Happy Reading
Arunika balik menatap laki-laki disampingnya. Apa ia mengeluarkan unek-uneknya dihadapan Reano saja? Dan memberitahu semua kekesalannya pada laki-laki ini?
Arunika perlahan tersenyum. "Gak apa-apa Kak. Cuma orang random, gak sengaja ngedorong aku waktu di kantin tadi."
"Sesakit itu yah, sampai lo nangis ngelampiasin ke pagar," Reano menumpuhkan kedua tangannya pada pagar pembatas.
"Yah, gitulah." Arunika menyengir. Ia tidak mau mengatakan yang sejujurnya. Biarlah urusannya dengan Jeri tadi, ia selesaikan nanti secara empat mata.
Reano menggeleng-geleng sedikit tidak menyangka. Arunika akan marah-marah dan menangis hanya karena didorong seperti itu.
"Oh yah Kak, Aretha gimana kabarnya?" Sudah lama rasanya Arunika tidak melihat bocah kecil itu.
"Baik kok. Cuma, kemarin sempat demam," kata Reano. Yah, dan sekarang adiknya sudah sehat kembali. Meskipun ia masih tidak diperbolehkan ke sekolah.
Arunika menoleh terkejut. "Terus keadaan Retha sekarang gimana?"
"Sekarang udah mendingan kok. Meskipun masih gak dibolehin ke sekolah dulu sama Mama."
"Kasian banget Retha nya." Arunika menampakkan wajah sedih. Tidak bisa ia bayangkan, Aretha yang ceria menjadi tidak bersemangat karena terserang demam.
"Kalau lo mau jenguk boleh kok," ucap Reano.
"Benar boleh Kak?!" mata Arunika berbinar-binar hingga ia tak sadar sudah memegang erat lengan Reano.
"Bo-boleh. Boleh Run." Reano mengangkat tangannya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ma-maaf Kak. Gak sengaja," Arunika tertunduk malu.
"Gak apa-apa." Reano berdehem. "Yaudah yuk, kebawah," ajaknya.
"I-iya Kak. Kakak duluan aja."
Reano berjalan terlebih dahulu ke bawah. Tanpa sadar, ia tersenyum. Menurutnya Arunika sangat lucu dengan ekspresinya yang seperti itu.
Melihat Reano yang sudah menghilang, membuat Arunika bernafas lega. "Astaga, ngapain juga aku pegang-pegang lengan Kak Rean. Kan, jadi permaluin diri sendiri." Arunika menepuk-nepuk kepalanya.
.
.
.
"Mana tu si Tompel?" Jeri yang baru selesai dari kantin, menyusuri sekolahan mencari dimana Arunika berada.
Bukan karena ingin meminta maaf, justru ia ingin membuat perhitungan karena sudah menginjak kakinya dengan keras.
Cukup lama mencari, hingga pandangannya menemukan Arunika diatas sana. "Nah, itu dia tuh,"
Ia hendak melangkah, namun melihat Reano, membuatnya mengurungkan niat. "Kenapa tu kakak kelas songong muncul juga disitu? Nanti jadi berabe kalau ada dia."
Jeri melihat, Arunika yang terlihat malu-malu jika berada disamping Reano. Yah, ia sudah memperhatikannya saat insiden Arunika menangis lagi karena dirinya waktu Reano juga muncul.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Teen Fiction[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
