Happy reading sayang!
•••
Kini anggota inti PANTHER tengah beristirahat di kantin. Mereka punya tempat khusus untuk berkumpul. Tidak ada satu pun yang berani duduk di tempat yang sudah diklaim Angga, sang ketua geng. Kantin hari ini pun cukup ramai, tidak seperti biasanya.
"Pada mau pesan apa?" tanya Farel.
"Samain aja semuanya," ujar Bryan.
"Oke."
"Re, kapan mau latihan? Balapannya tinggal seminggu lagi," kata Angga.
Ya, balapan melawan Geo—anggota DARK BLOOD—akan diadakan seminggu lagi. Rean belum latihan sama sekali, walau sebenarnya itu tidak perlu. Dia sudah jauh lebih jago dalam bermain motor.
"Besok. Mumpung libur," jawab Rean santai.
"Eh, eh, lihat itu!" Fathan menunjuk ke arah gerombolan anak perempuan. Sepertinya ada keributan di sana.
Dari arah itu terdengar desas-desus:
"Hafasha kayaknya sial terus deh. Udah berapa kali dalam sebulan ini dia kena bully Naya."
"Iya, kasihan. Kak Zahra juga nggak kelihatan. Kalau ada dia, pasti nggak ada yang berani nyentuh Hafasha."
"Menurut gua, Hafasha nggak bakal bisa tenang sekolah di sini. Kalian tahu kan siapa Naya Elara Rania? Orang tuanya donatur sekolah ini."
"Huum, gua tahu. Dan gua juga tahu kenapa Hafasha dibully Kak Naya."
"Kenapa?" tanya siswi pertama.
"Hafasha berhasil ngambil perhatian kak Rean!"
Rean mengerjap. Jadi yang di depan sana… Hafasha?
Tanpa pikir panjang Rean langsung bangkit.
---
"Kak Naya! Sakit, lepasin!"
Hafasha mencoba melepaskan tangan Naya yang menarik rambutnya keras-keras. Sakit. Sangat.
Semua orang di kantin hanya memperhatikan tanpa membantu. Aini pun tidak ada karena sedang malas ke kantin dan menitip makanan pada Hafasha.
Ternyata sejak tadi Naya sudah menunggunya. Baru saja Hafasha datang membawa makanan, Naya dan antek-anteknya muncul dari belakang.
Belum sempat bicara apa-apa, rambut Hafasha langsung ditarik kasar.
"Gua udah bilang, jangan caper ke Rean! Lu nggak ngerti bahasa manusia, hah?!"
Air mata Hafasha menetes. Ia memejamkan mata erat.
Dia datang ke SMA Galaksi untuk sekolah, bukan untuk ribut. Ia pikir setelah pindah sekolah hidupnya akan tenang, tapi dugaan itu salah besar.
Hafasha memang sesekali memperhatikan Rean, tapi yang mendekatinya adalah Reano… bukan dirinya.
"Lu tuli?! Jawab gua, anjir! Udah beberapa kali gua lihat lu dekat bahkan pulang bareng sama Rean! Maksud lu apa, hah?!"
Mata Naya memerah—bukan karena menangis, tapi karena marah.
Sella dan Violet hanya menatap tanpa ekspresi, menganggap ini masalah kecil.
Berbeda dengan Keana yang sejak kemarin sudah menolak keras tindakan Naya. Sebenci itu Naya pada Hafasha yang bahkan tidak pernah mengganggunya.
Keributan itu tiba-tiba hening. Suasananya berubah dingin.
Naya yang masih menarik rambut Hafasha menoleh ke sekeliling, lalu terkejut ketika melihat seseorang.
Ia langsung melepaskan rambut Hafasha.
Dari kejauhan terdengar suara keras:
"ASHA!"
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Ficção AdolescenteKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
