Pagi ini cuaca cerah, ditambah aroma tanah basah bekas hujan subuh tadi, membuat siapa pun semangat memulai aktivitas. Asha sudah berkeliling merapikan setiap sudut rumah, bahkan latar depan sudah bersih, membuatnya tersenyum bangga.
Sarapan sudah siap, dan setelah mandi, Asha bersiap berangkat sekolah. Di ruang tamu, Geo duduk dengan sepiring nasi goreng, menonton siaran TV sambil menikmati makanannya.
Tak butuh waktu lama, Asha sudah rapi. Tas tersampir di kedua bahu, pintu kamar terbuka, dan terdengar suara seseorang. Ia melihat jam di dinding: pukul 06.45 WIB. Masih pagi, tapi tamu sudah datang.
Asha tercengang melihat Araski duduk bersama Geo, tampak asyik berbincang. Araski tersenyum tipis saat menyadari kehadirannya.
"Bang Aras, ada apa pagi-pagi ke rumah Asha?" Asha menenteng sepatu, duduk di samping Geo untuk memakainya.
"Kak, motor Geo di bengkel, jadi ga bisa antar. Tapi Bang Aras mau antar kamu," jawab Aras.
Asha syok. “Eh… gak usah, aku bisa naik angkot kok. Lagian Bang Aras pasti ada urusan lain kan?” ucapnya ragu-ragu, takut teman-temannya nanti membicarakannya.
"Gak apa-apa. Saya gak merasa direpotkan. Saya antar," Aras ramah. Asha akhirnya mengangguk pelan.
"Terus kamu berangkat sama siapa?"
"Teman Geo, otw. Udah, sana nanti kesiangan."
Aras menepuk bahu Geo untuk pamit, lalu keluar rumah.
"Hati-hati ya, Bang," ucap Asha. Geo menyalami tangannya, "Hati-hati, kak."
Asha tersenyum dan menyusul Aras ke motor. Kali ini motor lebih mudah dikendarai daripada Ninja Aras biasanya.
"Mau pakai helm?" tanya Aras.
"Gak usah, bang," jawab Asha.
Motor melaju pelan, tanpa banyak bicara. Asha tenggelam dalam pikirannya sendiri, Aras fokus pada jalanan.
"Bang, turunin aku di halte sebelum sekolah, ya?" Asha mencoba mengatur jarak aman.
Aras mengernyit, "Kenapa?"
"Gak apa-apa… sampai sana saja."
Aras tahu kekhawatiran Asha, tapi menuruti permintaan itu tidak praktis. Jarak halte ke sekolah cukup jauh jika berjalan kaki. Motor tetap melaju, membuat Asha menepuk bahu Aras, panik.
"Abang, berhenti! Bang!"
Tak lama, mereka sudah tiba di sekolah. Semua mata tertuju pada mereka. Asha menahan napas, meremas rok sekolahnya sebelum turun.
Aras membuka helm, menoleh sekilas ke belakang. Asha sadar, menurunkan pandangan. Bisik-bisik siswa mulai terdengar, tapi tatapan tajam Aras seolah menegaskan: jangan macam-macam.
"Jangan dipikirin, gak akan terjadi apa-apa. Tapi kalau ada… saya gak akan tinggal diam. Masuk kelas sekarang, bel hampir berbunyi," ucap Aras menenangkan Asha.
Brumm… brumm… tin… tin…
Asha menoleh ke belakang dan melihat beberapa motor berhenti. Reano dan antek-anteknya muncul. Semua menatap dengan ekspresi beragam. Dua geng motor terkenal bertemu di pagi cerah—adegan yang menegangkan.
Rean membuka helm, rambut berantakan menambah aura ketampanannya. Siswi-siswi histeris. Rean turun, menarik tangan Hafasha.
"Biasain izin kalau mau pinjem milik orang, ya bang," ujarnya santai.
Asha terdiam. Rean lancang memegang tangannya, sementara Aras mengangkat satu alis, menatap Rean datar.
"Bang Aras, dengar gak bang?" Rean menatap.
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
JugendliteraturKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
