6. Satu hari

21.5K 2.5K 5
                                        

Zea turun dari mobil yang di naikinya bersama Emilio, Zea merasakan berbagai emosi mulai menyusupi dirinya dan tubuhnya mulai mendingin. Tubuhnya perlahan bergetar karena berusaha menahan semua emosi agar tidak meluap.

Emilio mengerutkan kening melihat tubuh gadis di depannya bergetar. Dia maju meraih tangan gadis tersebut dan hatinya terkejut saat merasakan suhu tangannya.

Emilio tidak bertanya, hanya mengusap punggung tangan gadisnya berharap membantunya kembali ke suhu normal.

Zea merasa tenang tapi memori saat itu tidak bisa hilang dan terus melewati ingatannya, tapi di saat yang sama dia menyukai tindakan Emilio. Menarik nafas dalam-dalam beberapa kali barulah dia bisa menghentikan semua ingatan.

"Tunggu aku sebentar di sini, oke?" Zea tanpa sadar mulai mengubah gaya bicaranya dengan Emilio.

"Ya."

Zea maju ke pinggir tebing tempat terakhir sebelum dia datang ke dunia ini. Melihat ke bawah dan hanya menemukan jurang yang tidak ada batasnya, penglihatan terjauhnya hanya menemukan warna hitam pekat dan tidak menemukan dasar.

Hal apa yang membuat dirinya datang ke dunia ini? Ini sangat tidak ilmiah dan tidak dapat di jelaskan mengenai keberadaan dan hal-hal seperti ini.

Memasuki raga seseorang? Jika dia menceritakan ini kepada orang lain, mereka hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia gila. Dia pasti juga akan bertindak seperti itu jika hal ini tidak terjadi dengan dirinya.

Sebenarnya dia tidak ingin mengenang sesuatu dari kehidupan sebelumnya tapi dia hanya ingin memastikan apakah ada sesuatu yang membawa dirinya kesini?

Dia tidak bisa begitu saja berada di sini, kan? Bagaimanapun kesempatan seperti pindah dimensi setelah meninggal itu benar-benar terlalu langka.

Benar!

Saat itu dia melompat ke tebing, jelas-jelas dia hanya memegang token penerus di tangannya dan tidak membawa apapun lagi. Sudut bibirnya berkedut, tapi saat sampai di sini dia tidak menemukan tokennya sama sekali.

Zea ingat waktu dia mewarisi token tersebut dari tuannya. Tuannya berkata jika token ini akan menyelamatkan hidupnya, saat hidupnya terancam bahaya.

Zea terhanyut dengan pikiran dan membuat Emilio berjalan maju menghampirinya. Berapa banyak rahasia yang di miliki oleh gadisnya?
Mengambil pinggang ramping di tangannya, Zea tersentak dan melihat ke samping.

"Apakah sudah selesai?" Tanya Emilio datar tapi jika di dengar dengan seksama pria itu mencoba untuk melembutkan suaranya. Zea mengerti maksudnya dan hatinya menghangat.

"Aku sudah selesai, ayo pergi."

Zea melepaskan tangan yang ada di pinggang dan mengalihkannya ke tangan kecilnya. Dia merasa ketika lengan pria itu merangkulnya, tubuhnya akan terasa kaku. Lebih baik memegang tangannya yang tidak terlalu berefek pada tubuhnya.

Emilio menatap tangan kecil yang berada di genggamannya dan memegangnya lebih erat.

Emilio mengendarai mobil Zea kembali ke arah kota. "Kemana selanjutnya?"

Zea melihat jam di tangannya yang menunjuk pukul satu dan menimbang bahwa dia belum makan.

"Sudah siang, aku belum makan."

"Kalau begitu makan dulu."

Emilio memarkirkan mobil di depan restoran Tian Xin, restoran ini sangat elegan dan Zea berani bertaruh sekali makan di sini pasti menghabiskan penghasilan satu tahun penghasilan orang menengah.

Emilio menarik tangan Zea dan memasuki restoran.

Walupun Zea dulu adalah penerus organisasi tapi dia menghabiskan waktu dengan misi dan jarang mempunyai waktu untuk bersantai.

Emilio lagi dan lagi melihat gadis di sampingnya melamun, sebenarnya dia sedikit tidak nyaman akan hal itu. Bukannya apa, Emilio hanya takut keberadaan dirinya tidak dianggap oleh gadis ini.

Tidak, tidak boleh. Dia harus berusaha lebih keras dan membuat gadisnya nyaman sampai ke titik dimana gadisnya tidak bisa berpisah dengannya.

Zea mengawasi sekitar dan menemukan sedikit keanehan, semua pelayan di sini tampaknya mengetahui seni bela diri dan itu tidak rendah.

Restoran ini tidak sederhana, bahkan penjaga pintu kecil di depan sana memiliki keterampilan bela diri yang tidak rendah. Sepertinya dia tidak bisa menyinggung orang di belakang restoran ini.

Di kehidupan sebelumnya, sangat sulit menemukan bakat alami untuk mengolah seni bela diri sampai ke tahap tinggi tapi di sini, di restoran ini dia menemukan orang dengan bakat alami yang tak terhitung jumlahnya.

Menemukannya saja sulit apalagi mencari yang setia. Tapi di sini dia menemukannya.

Rasa kagum dan hormat muncul di mata Zea, tuan mereka ini benar-benar harus di apresiasi mampu menundukkan orang-orang seperti ini. Tapi, untuk kebutuhan apa restoran ini menempatkan orang dengan seni bela diri tinggi, itu bukan urusannya.

Emilio membawanya ke ruang pribadi. Zea memesan beberapa makanan yang agak familiar dengannya.

Jangan salahkan dirinya karena hanya mengetahui sedikit masakan. Dulu, dia hanya makan makanan yang sama setiap hari. Ini tidak seperti dia tidak punya uang tapi dia terlalu malas untuk memilih dan hanya memilih makanan yang sama setiap hari.

Pelayan menunggu dengan hormat di samping meja menyatat semua makanan yang di pesan. "--Dan aku ingin satu gelas jeruk hangat. Kamu ingin apa?"

"Sama kan saja." jawab Emilio.

"Baik kami akan menghidangkannya sebentar lagi, tuan dan nona harap menyesuaikan diri." lalu pelayan itu pergi.

Mata Zea sangat tajam, jelas dia menangkap ekspresi tertegun dan terkejut melintas di mata pelayan barusan saat dia memanggil lelaki di depannya dengan nada santai.

Restoran Tian Xin?

Dia ingat itu.

To be continued

Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih.

See you next time

24 Mei 21

REVISI: 24 JUNI 22

WHY AM I HERE [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang