31. Pertunangan

23 3 3
                                        


Happy reading, jangan lupa tinggalkan jejak yaaa, dan baca sampai akhir!

•••

"Wah, tumben banget kantin sepi? Pada kemana orang-orang?" Aini menarik kursi dengan dahi berkerut. Jam istirahat pertama biasanya ramai, tapi hari ini kantin nyaris bisa dihitung jari isinya.

Asha hanya mengangkat bahu. Mood-nya sedang buruk—insiden pagi tadi terus berputar-putar di kepalanya. Aini dan Zahra pun belum tahu apa yang terjadi.

"Kamu mau makan apa, Ai?" tanya Asha datar.

"Gue bakso sama es mangga. Eh, Zahra mana?"

Belum sempat Aini mencari, suara Zahra terdengar dari belakang. “Di sini.”

"Kamu dari mana aja, Kak?" sahut Asha.

“Biasa, tugas.”

“Oh, oke. Mau nitip apa?”

“Samain aja kayak kalian.”

Asha mengangguk lalu berjalan ke stan makanan. Zahra dan Aini pun duduk, tapi dari raut wajah Zahra terlihat jelas ada sesuatu.

“Kalau mau ngomong, ngomong aja, jir,” gerutu Aini.

Zahra menelan ludah. “Lu tau insiden pagi tadi?”

“Hah? Apaan? Emang ada kejadian apa?”

“Oh… berarti Asha belum cerita apa-apa?”

Aini makin bingung. “Enggak. Emang apaan? Udah, to the point aja.”

Zahra membuka ponselnya dan memperlihatkan sebuah video dua menit. Asha berada di tengah-tengah Araski dan Rean—dan terlihat jelas tangan Rean menggenggam tangan Asha erat.

Aini melongo. “Itu… beneran Asha? Kok bisa?”

Zahra menggeleng lemah. “Itu bukan masalahnya. Yang penting, mulai dari pagi, satu sekolah ngomongin Asha. Lu gak denger?”

Aini spontan menatap sekitar. Baru sekarang dia sadar semua orang berbisik-bisik dan melirik sinis ke arah Asha.

Aini mengepalkan tangan. **Ini gak bisa dibiarkan.**

Dia bangkit—tapi langkahnya terhenti ketika pintu kantin mendadak ricuh. Naya masuk dengan rombongan, disusul kerumunan murid yang tampak sangat antusias melihat “drama” yang mereka tunggu-tunggu.

Naya menyeringai saat matanya bertemu Asha. Dalam hitungan detik, Asha sudah terkepung lingkaran manusia. Kantin menjadi sunyi—sunyi menyeramkan yang hanya terjadi saat seseorang akan dipermalukan.

Naya membuka ponselnya, memutar video itu dengan volume besar, lalu mem-pause tepat di frame tangan Rean yang menggenggam Asha.

Pelan, cantik, dan penuh ancaman—Naya berjalan mendekati Asha.

Kemudian *bruk*.

Dia menjambak rambut Asha keras-keras.

“Aakhh!”

REANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang