"Kak Rean."
•••
Hafasha terpaku melihat laki-laki yang ia kagumi sedang olahraga di depan sana.
Rean tengah push-up dengan stabil, otot lengannya menegang, keringat mengalir dari rahang tegasnya sampai jatuh ke tanah. Angga tak jauh darinya melakukan hal yang sama — serius, rapi, teratur.
Sedangkan Andi?
Entahlah. Dia hanya duduk sambil leha-leha, dan sibuk melirik gadis-gadis yang lewat.
Geo, yang mulai merasa matahari makin terik, langsung menarik tangan Hafasha.
“Ganggu banget,” gerutunya sambil menarik kakaknya mencari tempat yang pas.
Di titik yang menurutnya cocok, Geo melepaskan tangan Hafasha dan langsung pemanasan. Hafasha ikut-ikutan: lari kecil, merentangkan tangan, memutar bahu. Apa saja yang penting terlihat seperti sedang olahraga.
Beberapa menit kemudian Hafasha sudah ngos-ngosan. Keringat mengalir di balik bajunya. Geo masih fokus, jadi Hafasha memilih mencari air dingin untuk mereka berdua.
Ia mendekati deretan stan makanan. Hal pertama yang ia cari?
Air mineral.
Hafasha membuka kulkas. Tepat saat tangannya hendak mengambil botol, sebuah tangan lain mengambil lebih dulu.
“Huh!”
Sedikit kesal, Hafasha menutup kulkas dan berbalik.
Dug!
“A—auuwhh…”
Keningnya nyut-nyutan. Ia merasa seperti menabrak tembok keras. Ketika rasa sakitnya mereda, ia mengangkat kepala.
Deg!
“Kak Rean…” batinnya bergemuruh.
Reano Abazar. Most wanted SMA Galaksi. Berdiri sedekat ini.
Dengan keringat, rahang tegas, tangan masih memegang botol air.
Terlalu dekat.
Rean mengangkat botol air yang ia ambil tadi.
“Gua duluan.”
Ia melambai kecil dengan botol airnya di depan wajah Hafasha yang masih bengong total.
Hafasha tak bisa menggerakkan tubuh. Tidak bisa berkedip.
Ia hanya mengangguk seperti robot. Pandangannya tak lepas dari wajah Rean.
Saat ia sadar, Rean sudah pergi.
“Mbak!”
Sebuah tangan menepuk pundaknya cukup keras.
Seorang ibu penjual menatapnya khawatir.
“Mbak? Dari tadi saya panggil. Mbak kenapa? Di-hipnotis ya?”
Hipnotis?
Hafasha hampir menjerit sendiri.
“Terhipnotis oleh Reano Abazar tepatnya,” batinnya menjerit.
Ia segera menggeleng keras, sampai-sampai ibu itu makin bingung.
Hafasha buru-buru memukul keningnya sendiri tiga kali.
“Mbak gak apa-apa?” tanya ibu itu lagi.
“Eheh… gak apa-apa kok, Mbak. Maaf ya. Permisi!”
Hafasha mengambil dua botol air dingin dan kabur sebelum malu lebih parah.
Ia berjalan cepat menuju Geo. Saking tergesa-gesa nya, napasnya tersengal-sengal.
Geo memandangnya seperti melihat hantu.
“Kenapa kak? Kayak habis dikejar setan. Mukanya merah banget.”
“Hhh—gak apa-apa kok. Nih minum.”
Hafasha menyodorkan botol. Geo menerimanya.
“Sini, duduk dulu!”
Hafasha menuruti perintah itu tanpa perlawanan.
0o0
Sementara itu, Rean, Angga, dan Andi tengah berjalan pulang karena matahari mulai terik.
“Re, tadi gua lihat lu sama Hafasha di stan minuman,” ujar Angga sambil melirik Rean yang jalan dengan tatapan datar.
Tidak ada respon.
Andi, kesal, langsung menepuk punggung Rean keras-keras.
“Aw! Sialan, sakit bego!” umpat Rean sambil menoleh galak.
“Lah! Lu ditanya Angga gak jawab!”
“Angga gak nanya. Itu pernyataan, bukan pertanyaan!” bentak Rean.
“Woooh, santai, mas bro. Peace-peace ✌️,”
Andi mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.
Rean memutar mata, lalu menghembuskan napas pasrah.
“Iya, gua ketemu dia. Gak sengaja. Kenapa sih emang? Ribet amat.”
Andi ngakak. Angga cuma geleng-geleng.
“Awas jilat ludah sendiri,” kata Angga.
“Hati-hati lu, nanti demen!” sambung Andi menggoda.
“Bacot lu, Ndi!”
Angga hanya menaikkan alis dan mengangkat bahu.
“Oh iya,” Rean memotong, “Gua udah ajuin anggota Dark Blood buat balapan. Lu siapa, Ngga?”
“Siap gak siap harus siap,” jawab Angga sambil menyeringai. Sudah lama ia punya dendam pribadi dengan ketua Dark Blood.
•••
“Araski!”
“Hm?”
“Panther ngajak balapan di tempat biasa. Mau terima apa enggak?” ujar Revan, menyandarkan tubuh di dinding.
“Taruhannya apa kali ini?”
“Kalau lu kalah, lu harus nurutin apa pun yang ketua Panther minta. Kalau lu menang, 5 juta dari Panther.”
“Palingan kalah lagi,” ledek Vian sambil tertawa.
“Bangke lu,” sahut Revan ikut tertawa.
Araski — Fladiash Araski Rafsatya, 28 tahun — duduk diam, menatap langit-langit ruangan markas Dark Blood.
Dingin. Cuek. Ditakuti hampir semua geng motor.
Kecuali Panther.
Panther, geng motor yang dipimpin Angga Ardava Lasmana.
Masalah lama antara Angga dan Araski membuat keduanya tidak pernah benar-benar selesai. Balapan, ribut, saling tantang — terjadi terus.
Araski menghela napas pendek.
“Belum kapok juga rupanya.”
TBC...
Revisi : Minggu, 23 November 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Teen FictionKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
