Happy Reading🌈
Reano baru saja masuk kedalam kelasnya, XI IPA 4. Disana, sudah ada keempat sahabatnya yang duduk dibangku seraya bermain game dimasing-masing ponsel.
"Gimana Rean sama Nayra nya. Gagal lagi? Sudah Bang Martha duga sih," ujar sahabatnya, Martha Randenio. Laki-laki cerewet dengan segala sifat absurd nya.
"Haha, pasti gagal lah. Iya kan Rean, haha." Cowok yang meledek satu ini bernama Delon Gangga Kusuma.
"Diem lu Ganggang!" Reano duduk bergabung dengan mereka.
"Nama gue Delon, bukan Ganggang miskah." Delon berpura-pura menyeka matanya, yang sama sekali tidak berair. Reano selalu memanggilnya dengan nama Ganggang.
"Capek Rean? Udah gue bilang berkali-kali kan. Udahlah ngejar si Nayra. Dia gak bakalan mau nerima lu. Masih banyak cewek di sekolahan ini, yang mau jadi pacar lo tanpa lo berjuang sekalipun."
Yang berbicara panjang lebar itu, namanya Galang Keswara Galuatra. Yah, pujaan hati si bocil Irfa. Pria yang paling bisa bersikap dewasa diantara mereka berlima.
"Capek? Siapa bilang gue capek. Gak bakalan pernah capek gue kalau urusan Nayra. Lagi pun, kalaupun di sekolahan ini banyak ceweknya, dimata gue gak ada yang menarik selain Nayra." Reano akan tetap pada pendiriannya. Berjuang untuk Nayra.
"Serah lu dah." Galang menoleh ke arah laki-laki yang dari tadi tak bersuara. Hanya diam memejamkan mata, dengan AirPods ditelinganya. Razero Algana Naduarta.
"Zer, jangan menyendiri mulu lu. Gabung sama kita sini." Galang memegang bahu Zero. Membuat Zero langsung membuka mata, dan menghempaskan tangan Galang dari bahunya.
Dia Zero, laki-laki dingin tak tersentuh. Zero memang berarti kosong, tapi bukan berarti ia minus akan attitude. Ia hanya minus dalam berkomumikasi.
"Lah, tangan gue dihempas." Galang tertawa ditempat. Ia sudah mengerti akan temannya ini.
"Eh bentar, ada tugas gak sih?" Reano baru sadar, ada tugas yang akan dikumpulkan saat masuk nanti. Dan ia, sama sekali belum mengerjakannya.
Martha terlonjak, "Astaga, gimana bisa Martha si tampan ini lupa." Ia memegang keningnya.
"Lu mah kapan ingatnya? Dari dulu lupa mulu setiap ada tugas," sahut Delon.
"Gue manusia biasa yang wajar kali," Martha memutar bola mata malas. "Udah, mana kasi bukunya." Martha mengadah pada Delon meminta tugas agar dapat menyalinnya.
"Emang lu pikir gue udah selesai," Delon tertawa setelah mengatakannya.
Reano menggeplak kepala Delon. "Gak bisa diharapin!"
Delon yang mendapat geplakan mengelus-elus kepalanya yang terasa sakit. "Tega banget lu Rean. Mentang-mentang selalu ditolak Nayra."
"Ngeledek lu?" Reano menatap tajam pada Delon.
"Nih tugasnya, udah cepetan salin. Entar masuk lagi." Galang yang melihat para temannya yang berbasa-basi tidak jelas segera menyodorkan bukunya ke atas meja.
"Okey, gue duluan." Martha mengambil duluan buku tersebut. Membawanya ke bangkunya, lalu segera menulis.
"We gue ikutan." Delon segera berlari menuju Martha. Melihat tatapan tajam Reano tadi, membuat ia takut. Sudah pasti ia akan teler jika dihadapkan dengan Reano. Suka cari masalah, itulah Delon.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Teen Fiction[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
