berujar tegas:
“Kalian berdua bersihin sampah-sampah di lapangan.”
Suara itu… ya Allah. Tegas, dalam, khas suara cowok banget. Aku yakin Aini juga pasti terpana, meski dia pura-pura santai.