Chapter 34: Dingin

661 57 17
                                        








Moshi moshi^^

Kita opsih dulu yu, disini banyak debu.g

Happy reading readers-chan>\\\\<

.

.

.

"Apa kau bilang?"

"Ahahh tidak tidak." Cup. Erwin mengecup kening (Y/N). Dan mereka kembali tertidur.

Sudah pukul 06.00 tapi mereka belum juga bangun. Cuaca di Paradise cukup dingin, (Y/N) mulai mengambil alih seluruh selimut yang menyelimuti Erwin. Erwin yang merasa kedinginan berbalik badan dan menarik selimutnya dan (Y/N) kembali menarik selimutnya. Erwin menghela nafas kemudian bangun.

Erwin menyelimuti sekujur tubuh (Y/N) dengan selimut. Dan ia beranjak dari tempat tidur dan segera menyegarkan badan dengan mandi.

Di depan cermin kamar mandi ia  melihat dan meraba wajah nya. "Warna ungu nya sudah mulai pudar, tapi bengkak nya masih terlihat, apalagi di bagian mata. Hmm dasar Nile." Gumam nya.

Air dingin mulai mengalir dari atas kepala hingga ujung kaki. Rasa dingin itu sampai terasa seperti menusuk ke tulang. "Ini dingin sekali, tak seperti biasanya. Tapi jika aku mandi bersama (Y/N) mungkin tak akan sedingin ini ahahaha. Arghh bicara apa aku ini."

Sekarang Erwin telah selesai mandi dan berpakaian, kini ia tengah menyiapkan sarapan. Dan tentu saja (Y/N) masih tertidur.

Bau harum roti tercium ke seluruh penjuru ruangan. Tadi seorang bawahannya mengirim Erwin roti, teh dan lainnya untuk keperluan sehari-hari. Lalu ia membuat roti panggang untuk sarapannya dan (Y/N).

Wangi roti itu masuk ke rongga hidung (Y/N) dan membuatnya terbangun. "Harum sekali." (Y/N) menghampiri Erwin. Tanpa basa-basi ia langsung mencomot roti itu dan melahapnya.

"Kau sudah bangun rupanya. Cuci tangan dan cuci muka dulu sayang, jangan langsung mengambil nya begitu saja." Erwin menggeleng terbiasa.

"Baiklah-baiklah. Tapi kenapa kau tidak membangunkan ku? Aku jadi merasa tak enak karena kau yang membuat sarapan." Ujar nya sambil menguap.

Erwin menutup mulu (Y/N) yang sedang terbuka lebar dengan tangan nya. "Tadi aku tak tega untuk membangunkan mu, jadi aku biarkan saja sampai kau bangun dengan sendirinya."

"Begitu ya. Yasudah aku ingin mandi dulu." (Y/N) mulai berjalan menuju kamar mandi. "Jangan habiskan roti nya, aku masih ingin." Teriak nya.

Erwin kembali menggeleng berbarengan dengan senyum tipis. 'Dasar anak itu.' Batinnya.

(Y/N) mulai membasahi tubuhnya dengan air. "Brrrr dingin sekali."

(Y/N) terus mengigil kedinginan. Gigi nya beradu dan bergesekan. "Erwin apakah derajat nya mendadak turun?" Teriak nya dari kamar mandi.

"Sepertinya begitu, aku juga merasa kedinginan saat mandi tadi."

"Erwin aku ingin di peluk, ini terlalu dingin. Brrrr"

"Tapi kau sedang mandi sayang. Tunggu saja saat selesai mandi dan berpakaian."

"Mandikan aku!"

Uhuk. Ia sedikit tersedak roti. Semburat merah muncul di pipi Erwin. "D-dasar gadis mesum."

"Ahahah aku hanya bercanda. Pasti pipi mu sekarang sudah berwarna merah kan?" (Y/N) tertawa sambil meledeknya.

"Cepat selesaikan mandi mu nenek cerewet."

"Tenang saja aku sudah selesai." Kini sudah tidak ada lagi suara orang mandi. Hanya terdengar air mengalir sesekali.

Erwin sedikit terheran. 'Ini sudah lebih dari 10 menit saat ia bilang selesai mandi. Tapi kenapa ia belum keluar juga dari kamar mandi?' Batin nya. Sekarang Erwin mulai berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintu. Tok tok." (Y/N)?"

"Hmm?" Hanya jawaban singkat yang ia dapatkan.

"Kau sedang apa? Bukanya kau telah selesai mandi?" Tanya Erwin.

"Tunggu sebentar aku sedang menabung emas sambil bertapa."

Erwin tertohok mendengar jawaban itu.

Sekarang mereka berdua tengah berada di meja makan. Menikmati sepotong roti dengan di dampingi teh hangat. Tunggu, sebenarnya bukan sepotong roti. Tapi ada beberapa potong roti yang ia buat. Karena ia paham (Y/N) tak mungkin kenyang dengan hanya memakan sepotong roti.

(Y/N) merasa kenyang saat ia selesai menghabiskan beberapa potong roti. "Erwin, selanjutnya kita akan melakukan apa? Kita hanya menunggu sampai sore di dalam kamar atau bagaimana?"

"Entahlah, aku sedikit bingung." Jawabannya sambil menyeruput teh.

"Apakah wajah dan badan mu masih ternyata nyeri?"

"Hanya sedikit."

"Yasudah kita disini saja sampai sore. Tapi jika ada sesuatu yang ingin kau rencanakan atau apa pun itu, kau jangan sungkan untuk menyuruh ku melakukan nya."

"Tapi-"

(Y/N) memegangi kedua pipi Erwin dengan lengannya. "Sayang, bagaimana pun juga dalam pasukan pengintai ini aku tetap bawahan mu. Kau boleh menyuruhku apa saja sama seperti dengan pasukan yang lainya. Kau bisa mengandalkan ku sayang."

Erwin sedikit menunduk kan pandangan nya. "Baiklah, maafkan aku jika aku kurang profesional seperti ini."

"Sudahlah, tak apa." (Y/N) berdiri kemudian memeluknya.

Erwin yang masih terduduk itu membalas pelukannya. Tanpa di sadari wajahnya terbenam di dada (Y/N). Pipinya kembali memerah.

"Mesum!"

***

(Y/N) tak ada bosan nya berkeliling kamar Erwin. Meskipun ia sudah berkali-kali mengelilingi kamar nya, tetep saja pasti ada hal baru yang ia temukan.

Ia berjalan menuju rak yang berisi buku. "Erwin ini buku tentang apa?" (Y/N) mengambil sebuah buku dan menyodorkan nya pada sang kekasih yang tengah bersantai di atas kasur.

"Hmm ini buku mengenai Titan, ini hanyalah buku yang ku tulis tentang serba serbi Titan yang aku ketahui. Sebenarnya di buku yang kau pelajari saat menjadi kadet sama dengan buku ini, hanya saja ini di tulis dengan bahasa dan kata-kata ku sendiri."

"Benarkah? Itu sangat hebat. Aku ingin di bacakan buku ini." (Y/N) tergesa-gesa menaiki kasur.

" (Y/N) tergesa-gesa menaiki kasur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.













Up hehe //garuk kepala

Jangan lupa vomen yah( ⚈ ︹ ⚈ )

See u next chapter readers-chan>\\\<

Sayonara^^

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 14, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love in Paradise IslandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang