Rean termenung setelah membaca pesan panjang dari Andi yang mengabarkan bahwa Hafasha dilarikan ke rumah sakit. Entah kenapa dadanya langsung sesak—jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ukuran seseorang yang baru saja memenangkan olimpiade. Jemarinya refleks hendak membalas pesan itu, tetapi…
“Rean.”
Suara berat dan tegas itu menghentikan gerakannya.
“Papah tidak pernah mengajarkan kamu tidak sopan seperti ini. Letakkan ponselmu, sebelum Papah yang bertindak.”
Rean tersentak saat tangan besar Papah Alex mendarat di pundaknya. Barulah ingat: ia sedang duduk di sebuah restoran—dan bukan hanya bertiga. Di meja besar itu sudah ada keluarga Naya, minus Naya yang katanya masih di sekolah.
Rean ingin menolak ajakan makan ini sejak awal, tapi ia tahu timing-nya salah besar. Setelah upacara penghargaan, Rosita dan Alex mengajaknya ikut makan bersama keluarga sahabat lama mereka. Dan Rean tahu, sudah bisa menebak topik apa yang akan muncul.
Pertunangan.
Dirinya.
Naya.
“Lex,” Keenan—Ayah Naya—tertawa kecil, mencoba meredakan suasana.
“Nggak usah sekeras itu. Namanya juga anak laki-laki, pasti mau kabari teman-temannya. Lagi senang habis menang lomba.”
Atau kabari seseorang yang jauh lebih penting daripada itu.
Seseorang yang kini terbaring di rumah sakit.
Seseorang yang selalu jadi pusat perhatiannya tanpa ia sadari.
“Rean coba hubungi Naya, ya?” ujar Tante Nia lembut.
“Minta pulang lebih cepat. Jam segini dia harusnya sudah selesai sekolah.”
“Tidak, Tante,” jawab Rean cepat dan sopan.
Rosita menoleh ke suaminya. “Kalau begitu, tanggal pertunangannya kapan, Lex?”
“Kalau bisa secepatnya,” jawab Alex tanpa tedeng aling-aling. “Rean sudah mau lulus.”
“Pah,” Rosita menahan napas. “Rean tetap bisa kuliah kan?”
“Bisa. Ini hanya pertunangan. Nikahnya setelah mereka lulus S1.”
Nia langsung tampak berbinar. “Ih boleh banget tuh!”
Keenan kemudian beralih kepada Rean.
“Bagaimana menurutmu, Rean? Kamu setuju?”
Rean baru membuka mulut ketika sekali lagi Papah Alex mendahului.
“Dia setuju. Rean pasti setuju.”
Dan saat itulah satu kata muncul dari bibir Rean—bukan lantang, tapi jelas.
“Memuakkan.”
Tak ada yang mendengar kecuali dirinya sendiri.
---
Di Rumah Sakit
Hafasha yang sempat pingsan kini sudah sadar. Tubuhnya masih lemah, memar di pipi terlihat jelas, tetapi kondisinya sudah lebih baik. Geo menyodorkan segelas air hangat.
“Kak, minum dulu.”
Hafasha menyesap sedikit, sebelum dokter dan dua perawat masuk.
“Selamat sore. Bagaimana kabarmu?” tanya Dokter Zean.
“Alhamdulillah jauh lebih baik, hanya sedikit pusing.”
Setelah memastikan kondisinya stabil, dokter keluar. Hafasha menatap pintu yang tertutup, lalu menyengir kecil pada Geo.
“Dokternya ganteng banget, Geo… tapi masih gantengan Bang Rean.”
Geo hampir tersedak udara.
Tak lama Hafasha duduk di kursi tunggu, menunggu Geo mengambil obat. Ia tidak menyangka seseorang akan mendekat dan duduk tepat di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
TienerfictieKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
