25. DIJEMPUT RASA LAMA

39 3 0
                                        

Happy Reading🌈

Suara notifikasi menghentikan aktifitas Arunika yang hendak memasukkan bukunya ke dalam tas.

Pulang bareng Reano. Gue masih ada urusan.

Kalimat itu, membuat Arunika tersenyum tipis. Lalu ia tersadar, bahwa ada sahabatnya yang pastinya sangat membutuhkan momen ini. Ia lalu menoleh pada Nayra. "Nay, kamu pulang sama siapa?"

"Sama supir. Gue baru minta jemput," ujarnya membuka ponsel.

"Gak usah Nay. Sini ikut aku," Arunika menariknya keluar kelas. Bersamaan juga dengan para siswa yang sudah berhamburan untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Kenapa kita ke parkiran Run?" Nayra merasa bingung.

Sedangkan yang ditanya sibuk celingak-celinguk. "Nah, itu dia. Kak Rean," sapanya.

Reano yang sudah bersiap diatas motornya tersenyum tatkala melihat gadis yang sudah ditungguinya.

"Lho, kok Lo panggil Kak Reano," bisik Nayra panik.

"Udah siap Run?"

"Kak Rean, boleh anterin Nayra pulang Kak? Soalnya, aku belum pulang, mau bimbingan dulu," jelas Arunika. Sebenarnya Arunika mengatakan yang sejujurnya.

Reano mengernyit heran. "Terus kapan selesainya?"

"Gak tau Kak. Kak Rean antarin Nayra gak papa kan?" Gadis itu tersenyum.

Reano menatap Nayra yang kini pura-pura memperhatikan sekitar. "Boleh. Tapi Lo gak papa?"

Arunika mengangguk mantap. "Aman Kak." Yah, lagi pula, ini memang hak Nayra kan.

"Ya-yaudah. Nayra mau gue boncengin?" Kali ini Reano bertanya pada Nayra.

Arunika mencubit kecil tangan Nayra disampingnya. "Ayok buru Nay," bisiknya.

"Ta-tapi Kak Reano gak keberatan emang?" tanya nya dengan nada jutek.

Reano menggeleng. "Enggak. Kalau Lo juga gak keberatan."

"Ya-yaudah."

Reano mengangguk. Nayra pun naik ke boncengannya. "Lo nanti gimana Run?" tanyanya.

"Gampang aku. Hati-hati yah, kalian." Arunika tersenyum seperti biasa. “Aku mau ke ruang guru dulu.”

Motor Reano menembus padatnya kota Jakarta siang hari itu. Menyisakan seorang gadis yang berdiri dengan senyuman manis hingga tergantikan dengan senyum tipis.

Padahal sebenarnya, dia cuma ingin mengambil jarak dan memberikan waktu untuk mereka. Hubungan mereka pasti akan berjalan lancar, pikirnya.

Dengan lesuh, Arunika pun berjalan sendiri menuju ruang guru. Tapi begitu berbelok, suara seseorang membuatnya berhenti.

“Kiw, tompel.”

Arunika menoleh cepat. Jeri berdiri sedikit miring, satu kaki menendang-nendang lantai, ekspresinya seperti biasa tidak jelas, tapi matanya sempat naik turun mengamati wajah Runi.

Sekilas, cepat. Tapi cukup untuk membuat Arunika sadar bahwa Jeri memperhatikan sesuatu darinya.

Jeru mendekat. "Kok muka lo kayak abis kalah lomba?” katanya tiba-tiba.

Arunika melotot. “Apa sih. Gak jelas banget."

“Ya nanya doang.” Jeri mengangkat bahu, ekspresi sok polos padahal nada suaranya jelas-jelas mengejek. “Tadi senyumnya maksa banget. Keliatan tau.”

Arunika langsung menegang. Apa Jeri melihat ekspresinya tadi? Dia benci karena Jeri bisa membaca ekspresi sekecil itu.

“Aku baik-baik aja,” jawab Runi pendek.

AREANO  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang