Naya muak.
Muak melihat kedekatan Reano dan Hafasha. Sebenci itu sampai ia bisa merasakan panas menjalar ke ubun-ubun. Dia tahu Reano menyukai Hafasha—begitu pun sebaliknya. Dengan dengusan kesal, Naya berbalik dan masuk ke kelas. Violet, Sella, dan Keana hanya saling pandang, tahu betul amarah ketua geng mereka sedang tidak main-main.
Sementara itu, Reano dan Hafasha baru turun dari motor.
Tatapan tidak suka dari banyak siswa langsung menusuk ke arah mereka. Hafasha refleks berdiri kaku; napasnya tercekat. Reano mengusap rambutnya yang sudah berantakan—sentuhan yang justru membuat rambutnya makin awut-awutan.
“Kak, Hafasha duluan ya. Makasih tumpangannya.”
Tanpa menunggu jawaban, Asha buru-buru pergi. Ia ingin menghilang dari sumber tatapan itu secepat mungkin.
“Asha ngasih apa sih sampai Reano mau sama cewek kayak dia?”
Bisikan itu tidak benar-benar berbisik. Jelas. Tegas. Penuh tudingan.
“Kalau bukan keperawanan, apa lagi?”
Langkah Asha berubah jadi lari. Dadanya nyeri, telinganya berdenging. *Kenapa manusia bisa sejahat ini?*
Reano yang awalnya hanya menatap kepergian Asha mulai mengernyit. Itu bukan lari biasa. Ia menurunkan standar dan menghampiri dua siswi yang tadi berbisik.
“Barusan lu ngomong apa?”
Nada suaranya datar tapi tajam. Dua siswi itu langsung pucat.
Dari jauh Andi dan Angga baru datang, melihat urat leher Rean menegang.
“Oi! Pagi-pagi udah ngerumpi. Ngomongin apa sih bang?” Andi merangkul bahu Rean santai—santai sampai Rean menepis tangannya.
Reano menunjuk dua siswi itu lagi.
“Sekali lagi gue denger lu ngomong sembarangan, siap-siap berurusan sama gue.”
Diam. Semua orang diam.
Andi dan Angga bahkan bengong. Rean tidak pernah marah seperti itu… kecuali ada hal besar.
Dan tanpa menunggu balasan, Rean pergi.
“Re, wey! Nungguin lah anjir!” Andi kesal campur bingung.
Dia berbalik ke dua siswi tadi.
“Eh tapi lu ngomong apaan sih sampai Rean ngamuk begitu?”
Namun keduanya hanya menggeleng dan kabur karena takut.
Andi mendengus. “Anj, gw ditinggal…”
•••
**Di kelas Hafasha**
Aini baru selesai makan ketika ia melihat wajah sahabatnya sembab.
“Sha… lu kenapa?”
“Gak apa-apa.”
“Apa-apaan. Jelas lu kenapa-napa. Masalah apa lagi? Bukan Geo kan?”
“Bukan,” jawab Asha lirih.
“La—” Aini terdiam ketika guru masuk.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam, Bu!”
“Gw tagih nanti pas istirahat,” bisik Aini.
Pelajaran dimulai.
Di tempat lain, Sella menerima perintah.
“Sella, bawa Hafasha ke belakang sekolah pas istirahat. Gue mau ngomong sama dia,” kata Naya.
“Mau ngapain dulu nih?”
“Lakuin aja. Kalau dia nolak, seret.”
Wajah Naya tersenyum miring. Dia seperti sedang menunggu pertunjukan favoritnya.
•••
**Kring!** Istirahat.
“Sha, jujur. Lu kenapa tadi pagi?” tanya Aini begitu bel berbunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Teen FictionKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
