Di rooftop sekolah, anggota inti PHANTER tengah membolos. Hari ini sampai besok, Rean tidak masuk sekolah. Orang tuanya baru pulang dari luar negeri, dan Rean diminta di rumah bersama keluarga. Atau mungkin sekarang lagi jalan-jalan—yang pasti, jangan lupakan sebatang rokok di tangan mereka.
“Ingat, kalian boleh ngerokok, tapi cuma satu batang ini aja.”
Farel memberi mereka masing-masing rokok sambil berkali-kali memberi nasihat.
“Iya, Rel, iyaaa. Gampang itu mah,” celetuk Vano.
Bryan melirik Andi yang dari tadi termenung. Sejak kejadian dua hari lalu, hubungan Andi dan Rean jadi canggung. Andi belum sempat minta maaf karena Rean selalu menghindar. Malam pun dia tidak bisa tidur—terus kepikiran tentang Reano.
Andi menyalakan rokoknya, mengisap, lalu meniupkan asap ke udara. Ruangan yang tak terpakai itu langsung penuh asap. Bryan menepuk bahu Andi, memberi penguatan tanpa kata.
“Gimana kalau habis pulang sekolah kita mampir ke rumah Rean?” usul Fathan.
“Wah boleh tuh! Ayo aja gua mah!” sahut Farel cepat.
“Di rumah dia kan ada bokapnya. Emang nggak dimarahin?” tanya Vano.
“Yaelah, kan ada Tante Rosita. Tenang aja kali!”
Mereka semua tahu betapa ramahnya ibu Rean itu. Jiwa keibuannya kental sekali.
“Kenzie juga ada, dia kan deket banget sama bokapnya Rean,” ujar Bryan sambil menunjuk Kenzie pakai dagu.
Sang empunya nama hanya menaikkan satu alis. “Yang dekat itu bokap gua, bukan gua,” jawab Kenzie jengah.
“Ya udah lah. Ayo. Masa kita digorok juga,” ujar Vano santai.
“Gimana, Ngga?”
“Ngikut.”
“YES! Oke, ayo ke kelas. Lima menit lagi juga bel,” seru Vano.
Mereka pun bubar dari ruangan itu menuju kelas masing-masing.
---
•••
Kantin hari ini lebih sepi dari biasanya. Aini, Hafasha, dan Zahra membawa nampan masing-masing, menoleh kanan-kiri mencari tempat duduk yang kosong. Mereka akhirnya duduk di pojok—tempat favorit anak-anak nakal nongkrong. Tapi hari ini tak ada satu pun anggota PHANTER.
“Kayaknya aman duduk sini. Mereka ga ada,” ujar Aini sambil menyeruput es.
Hafasha mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok tertentu.
“Kak Rean sama temen-temennya kok ga keliatan ya?”
“Ga tahu. Dari pagi juga nggak lihat. Entah bolos, entah nggak sekolah,” jawab Zahra.
Hafasha cemberut. Padahal kemarin di CAFE PHANTER, Rean janji mau ngajak jalan-jalan sepulang sekolah. Tapi Reannya hilang.
“Cieee… kangen Kak Rean ya?” goda Aini.
“Enggak.”
Jawabannya cepat sekali. Terlalu cepat.
“Halah! Kelihatan banget. Lu sama Kak Rean pasti udah dekat. Apa kalian pacaran?” Aini menyipitkan mata curiga.
“Enggak! Kapan aku ditembak coba?”
Aini ngakak, “Hahaha ketahuan ngarep!”
Hafasha mendengus. Tapi kemudian tanpa sengaja ia bicara terlalu jujur.
“Soalnya kemarin kak Rean nanyain soal pasangan beda agama sama aku… Kayaknya dia bohong deh bilang itu pertanyaan Kak Bryan. Kayaknya dia lagi suka sama cewek beda agama.”
Aini dan Zahra langsung saling pandang.
“Hah? Kalian kemarin jalan bareng?” tanya Zahra.
“Eh—”
Hafasha langsung ingin menepuk jidat sendiri. Aduh, keceplosan.
“I-iya…”
Mau tak mau, ia mengaku.
“KAPAN? DI MANA?”
Aini memekik sambil menggebrak meja. Semua yang ada di kantin menatap mereka.
“AI, jangan berisik!” teriak seseorang dari meja lain.
Aini meringis malu, menangkupkan tangan di dada, “Maaf yaa…”
Hafasha menahan tawa. Lucu sekali tadi.
“Jangan ketawa!” protes Aini menunjuk Hafasha.
“Iya-iya,” jawab Hafasha tersenyum.
“Ceritain!”
Hafasha pun menjelaskan seperlunya—tanpa menyebut soal dicium.
Tak lama kemudian bel berbunyi dan mereka keluar dari kantin, menuju kelas.
Mereka tak sadar, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan Hafasha.
---
•••
Bel pulang sekolah berbunyi. Hafasha, Aini, dan Zahra turun menuju parkiran. Mereka melaju ke CAFE PHANTER. Sesampainya di sana, cafe itu sudah ramai oleh anak-anak sekolah.
“Tempatnya bagus banget ya,” komentar Zahra sambil melihat interiornya.
“Memang,” sahut Aini.
Minuman datang, dan mereka menikmati suasana.
Hafasha terdiam, menatap gelasnya.
Zahra menyenggol Aini.
Aini melirik Hafasha.
“Sha, lu kenapa?”
“Ga apa-apa… cuma kangen Kak Rean aja.”
Aini dan Zahra menahan nafas.
Beberapa detik kemudian—
“GAK! BOONG! BERCANDA!”
Aini menepuk jidat.
---
•••
“Lu yakin Rean di rumah?” tanya Vano pada Fathan.
“Yakin ga yakin sih, tapi tadi dia bilang di WA dia lagi di rumah.”
“Ken, telpon,” perintah Farel.
“Kenapa gua? Kenapa bukan lu?”
“Yailah telpon doang! Gua ga ada kuota!” rengek Farel.
Bryan mengumpat pelan.
Mereka kini berdiri di depan pagar rumah Reano yang besar. Rumahnya sepi sekali.
Ken menelpon.
“Re, lu di rumah?”
“Iya. Buka aja gerbangnya. Bokap nyokap lagi ke rumah bokap nyokap lu,” jawab Rean tenang.
“Oke. Kita masuk.”
Kenzie membuka gerbang dan mereka masuk.
“ABANG REAN YUHUUU!” pekik Vano dan Farel.
---
TBC…
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Teen FictionKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
