18. Antara Mereka

13.6K 1.9K 1
                                        

"Duduk."

Seorang pria menaati perintah tersebut dan duduk tepat di hadapan Emilio.

"Kenapa kamu menyuruhku datang?"

Emilio tidak menjawab, sebagian wajahnya berada di kegelapan. Sepasang netra gelap menatap dengan tajam seperti elang yang mengawasi mangsa miliknya.

Affandra merasa lehernya seperti tercekik dengan tatapan tajam itu, udara dingin menyusupi dirinya dengan perlahan dari segala arah. Tidak ada yang berbicara, suasana mencekam yang berasal Emilio mampu membuat siapa pun tertunduk patuh padanya.

Affandra memilih diam, semua orang yang melihat keadaan Emilio saat ini pasti akan tau bahwa dia sekarang sedang dalam suasana hati buruk. Lebih baik diam daripada berbicara, Emilio yang berada dalam suasana hati buruk sama seperti bom waktu.

"Apakah anda menyadari kesalahan anda?"

Ekspresi Affandra bertambah rumit ketika mendengar nada formal Emilio, sudah dipastikan Emilio sedang marah saat ini. Satu hal jika ingin mengetahui Emilio marah, cermati apakah dia berbicara formal atau tidak, jika iya berarti dia dalam keadaan marah kemudian pada saat itu habislah diri anda.

Ini hanya berlaku untuk orang yang sudah dekat dengan Emilio, jika tidak dekat jangan harap anda bisa memahami emosi seorang Emilio. Otak Affandra berpikir cepat dan mengingat kesalahan apa yang pernah dia lakukan baru-baru ini

Dengan nada hati-hati, Affandra berusaha menjawab. "Aku rasa, aku tidak melakukan sesuatu yang salah baru-baru ini."

Bang!

Dengan wajah yang tidak berubah sama sekali Emilio menendang meja di depannya ketika mendengar balasan dari pria yang sedang berjengit kaget di depannya.

"Pikirkan baik-baik sebelum berbicara."

Affandra merasa takut sekarang, walaupun mereka adalah sahabat tidak dapat dipungkiri Emilio tetap menjadi orang yang paling dia takuti.
Hening kembali melanda, tidak ada yang berbicara. Detak jarum jam terdengar membuat Affandra semakin berkeringat dingin.

Dia benar-benar tidak tahu apa salahnya!

Tapi jika dia mengatakan lagi bahwa dia tidak tahu, dipastikan ada benda melayang ke arahnya. Beberapa menit berlalu dengan kesunyian yang bisa di pastikan akan membekas di alam bawah sadar Affandra.

"Katakan sekarang!" Emilio menyipitkan matanya tidak sabar, jika di depannya sekarang adalah orang lain, dia akan akan langsung membantainya di tempat.

"Aku benar-benar tidak--"

Emilio kembali menendang meja yang sudah menjadi korbannya dan wajahnya bertambah gelap. "Anda tahu jawaban apa yang saya inginkan."

"Hei, apa yang terjadi di sini?" Seorang pria berada di pintu melihat kekacauan yang disebabkan oleh Emilio.

Emilio melirik dingin pria tersebut dan bertanya. "Siapa yang menyuruhmu datang kemari?"

"Tidak ada." ketika Affandra mendengar balasan tersebut dia langsung menghela napas lega.

Pasalnya, yang menyuruh pria itu datang adalah dia. Sebelum datang kemari dia sudah merasakan perasaan yang tidak enak jadi dia menelpon pria itu untuk datang.

"Ettan, keluar." Titah Emilio.

"Tidak, aku tidak mungkin membiarkan kalian bertengkar seperti ini." Balas Ettan.

Emilio menoleh dan menatap Ettan dengan tenang lalu berkata. "Anda sahabat saya, tapi jangan lupa anda adalah tangan kanan saya."

Ettan Ivander, sahabat sekaligus tangan kanan Emilio.

WHY AM I HERE [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang