14. Ketahuan

14.2K 2K 3
                                        

Seorang perempuan yang baru saja membuat kehebohan dengan aksi yang baru saja dia lakukan, saat ini sedang sibuk mengecek semua sakunya.

Hansa menyetir mobil dengan kecepatan rata-rata, mengutamakan keselamatan. Zea membuka laci dashboard dan tidak menemukannya.

"Nona, apakah anda tidak mengobati tangan anda dulu?" Hansa meringis melihat darah yang terus-menerus keluar tapi tidak diperhatikan noleh pemiliknya.

Zea mendelik kesal ke arah pria di sampingnya. "Saya sedang mencari sapu tangan, apakah anda melihatnya?"

"Sapu tangan? Saya rasa ada di saku jaket saya, sebentar." Hansa mengalihkan kemudinya ke tangan lain dan merogoh sakunya. Hansa menyodorkan sebuah sapu tangan dan bertanya. "Apakah yang ini?"

Zea mendesah kesal melihat sapu tangan yang dia cari dari tadi ternyata ada di jaket Hansa, dia langsung menyambar sapu tangan tersebut. Dia meletakkan sapu tangan di bawah tangannya dan melilitkannya ke bagian yang terluka, setidaknya ini bisa memperlambat darah untuk sementara waktu.

Zea menyadarkan kepalanya dengan malas lalu memejamkan mata dan berkata. "Kembali."

"Ya." Balas Hansa, dalam hatinya dia masih terkejut dengan kejadian yang terjadi tepat di depan matanya, tapi dia harus beradaptasi dengan cepat dan tidak bisa bersikap seperti ini.

Mereka tidak mengambil misi sama sekali, nonanya langsung mengajak dia kembali setelah selesai menikam orang itu. Sangat banyak yang menyaksikan kejadian tersebut karena sudah memasuki waktu teramai, Hansa yakin nonanya akan menjadi topik terpanas di sana.

Mayat orang itu? Dibiarkan tergeletak mengenaskan oleh perempuan di sampingnya. Tapi dia tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh nonanya, jelas nonanya bisa menghindari belati tersebut tapi dia memilih menggenggamnya.

Walaupun tidak berteriak kesakitan paling tidak, ada raut ekspresi yang menunjukkan keadaan yang seharusnya, dan wanita pada umumnya akan bereaksi seperti itu. Tidak, nonanya tidak bisa disamakan dengan wanita pada umumnya.

__-__-__-__-__

Setengah jam sudah terbuang di perjalanan, mereka akan sampai dalam beberapa menit. Hansa menaikkan kecepatan mobil, hatinya semakin khawatir nonanya akan pingsan karena kekurangan darah.

Menolehkan kepalanya untuk melihat kondisi perempuan di sampingnya, dia semakin khawatir lantaran nonanya tidak membuka mata ataupun bicara padanya selama perjalanan.

Hansa melajukan mobil ke parkiran bawah tanah dan memarkirkan mobil dengan mantap, membuka seat belt miliknya.

"Nona, kita sudah sampai." Panggil Hansa dengan pelan, sebenarnya dia ingin pergi ke rumah sakit tapi tidak bisa karena tidak ada perintah untuk itu.

Zea membuka matanya, memperbaiki posisi duduknya dan berkata. "Keluar dan periksa sekitar."

Hansa menghela napas lega dan keluar sesuai perintah. Ketika Hansa keluar, Zea menundukkan kepalanya dan melihat sapu tangan yang dia pakai untuk membalut luka sudah basah dengan darahnya, warna asli sapu tangan yang awalnya bewarna putih sudah tidak terlihat sama sekali dan digantikan dengan warna merah darah, yang menurutnya itu indah.

Suara ketukan dari jendela membuatnya menoleh, Zea menurunkan jendela mobil dan bertanya. "Bagaimana? Apakah ada orang lain?"

Zea tau dengan baik tubuhnya penuh dengan aroma darah dan menarik perhatian orang lain adalah masalah yang tidak perlu.

"Tidak, itu bersih." ucap Hansa membalas pertanyaan yang di arahkan pada dirinya. Zea membuka pintu dan turun dari mobil. Hansa berdiri di sisinya seperti berjaga-jaga melihat Zea turun, dia takut nonanya akan langsung jatuh ketika berdiri.

Ketika dia melihat cara berjalan nonanya seperti biasa. Dia terdiam sejenak dan langsung menyusulnya.

Zea kembali menyandarkan kepalanya di dinding dan menutup mata saat berada di lift dan Hansa dengan baik hati menawarkan. "Nona atau kita pergi ke rumah sakit sekarang?"

Zea mengerutkan kening saat mendengar perkataan Hansa. "Apa yang akan kita lakukan di rumah sakit dengan luka sekecil ini?"

Hansa yang ingin kembali membujuk menelan kembali kata-katanya. Zea keluar dan memimpin jalan saat lift sudah mencapai lantai apartemen miliknya, dia menundukkan kepala ketika sadar darahnya berceceran di lantai yang dia lewati.

Dia mengangkat bahunya tidak peduli dan kembali melanjutkan langkah yang sempat dia hentikan.

Deg!

Zea membeku di tempat saat pandangannya melihat tepat ke depan pintu apartemen miliknya, dia tanpa sadar menyembunyikan tangan yang terluka di balik punggungnya.

__-__-__-__-__

Seorang pria mengerjakan semua berkas rumit dengan suasana hati yang ceria, tidak biasanya dia seperti itu. Membalik kertas demi kertas dan membacanya dengan seksama lalu menandatangani berkas tersebut dan menyimpannya di tumpukan berkas yang berada di sudut meja.


Lembur sampai pagi adalah kebiasaan rutin yang dia lakukan tapi tidak untuk sekarang, dia menutup berkas yang dia baca dan mengambil jas yang digantung di sudut ruangan.

Berjalan dengan cepat seakan mengejar waktu yang tertinggal, Emilio masuk ke dalam mobil dan meninggalkan perusahaan menuju apartemen perempuan yang sudah menjadi kekasihnya.

Menekan bel berkali-kali tapi tidak ada sautan apapun dari dalam dan bergumam. "Apakah dia sudah tidur?"

Dia menyesal, kenapa dia tidak datang lebih awal? Sekarang gadisnya sudah tidur dan dia tidak bisa menemuinya hari ini. Baiklah, kembali lebih awal besok.

Emilio melirik pintu sekali lagi dengan harapan pintu di depannya tiba-tiba terbuka tapi tidak ada, dia menghela napas dan memutuskan untuk kembali dulu. Emilio menghentikan langkahnya ketika mencium aroma darah dan kewaspadaan di matanya meningkat.

Mengambil pistol yang dia simpan di saku dalam jas dan dengan perlahan berjalan ke arah sumber darah tersebut, mengandalkan penciuman tajam yang dia miliki.

Belum dua langkah dia berjalan dia melihat dua sosok yang berjalan keluar dari lift, dia merasa familiar ketika melihat postur tubuh orang yang berjalan di depan dan menurunkan pistol untuk memastikan.

"Sayang?" Sangat jelas Emilio melihat tubuh wanita itu membeku, mengkonfirmasi pertanyaan barusan.

Emilio berjalan cepat ke arah Zea dan bertanya dengan cemas. "Kamu terluka?"

Tidak itu bukan pertanyaan tetapi pernyataan, aroma darah yang dia rasakan tadi harus berasal dari gadisnya. Berpikir seperti itu jantungnya berdegup kencang, merasa gelisah.


Zea berusaha santai. "Aku rasa iya, tapi itu hanya luka kecil, jangan khawatir."

Emilio sadar akan gerakan kecil yang dilakukan di depan matanya, dengan suara tegas dia berkata. "Tunjukkan tanganmu padaku!"

To be continued

Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih.

See you next time

15 Juni 21

REVISI: 18 Juli 22

WHY AM I HERE [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang