Di toilet perempuan lantai satu, Hafasha sendirian. Naya tidak mengerjakan tugasnya dan malah pergi begitu saja, meninggalkan Hafasha membersihkan semuanya sendiri. Sejujurnya hari ini tubuhnya terasa remuk—semalam ia lembur kerja, dan sekarang masih harus menjalani hukuman begini. Belum lagi setelah pulang sekolah ia harus kembali bekerja.
Tapi tugas tetap tugas.
Aini dan Zahra sudah lebih dulu pulang karena jam pelajaran memang sudah selesai. Hafasha masih mengepel lantai, fokus pada gerakan tangannya, sampai tiba-tiba—brak!—pintu toilet terbuka keras.
Hafasha tersentak. Lebih kaget lagi ketika melihat siapa yang masuk.
Rean.
“K-kak Rean? A-ada apa?” suaranya bergetar.
“Dimana Naya?” tanya Rean, melangkah maju. Refleks Hafasha mundur, wajahnya panik. Ia buru-buru menggeleng.
“Ha-Hafasha nggak tau, kak.”
“Lu kenapa? Takut sama gua?”
Hafasha menarik napas pelan, sedikit mendongak. “Cu-cuma kaget, kak.”
“Tugas lu udah selesai. Lu bisa pulang.”
Rean memperhatikan Hafasha lama, mungkin menyadari gadis itu ketakutan setengah mati. Hafasha langsung membereskan alat kebersihan dan berjalan menuju pintu. Tapi sebelum ia keluar, suara Rean kembali terdengar.
“Asha. Pulang sama gua. Di luar hujan lebat.”
Rean keluar duluan, meninggalkan Hafasha terpaku di tempat.
“Asha?” Hafasha berkedip bingung. Siapa Asha? Aku?
°°°
Benar kata Rean—hujan sore ini sangat lebat. Mereka menunggu di koridor sampai hujan sedikit mereda. Rean berdiri di sampingnya, sementara Hafasha merapatkan lengan ke tubuhnya. Udara terasa menusuk dingin.
Rean, tanpa sadar, memperhatikan gadis kecil itu. Hafasha yang merasa diperhatikan akhirnya mendongak. Tinggi tubuhnya hanya sedada Rean, membuat ia harus menengadah jika ingin melihat wajahnya. Rean tertangkap basah sedang menatap; ia buru-buru mengalihkan pandangan ke langit yang masih gelap. Sekarang sudah pukul 16.00.
Ponsel Hafasha tiba-tiba berdering. Ia menatap Rean meminta izin. Rean mengangguk.
Sambungan telepon.
“Iya, kak?”
“Hari ini libur aja dulu kerjanya, hujan gede banget.”
“O-oh, iya kak… aku juga masih kejebak hujan di sekolah.”
“Ya udah, aku matiin ya.”
“Iya, makasih kak.”
Tut.
“Alhamdulillah…” gumamnya lega.
“Kenapa?” Rean bertanya.
“Eh, gak papa kak. Hehe… Cuma, kayaknya hujannya lama berhenti deh. Apa nggak sebaiknya kita pulang sekarang? Takut keburu gelap.”
“Dari sini ke parkiran jauh, Sha. Lu mau basah-basahan?”
“Eum… nggak papa, kak. Yang penting bisa cepat pulang. Di rumah, Adekku sendirian.”
Rean langsung melepas jaket yang ia pakai dan menyampirkannya ke tubuh Hafasha. Gadis itu mematung.
“Pa-pake… kalau lu nggak pake daleman, lu bisa keliatan,” ujar Rean datar.
Tanpa banyak bicara, Rean menarik tangan Hafasha dan mengajaknya berlari kecil sampai ke parkiran. Ia membuka pintu mobil milik Angga—entah kenapa hari ini Rean memilih meminjam mobil, bukan motor.
“Te-terima kasih, kak…” bisik Hafasha setelah duduk.
“Hm.” Rean merespons pendek.
“Eum… kak Rean, m-maaf… boleh matiin AC-nya?”
Rean langsung mematikannya dan menjalankan mobil. Sepanjang perjalanan hening, kecuali beberapa kali ketika Rean bertanya soal arah jalan.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di depan gang rumah Hafasha. Di sana, Geo sudah berdiri membawa payung. Hafasha melirik Rean.
“Saya pamit ya, kak. Makasih banyak tumpangannya.”
Rean tidak menjawab. Tidak menoleh juga. Hafasha turun, dan Rean langsung melajukan mobilnya pergi.
Geo mengambil tas kakaknya.
“Tadi itu kak Rean? Weh… keren amat calon kakak ipar Geo.”
“Ih apaan sih. Ayo ah masuk…”
°°°
“Widawww… yang habis dianterin ayangnya,” seru Andi begitu Rean masuk ke basecamp.
“Bacot. Angga mana?” tanya Rean malas.
“Tuh, udah tidur duluan. Biasalah anak ambis, kemarin begadang.” Andi duduk di samping Rean. “Gimana-gimana hari ini sama ayank? Hujan lagi, romantis banget gak tuh?”
“Apa sih, Ndi. Berisik.”
“Hahaha oke oke. Lanjut, gua mau nanya. Lu beneran nggak mau ikut balapan? Lu kan jago, Re! Serius deh, lu tuh udah ganteng, populer, ditaksir banyak cewek… masa nggak mau gabung? Padahal skill naik motor lu lebih bagus dari gua sama Angga.”
Sudah lebih dari seminggu Andi membujuknya. Tapi jawaban Rean tetap sama.
“Nggak mau.”
“Kenapa sih? Sayang banget…”
“Buang-buang waktu. Gua mending urus hidup gua dan belajar buat beasiswa.”
Rean sangat tidak suka gaya sok jagoan, apalagi kalau harus adu gengsi dengan Araski.
“Yah, gak asik lu. Tau ah, gua main game aja.” Andi mengambil handphone dan langsung fokus ke game-nya. Rean hanya melirik sebentar lalu merebahkan tubuh, tertidur di sofa.
°°°
Di rumah Hafasha, Aini dan Zahra sudah datang. Mereka penasaran setengah mati tentang kejadian kemarin. Hafasha akhirnya bercerita—dari Rean yang masuk toilet perempuan sampai mengantarnya pulang.
“Udah gitu doang? Gak asik amat. Khayalan gua malah lu dibawa kabur sama kak Rean gitu, kayak di novel,” celetuk Aini.
Zahra nyemil ciki sambil mengangguk datar.
“Ngaco! Kayak gitu aja aku udah tremor, mana sempet halu jauh-jauh.”
“Ya sapa tau haluan gua bener,” Aini cengengesan makin keras. Zahra menatapnya horor. “Berisik, Njir.”
Tiba-tiba Geo muncul dengan pakaian yang rapi. Hafasha mengerutkan kening.
“Kak, Geo izin main bentar. Nanti pulang, paling nggak lama.”
“Mau kemana?”
“Main.”
“Iya, kemana?”
“Rahasia.”
To be continued...
Revisi. : Minggu 23 November 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Ficção AdolescenteKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
