Kedatangan Araski ke rumah membuat Hafasha membeku. Orang yang pernah mengisi masa lalunya tiba-tiba berdiri di depan mata—tanpa ia bayangkan sedikit pun. Araski melangkah mendekat, menampilkan senyum yang… Astaga, sejak kapan Fladhias Araski Rafsatya bisa tersenyum semanis itu?
Laki-laki yang jauh lebih tua dari Hafasha maupun Geo itu dikenal pendiam, jarang bicara, apalagi tersenyum. Ekspresinya selalu datar.
Hafasha menahan napas ketika tangan Araski mengusap lembut rambutnya.
“Deandra… kamu dengar saya?”
Tersentak, Hafasha mundur. Malu—apalagi di depan Geo. Ia menunduk.
“I-iya, Kak. Saya baik.”
Araski menoleh ke Geo yang sedari tadi hanya menyaksikan, lalu kembali menatap Hafasha.
“Saya tidak bisa lama. Saya hanya ingin memastikan kondisi kamu.” Senyum tipis itu muncul lagi.
“Jaga diri baik-baik. Saya pamit.”
Ia meminta Geo mengantarnya keluar, meninggalkan Hafasha yang masih tertegun.
“Tadi… kak Fladhias? Serius? Kenapa bisa kenal Geo? Ini gak bisa dibiarin, wajib interogasi,” gumamnya sebelum menuju kamar.
Namun saat membuka pintu, ia justru mendapati Zahra dan Aini berdiri tepat di belakang. Hampir saja ia menabrak keduanya.
“ASTAGHFIRULLAH! Kalian ngapain?!”
“Hehe… anu…” Aini nyengir.
Zahra melirik, “Tadi siapa?”
“Hah? Siapa apanya?”
“Cowok yang tadi.”
“Oh… Kak Fladhias.”
“Astagaaa… namanya familiar…” gumam Zahra.
Hafasha menghela napas. “Aku juga kaget. Tiba-tiba ada di sini, kenal Geo pula.”
“Cerita jangan di depan pintu, woy. Masuk,” ujar Aini.
Mereka duduk di karpet. Hafasha pun menunda mandi.
“Coba jelasin. Tadi gue liat tuh cowok ngacak-ngacak rambut lu,” kata Aini kepo.
“Aku nggak ngerti kenapa Kak Fla ke sini…”
“Itu Fladhias yang sering kamu ceritain dulu, kan?” tanya Zahra.
Hafasha mengangguk malu.
---
Hari Minggu lewat. Senin tiba—hari paling dibenci anak Galaksi. Upacara.
Hafasha berusaha fokus, tapi matanya terus terpaku pada Reano yang bertugas sebagai protokol. Caranya berdiri, suaranya ketika menyerahkan naskah Pancasila… duh.
Rean tuh apa aja bisa. Jadi calon ayah anak-anak Hafasha juga bisa. Mhwhwhwh.
Aini yang memergoki langsung nyubit rambut Hafasha.
“Fokus, anjir! Jangan naksir Kak Rean terus!”
“Iya-iya…”
Setelah upacara, Hafasha pamit ke toilet. Namun begitu keluar, ia terkejut melihat Naya, Sella, Violet, dan Keana. Naya langsung mengunci pintu.
“CK! Tukang ngadu lo!” bentak Naya.
“Ha? Ngadu apa?”
“Jangan pura-pura polos! Lu kan yang ngadu ke Reano soal gue kabur pas hukuman?! Ngaku!”
“Sumpah, b-bukan Asha!”
“Bacot!” Naya menarik rambutnya kasar.
“Kak Nay! Sakit!”
Sella dan Violet tertawa. Keana diam saja—tidak berniat ikut, tapi tidak mencegah.
“Jauhin Rean! Gara-gara lo gue bersihin perpustakaan segede itu sendiri!” Naya mendorong Hafasha hingga jatuh.
“Kalau lu macem-macem lagi, abis lu!”
Mereka keluar. Keana sempat membantu Hafasha berdiri, tersenyum kecil.
“Maaf nggak bisa bantu lebih.” Lalu pergi.
Hafasha menangis. “Hiks… kenapa Kak Naya jahat banget…”
---
Zahra yang menunggu di kelas mulai curiga karena Hafasha belum kembali lebih dari 15 menit. Ia mengajak Aini menyusul. Di koridor, mereka berpapasan dengan Rean, Angga, dan Andi.
“Nyari siapa?” tanya Andi.
“Hafasha belum balik dari toilet,” jawab Aini.
“Oh, yaudah sana cepat!”
Namun belum sempat melangkah—teriakan terdengar:
“AI! ZAHRA! HAFASHA PINGSAN DI TOILET!”
“Hah?!”
Mereka semua berlari.
Pintu toilet dibuka paksa—Hafasha tergeletak, tubuhnya basah kuyup oleh… air got? Busuk.
Rean terkejut, melepas jaket denim dan memakaikannya ke tubuh Hafasha.
Zahra dan Aini syok. Siapa yang tega?
Rean langsung menyuruh Angga mengecek CCTV.
Tanpa peduli tatapan orang-orang, Rean membopong Hafasha menuju UKS.
---
Di UKS…
“Gimana Kak?” tanya Aini.
“Baik. Cuma butuh istirahat dan harus dibawa pulang.”
Zahra menghela napas lega.
Beberapa menit kemudian, Angga dan Andi datang.
“Re,” kata Angga. “Gue udah tau siapa pelakunya.”
Aini refleks, “Siapa?”
Angga mengode Andi. Mendadak Andi menarik tangan Aini.
“Ayank Ai… ikut Babang Andi beli pop ice yuk. Sekalian seblak. Gua yang bayarin.”
Walah, siapa yang bisa nolak.
Aini terbawa pergi seperti dihipnotis.
Tinggal Rean dan Angga di depan UKS.
“Siapa?”
To be continued...
Revisi : Minggu 23 November 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Teen FictionKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
