5. Masuk Jebakan

22.9K 2.7K 9
                                        

Kegembiraan yang tidak diketahui meluap di hatinya, apakah begini rasanya dimanjakan? Sangat menyenangkan.

"Jadi, yang mana yang kamu inginkan?" Tanya Emilio.

"Saya ingin melihat-lihat dulu."

Zea ingin melihat apakah komputer di sini sama dengan kehidupannya yang sebelumnya. Dia ingat benda ataupun bangunan dunia novel ini persis sama dengan dunia miliknya hanya nama dan orang-orang nya saja yang berubah.

Dan di novel tidak ada penyebutan tentang komputer sama sekali jadi seharusnya itu harus sama persis dengan miliknya yang sebelumnya.

Jika orang-orang di novel sama dengan di kehidupan sebelumnya, tidak diragukan lagi hal pertama yang akan dia lakukan adalah balas dendam. Tapi sayangnya, hal tersebut tidak sesuai dengan ekspektasinya karena orang di novel ini juga berbeda dengan sebelumnya.

Zea melihat semua komputer dan dia tidak hanya melihat tetapi mengotak-atik dalamnya dan mengembalikannya seperti semula. Ingin mengidentifikasi apakah komputer ini sama dengan miliknya dulu.

Pemilik tempat ingin menegurnya tapi dia tidak bisa karena ada keberadaan yang tidak bisa dia singgung disini.

Emilio terpana dengan kemampuan Zea, dia pikir gadis ini ingin membeli komputer hanya untuk kepuasan hatinya tapi ternyata dia benar-benar memiliki kemampuan.

Lihat! Gerakan tangannya sangat cepat, gesit, dan halus.

"Bagaimana dengan itu? Yang mana yang kamu suka?" Tanya Emilio sambil mendekati tempat Zea.

Zea tidak menjawab dan terus fokus dengan komputer didepannya.
Emilio diam dan terus mengawasi setiap gerakannya. Setelah lama mengotak-atik semua komputer yang berada di sana. Zea memilih beberapa yang cocok dengan keinginannya.

"Mil." Panggil Zea.

Emilio terdiam. Suara ini, panggilan ini, sangat bagus. Dia ingin mendengarnya setiap hari. Emilio langsung sadar dan dia tidak akan membiarkan orang lain tau atau imagenya akan hancur hanya karena dia melamun mendengar suara gadisnya.

Emilio berdehem sebagai jawaban dan melihat dengan ekspresi bertanya.

"Saya sudah selesai, ini adalah yang ingin saya beli. Bisa tolong panggilkan pemilik tempat untuk menjumlahkan semuanya dan masih ada beberapa yang saya inginkan tapi tidak ada di sini."

Zea tanpa sadar mengandalkan Emilio untuk urusannya sendiri. Dia melihat-lihat sekitar, takut ada yang dia lewatkan.

"Ya." jawab Emilio dan langsung memanggil pemilik tempat dan menyerahkannya kepada Zea. Bawahannya yang sedang menjaga tepat di depan pintu tercengang mengetahui tuan mereka disuruh, Itu adalah hal yang sangat-sangat langka.

Zea membeli komputer yang dia inginkan serta memberitahu pemilik tempat beberapa komputer yang tidak ada disini, dia memilih untuk memesan terlebih dahulu dan menunggu.

Sekarang dia memiliki delapan komputer dan yang di pesannya ada empat komputer lagi. Dia berencana untuk membuat satu ruangan di apartemennya mirip dengan ruangan pribadinya dulu.

"Tunggu sebentar." Zea menggali ke dalam tas yang di bawanya bermaksud mengambil kartu untuk membayar semua tagihan.

"Ambil ini." Suara tanpa emosi di arahkan kepada pria di depannya . Dia menyerahkan kartu miliknya tanpa menunggu persetujuan dari Zea, pemilik tempat langsung mengambil kartu tersebut.

"Saya tidak meminta anda untuk membayar, lalu kenapa anda membayarnya?"

Zea melihat orang di depannya ini dengan santai mengeluarkan sejumlah uang besar hanya untuk orang yang dia temui bahkan belum ada sehari. Walaupun dia sangat kaya tapi jangan membuang uang untuk orang tidak dia kenal dengan baik.

"Tidak apa-apa, aku menginginkannya. Jika kamu masih tidak mau bagaimana dengan ini, kamu bisa membayarnya kembali dengan waktu yang kamu punya hari ini?" Tawar Emilio.

"Dengan begitu kita impas?" Tanya Zea dengan cepat.

Dia tidak memikirkan arti dibalik perkataan Emilio, yang dia pikirkan hanya untuk menjadi impas dan tidak saling berhutang. Dia paling tidak suka berhutang dengan seseorang, karena itu saat ini dia hanya memperhatikan hal yang dapat membuat mereka impas.

"Ya, kita impas." Emilio Senang mengetahui Zea tidak menyadari arti di balik perkataannya.

"Baiklah, saya terima." Zea menerimanya dengan cepat.

Emilio tersenyum dan mengambil tangan gadis di depannya dan membawanya keluar dari sana.

Zea memikirkan kembali percakapan terakhir mereka barusan dan dia tercengang, ternyata dia masuk dalam jebakan dan dia tidak menyadarinya sama sekali.

Apa ini?

Dia biasanya sangat waspada.

Kenapa sekarang dia dengan mudah masuk dalam skema pria ini? Apakah kemampuannya menurun sejak dia berpindah kesini?

Sudah hampir satu bulan dia berpindah ke dunia ini. Dia tidak mempunyai orang-orangnya sendiri, lebih tepatnya belum. Mungkin dia akan mengikuti arus hidupnya dan menentukan hal-hal yang di perlukan.

Emilio meminta gadis itu memimpin ke arah mobilnya, Dia tidak ingin di ganggu bawahannya saat sedang bersama Zea.

Emilio berbalik dan mengulurkan tangan. "Kunci?"

Zea otomatis merogoh tas dan mengambil kunci mobil kemudian secara alami menyerahkan kepada pria di depannya.

Emilio membukakan pintu dan mempersilahkan Zea masuk dan kemudian dia duduk di bangku kemudi. "Apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"

Zea mengangkat kepalanya dan menatap manik mata pria di depannya.

Memikirkan tempat yang ingin dia kunjungi, tiba-tiba dia memikirkan satu tempat dan ingin pergi ke sana untuk membuang semua masa lalu tentang pengkhianatan yang pernah dia alami di masa lalu.

"Saya ingin pergi ke black valley cliffs."

To be continued

Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih.

See you next time

23 Mei 21

REVISI: 25 April 2022

WHY AM I HERE [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang