HAPPY READING SAYANG.
Jangan lupa votenya di pencet ya!
Coment kalau ada typo atau mau Krisar juga gak apa-apa
Share juga ya, sembari dukung Abang Rean sampai ceritanya tamat!
Salam dari Bang Reano buat kamu!
muach!💅
•••
Naya berdiri di pintu café, napas naik-turun, menatap Hafasha dengan tatapan tajam penuh amarah. Orang-orang mulai memperhatikan, membatin bahwa ini pasti ada drama besar.
Hafasha membeku.
Rean langsung berdiri, wajahnya berubah dingin.
“Naya, jangan buat ribut,” ujar Rean pelan tapi tegas.
Naya mendekat, tumit sepatunya menghentak lantai. “Gue cuma mau nanya… ini maksudnya apa, Re? Duduk berdua sama dia? Di tempat umum pula?”
Rean malas meladeni. “Gue ngga wajib jelasin apa pun sama lu.”
Asha mencengkram roknya takut-takut. Naya mendelik.
“Dan lo!” Naya menunjuk tepat ke wajah Hafasha. “Lo pikir lo siapa? Baru juga jadi adik kelas, udah berani dekat-dekat Rean?”
Hafasha meremas roknya makin kuat, menunduk.
Rean melangkah dan berdiri di depan Asha, melindunginya. “Naya. Pergi.”
Naya terhenyak. “Serius lo lebih belain dia?”
Rean tidak menjawab. Tatapannya saja sudah cukup.
Naya tersenyum miring, pahit, lalu berbalik pergi sambil membanting pintu café. Pengunjung lain menghela napas lega.
Asha masih gemetaran. Rean menoleh padanya.
“Udah, jangan dipikirin.”
•••
Setelah Naya pergi dan suasana kembali tenang, Asha masih terdiam karena kata-kata Rean sebelumnya. Napasnya tersengal pelan, masih sulit menormal.
Rean meletakkan coklat-coklatnya di meja. “Asha? Lu denger gue?”
Hafasha kaget dan gelagapan, “A-Asha minta maaf kak… iya, itu Asha yang kasih. Maaf udah lancang.”
Nadanya menurun semakin kecil.
“Asha, janji nggak ulangi lagi!”
Tanpa sadar ia menyodorkan kelingking kecilnya ke Rean.
Rean mengangkat alis.
“Kalau Kak Rean nggak suka coklatnya, buang aja!” tambah Asha cepat.
“Kata siapa gue ngga suka?” Rean balik bertanya.
“Hah?”
Rean mencondongkan tubuh, menunjuk tumpukan coklat itu dengan dagunya.
“Gue suka. Makanya punya lu gue simpan. Sampai sebanyak ini.”
Asha langsung mematung. “J-jadi… Kak Rean nggak marah?”
“Enggak.”
“Syukur…” Asha menghembuskan napas lega.
Rean merapikan kembali coklat dan permen itu, lalu memasukkannya ke tas. Langit di luar sudah mulai gelap, gerimis turun tipis-tipis.
“Ayo, gue anter pulang. Keburu hujan deras.”
Asha mengangguk cepat. Mereka keluar café dan masuk ke mobil Rean.
Di perjalanan, hanya suara hujan yang terdengar. Sampai akhirnya Rean membuka suara.
“Besok… gue jemput lu di rumah. Mau?”
“Hah?” Asha hampir tersedak ludah sendiri. “Ngga perlu kak. Asha biasanya bareng adik kok…”
Dalam hati Asha langsung menjerit: KENAPA DITOLAK SIH?!
“Oh ya udah,” Rean tetap santai. “Kalau gitu pulang sekolah sama gue aja. Mau?”
Asha gelisah. “Asha… nggak bisa janji. Tapi kenapa Kak Rean pengen banget pulang sama Asha?”
“Ngga apa-apa,” jawab Rean pendek sambil fokus ke jalan.
Lima menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah Asha yang tampak gelap.
“Di rumah ada siapa?” tanya Rean.
Asha ikut melihat ke arah rumah. “Asha tinggal berdua sama adik. Kayanya dia belum pulang.”
“Nyokap bokap?”
“Mereka sudah di surga, kak.”
Rean langsung kikuk. “Eh… maaf.”
“Gak apa-apa. Eum… Kak Rean mau mampir?”
Begitu selesai bicara, Asha langsung membekap mulutnya sendiri. KENAPA AKU NGOMONG GITU?!
Rean menoleh perlahan, menatap Asha dari atas ke bawah.
“Lu… nawarin gue masuk rumah lu? Lu ga takut gue apa-apain?”
Wajah Asha langsung merah. “GAK! Maksudnya NGGAK kak—Asha salah ngomong! Lupain!”
Asha langsung kabur turun dari mobil.
Rean tertawa kecil, terhibur.
Setelah memastikan Asha masuk ke rumah dengan aman, Rean menancap gas kembali. Ada urusan lain menunggunya.
•••
MARKAS PHANTER
Di dalam rumah yang dijadikan markas, suara tawa dan ribut-ribut anak laki-laki memenuhi ruangan.
Andi, Fathan, Bryan, Vano, dan Farel duduk melingkar main kartu, sambil ngopi dan ngemil.
Kenzie duduk sendirian, headset terpasang, fokus mabar di ponsel.
Angga tertidur di sofa, tangan disilangkan di dada, menunggu.
Pintu terbuka.
Rean masuk.
Angga langsung bangkit. “Dari mana?”
“Nganter Hafasha pulang,” jawab Rean santai.
“ANJAYYYY!” Andi langsung teriak. “Babang Rean PDKT nih weyyy! Gila, ini sejarah cuy!”
Bryan digaplok Andi karena terlalu heboh. Farel sampai ngakak di lantai.
Rean cuek, lalu duduk di sebelah Kenzie. “Mabar sama siapa?”
Kenzie tanpa menoleh: “Manusia.”
“Jangan ditanya Re, dari tadi dia PMS,” celetuk Farel.
“Kenzie cowok ya anjing!” Vano lempar kulit kacang.
Rean menghembuskan napas, sebelum akhirnya Angga memanggilnya dengan nada serius.
“Rean.”
Rean mendongak. Angga duduk tepat di depannya. Yang lain otomatis berhenti bercanda.
“Turun ke arena balap.”
Semua orang langsung berhenti bernapas.
Kenzie menurunkan HP-nya.
Andi, Bryan, Fathan, Vano, dan Farel saling pandang.
Rean terdiam dua menit penuh.
Angga memperhatikan tanpa berkedip.
Hanya Rean satu-satunya yang bisa menanganinya. Angga belum pulih dari luka lama, dan kalau pun dia sembuh, dia pasti turun sendiri. Tapi sekarang… hanya Rean.
Akhirnya Rean membuka suara.
“Lawan siapa?”
Semua mata membelalak.
Rean sudah memberi lampu hijau.
Angga tersenyum tipis.
“Geovano Deandra Saputra.”
TBC...
R
evisi: Minggu 23 November 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Teen FictionKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
