Rean, Angga, dan Andi berjalan menyusuri koridor kelas 11 dengan gaya khas mereka-cuek, santai, tapi karismanya kuat. Banyak adik tingkat yang otomatis menoleh, terutama karena kehadiran Reano si most-wanted sekolah.
Namun langkah mereka terhenti ketika Rean melihat keributan dari salah satu kelas. Ia merentangkan tangan kanannya, menghentikan Andi. Tangan kirinya masuk ke kantong celana bahannya.
Andi yang sedang mengedipkan mata genit ke adik kelas langsung kesal.
"Njir! Ngapain sih ngalangin jalan!" omel Andi.
Angga hanya menepuk punggung Andi pelan-peringatan supaya jangan ribut dulu.
"Dik, ada apa? Kok ribut?" tanya Rean to the point pada siswa yang baru keluar dari kelas.
"Ah, kak Rean... itu, Hafasha dimarahin Naya. Gara-gara tadi Naya tumpah jus naga, terus nyalahin Hafasha. Padahal katanya nggak sengaja..."
Rean mengangguk kecil. "Oke, makasih."
Tanpa pikir panjang, ia masuk ke kelas. Kelas 11 itu ramai, dan suara bentakan Naya terdengar jelas hingga luar.
Andi dan Angga hanya berdiri di ambang pintu. Andi bahkan dengan santainya membuka lollipop dan memberikan satu ke Angga.
Suasana mendadak hening ketika tangan Naya yang hendak menampar Hafasha dicekal seseorang. Tangan besar yang mencengkeram pergelangan Naya cukup kuat untuk membuatnya terkejut.
Reano.
Rean menjauhkan tangan Naya, lalu membalik tubuh gadis itu agar menghadap dirinya. Tangan dimasukkan ke kantong celana, tatapannya tajam dan datar.
Hafasha yang memejamkan mata karena takut, baru menyadari sesuatu aneh: tidak ada tamparan. Tidak ada suara teriakan. Sunyi.
Lalu ia mendengar suara yang sangat ia kenal-suara yang akhir-akhir ini sering membuat jantungnya tak karuan.
"Udah puas?"
Di luar kelas, Andi dan Angga langsung merinding melihat suasana yang mendadak sunyi. Namun suara langkah tergesa dari ujung koridor menarik perhatian mereka.
"HAFASHA!!!"
Aini dan Zahra muncul dengan napas tersengal. Mereka baru pulang dari luar sekolah, dan langsung berlari ke kelas setelah mendengar teman mereka dibully.
Andi dan Angga mencegat mereka.
"MINGGIR! GUA MAU LIAT HAFASHA!" bentak Aini sambil tanpa sadar memukul dada Andi keras-keras.
Andi meringis. "Diem dulu! Biar Rean yang beresin! Di sini dulu!"
Nada suaranya tegas, bikin Aini terdiam.
---
Di dalam kelas, Rean masih menatap Naya.
"Kenapa diem?" suaranya dingin.
Naya menegakkan badan, meski sedikit gemetar. "Gue cuma bales! Dia sengaja nyenggol tangan gue sampai jus gue tumpah! Terus dia cuma minta maaf? Gitu doang?!"
Teman-teman Naya menenangkannya, tapi Hafasha yang sejak tadi terpaku akhirnya angkat suara, gemetar.
"E-enggak... tadi Hafasha nggak sengaja. Justru Naya yang... nyegat jalan Hafasha pakai kaki... Hafasha kesandung, terus nyangkut ke tangan Naya. Bener-bener nggak sengaja."
Hafasha menunduk dalam-dalam, tak sanggup lihat wajah Rean.
Rean menghela napas, lalu berkata tegas,
"Kalian berdua ikut gue ke BK."
Naya mendengus marah. Saat Rean berjalan duluan, ia sempat menatap Hafasha tajam.
"Urusan kita belum selesai, Hafasha DeAndra."
Ancaman itu membuat tubuh Hafasha membeku.
Ia berjalan keluar mengikuti Rean dan Naya, lalu berpapasan dengan Aini dan Zahra. Ia tersenyum kecil, mencoba menenangkan mereka-meski jelas-jelas ia ketakutan.
Andi dan Angga ikut berjalan di belakang mereka. Namun langkah Andi tertahan ketika Aini menarik lengannya.
"Gua... gua minta maaf, kak. Tadi refleks mukul dada. Gua cuma panik. Sorry," ucap Aini malu-malu.
Andi yang tadinya judes langsung berubah ramah. Ia menepuk kepala Aini lembut.
"Santai, adik manis."
Aini langsung melongo. Pipi merah. Mata membesar.
"Astaga... gue baper..." jeritnya dalam hati.
Zahra hanya menghela napas.
---
Di ruang BK, setelah mendengarkan kronologi lengkap, Pak Ilham mengetuk meja.
"Baik. Kalian berdua bersihkan toilet perempuan dua lantai. Selesai sebelum pelajaran terakhir. Jelas?"
"Baik, Pak..." jawab mereka lemah.
Hafasha menghela napas, dan tanpa sengaja ia menatap Rean.
Rean juga sedang menatap balik. Tatapan hitam legamnya sulit dibaca.
Hafasha buru-buru menunduk dan mengikuti Naya keluar untuk menjalankan hukuman.
Di koridor, langkah Rean yang tegas membuat suasana kelas seketika hening. Bahkan beberapa siswa yang sedang nongkrong pun langsung menunduk dan bergeser. Naya, yang semula penuh percaya diri, kini merasa sedikit terpojok.
Hafasha menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara takut dan lega—takut karena Rean yang menatapnya tajam, tapi lega karena Rean datang. Sekilas ia bisa merasakan tatapan Rean tidak hanya menakutkan, tapi juga penuh perhatian.
Rean menatap Naya dengan tatapan dingin, hampir tanpa emosi.
“Di depan gue, sekarang,” perintahnya pendek tapi mematikan.
Naya menggigit bibir, menahan amarah. Ia menatap ke arah Hafasha sebentar, seakan ingin berkata sesuatu, tapi tidak berani. Hafasha menunduk lebih dalam, tangannya terkepal. Ia ingin sekali meminta maaf, tapi kata-kata serasa tersangkut di tenggorokan.
Di luar, Aini dan Zahra menghela napas lega. Hafasha aman. Aini menepuk punggung Zahra perlahan, menenangkan diri sendiri.
“Gila, kak Rean itu... serem tapi keren ya...” gumam Aini pelan.
Di ruang BK, Pak Ilham menutup kronologi Hafasha-Naya dengan tegas. Hafasha menatap Rean dari samping. Tatapannya tak bisa lepas dari sosok laki-laki itu—hitam legam, tegas, tapi tetap menimbulkan rasa aman aneh di dadanya. Rean mengangkat alis, seakan menegaskan: “Tetap fokus, Hafasha.”
Hafasha buru-buru menunduk, pipinya memerah. Ada sesuatu yang membuatnya ingin menoleh lagi, tapi ia tahu bukan saatnya. Nafasnya bergetar pelan.
Naya, di sisi lain, merasa kesal sekaligus terintimidasi. Ia tak menyangka bahwa Rean—si most-wanted yang biasanya cuek—bisa sekuat itu menghadapi masalah ini. Ia menatap Hafasha sekali lagi, tapi tatapan itu kali ini lebih ingin menakut-nakuti daripada menyerang.
Hafasha menggenggam erat lengan Naya, memastikan mereka berjalan seiring, tapi tetap menjaga jarak dari Rean. Setiap langkah, tatapan Rean seperti menempel di belakang mereka, membuatnya sadar: Rean memperhatikan setiap gerakannya.
Di lorong, Andi tersenyum geli melihat Aini yang malu-malu.
“Lemah banget ya, adik manis,” katanya. Aini mengerutkan dahi, tapi tak bisa menahan senyum malu-malu.
Zahra hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, Rean sudah membuat situasi menjadi jelas—Hafasha aman, Naya tahu batasnya, dan semua yang menonton kini tahu siapa yang harus dihormati.
TBC..
Revisi : Minggu, 23 November 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Fiksi RemajaKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
