Happy Reading🌈
Aretha sedang makan bubur ditemani oleh bibi di kamarnya. Gadis kecil itu dari tadi terlihat murung dan sedih.
"Abang belum pulang Bi?" tanya nya manja pada bibinya.
"Belum Non. Kayaknya Den Reano masih di sekolah deh,"
Aretha mengerucutkan bibirnya. "Letha gak mau makan, kalau bukan Abang yang suapin."
"Lho, gimana Non Aretha mau sembuh kalau kayak gitu,"
"Siapa yang gak mau makan?" Reano muncul dari balik pintu membuat mata adiknya berbinar.
Reano tersenyum. "Lihat, siapa yang Abang bawa,"
Kening Aretha yang awalnya mengerut tergantikan dengan raut wajah yang bahagia. "Kak Luni. Letha kangen banget sama Kakak." Aretha merenggangkan tangannya ingin memeluk Arunika.
"Kakak juga kangen banget sama kamu," Arunika memeluk gadis kecil itu.
"Kenapa Kak Luni balu datang, Letha udah nungguin Kak Luni dali dulu banget," ujar gadis kecil itu.
Arunika hanya bisa tersengir. "Maafin Kak Runi. Kakak sibuk, jadi gak pernah ada kesempatan untuk mampir," katanya mengelus rambut Aretha.
"Kak Luni jangan minta maaf. Gak apa-apa," Aretha tersenyum.
Reano menatap kedua perempuan dihadapannya dengan wajah mengkerut. Ia pun berdehem. "Kak Runi aja nih, Abang juga ada disini lho,"
Adiknya itu, dirinya datang, bukannya menyambutnya, dia malah langsung memanggil nama Arunika dan bukan dirinya.
"Hihi, mana titipan es klim Letha," Aretha mengadahkan tangannya pada abangnya itu.
Reano membulatkan matanya tajam membuat Aretha tertawa cekikikan. Bisa juga dia membuat abangnya itu marah seperti itu.
"Becanda kok. Letha tau, gak bisa makan es klim." Aretha tertunduk sedih.
Tangan Arunika mengelus punggung gadis itu. "Gak apa-apa, kalau Retha udah sembuh, kita makan es-krim. Btw, nih kakak bawain Retha mainan." Arunika mengeluarkan boneka barbie dari dalam tas nya. Ia sudah berjanji pada gadis ini untuk membelikannya mainan hari itu.
Perlahan Aretha tersenyum. "Wah, cantik banget. Terima kasih kakak Luni." Aretha memeluk boneka barbie nya seraya menatap Arunika dengan mata berbinar. Mata gadis itu lalu melihat pada sang abangnya yang dari tadi memperhatikan Arunika didekatnya. Perlahan, senyum jahil muncul dibibirnya.
"Abang udah dong natap Kak Luni nya," katanya terkekeh.
Reano seketika berdecih. "Apaan sih lu bocil." Lihat, dalam sekejap, ia akan kembali bermusuhan dengan adiknya itu. Padahal baru tadi mereka saling merindukan. "Owh yah Run, lu seharusnya gak usah repot ngasih mainan kayak gini." Reano benar-benar dibuat tidak enak karenanya.
"Gak apa-apa Kak. Lagian Retha nya juga senang kok," ujar Arunika menatap Aretha sembari tersenyum.
Pandangannya kembali menatap kakak kelasnya itu. "Oh yah, kak Rean ganti baju aja istirahat. Biar Runi yang temani Retha disini," ujarnya.
Reano menghela nafas. "Yaudah kalau kayak gitu. Gue ke kamar dulu yah. Kalau tuh bocil cerewet, lu tarik aja mulutnya." Reano sepertinya ingin memanas-manasi adiknya itu.
Aretha yang mendengarnya langsung melototi matanya. "Jahat banget Abang," katanya dengan nada ngambek.
Arunika yang menyaksikan pertengkaran kecil kedua bersaudara itu hanya dapat geleng-geleng kepala. Ingin juga rasanya punya teman bergelut. Ada Altair sih, tapi abangnya itu sedikit serius membuatnya terkadang harus berhati-hati jika ingin bertengkar dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Teen Fiction[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
