"Selamat pagi, Bi Inah!" Rean menyapa sambil menuruni tangga, helm hitam kesayangannya sudah tergantung di tangan.
"Pagi, Den. Ayo sarapan dulu," ujar Bi Inah sambil menyiapkan piring.
Rean duduk dan mulai makan. Dari tadi, wajahnya susah disembunyikan: lebih segar dari biasanya, bahkan wangi parfumnya kerasa banget.
"Kayaknya hari ini Aden lagi senang, ya? Cerita dong sama Bibi," goda Bi Inah sambil terkekeh.
"Biasalah Bi… anak muda," jawab Rean singkat. Tapi pipinya yang naik turun karena menahan senyum malah menjawab lebih dulu.
"Ceweknya pasti cantik. Kapan-kapan ajak ke sini, biar Bibi ada temen ngobrol," katanya lagi, kali ini sambil melihat dua kuping Rean yang sudah merah.
"Kapan-kapan Rean bawa. Sekarang lagi nyoba PDKT dulu. Doain ya, Bi—semoga berhasil!"
"Udah pasti, Den. Bibi mah doain yang terbaik."
Lima menit kemudian, Rean sudah selesai sarapan. Ia menyalami Bi Inah dan keluar untuk memanaskan motor. Dari jam lima subuh dia sudah bangun, padahal biasanya baru setengah tujuh. Begini, ya, rasanya jatuh cinta?
---
Sepuluh menit kemudian, Rean sudah berhenti di depan pagar rumah Hafasha. Ia mengirim pesan singkat, dan tak lama—pagar terbuka. Hafasha muncul dengan seragam yang sama dengannya, kali ini memakai jaket.
"Pagi, Kak Rean!" sapa Hafasha.
"Pagi juga, Asha. Ayo naik."
Hafasha tersenyum malu lalu naik ke jok motor Ninja Rean. Sepanjang jalan, Rean beberapa kali melihat ke kaca spion. Pipinya… merah. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.
Sementara itu, Hafasha sibuk menenangkan dirinya sendiri. Semalaman ia hampir tidak tidur. Memikirkan hal yang sama berulang-ulang: *benarkah ini nyata?* Reano—kakak senior yang dia kagumi sejak masa MOS—mengajaknya berangkat bareng? Tanpa harus Hafasha yang ngejar dulu? Ya Tuhan…
Ingatan masa MOS itu kembali.
"Perkenalkan, nama saya Reano Abazar, Ketua OSIS SMA Galaksi."
Suaranya tegas. Semua anggota OSIS berjejer rapi di depan murid baru. Banyak yang bersorak memuji ketampanan Reano.
"Hafasha!" panggil Aini waktu itu.
"Apa?"
"Liat deh! Kak Rean sama Kak Angga ganteng banget! Untung gue sekolah di sini!" Aini sampai menggebu-gebu.
Tapi Hafasha hanya fokus pada satu: Reano. Dan entah kebetulan atau tidak, Reano tiba-tiba menatap balik. Mata mereka bertemu. Sekian detik saja sudah cukup membuat Hafasha panik bukan main.
Sejak itu, Hafasha sering memberi coklat dan permen untuk Reano. Saat membuka loker Rean, ia selalu menemukan banyak coklat dan surat dari gadis lain. Syukurlah—kalau ketahuan, dia nggak sendirian.
Namun tanpa ia sadari, ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh… dan menyeringai.
---
Motor Rean berhenti di parkiran sekolah. Hafasha yang sedari tadi melamun kaget.
"Eh? U-udah sampai?" Hafasha buru-buru turun. "Maaf Kak Rean, Asha bengong…"
"Hahaha, nggak apa-apa. Baru nyampe kok. Emang ngelamunin apa sih?" Rean melepas helmnya, berdiri tepat di depan Hafasha.
"B-bukan apa-apa. A-ayo kak, bel masuk sebentar lagi..." Hafasha salah tingkah, memilih cepat-cepat jalan.
"Hei," panggil Rean. "Pelan aja. Masih ada lima belas menit."
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Novela JuvenilKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
