Happy Reading🌈
Rak-rak tinggi dan bau kertas lama memenuhi perpustakaan sekolah siang itu. Tidak banyak murid yang datang. Hanya beberapa yang sibuk mengetik atau membaca buku.
Reano duduk menyender di bangku panjang dekat jendela, buku pelajaran terbuka di depannya. Pulpen di tangannya hanya diputar-putar, sedang pikirannya tidak fokus.
Ia memandangi jepitan biru yang ada dihadapannya. Tiba-tiba perkataan mama nya kemarin berputar dikepalanya.
"Mama ada-ada aja. Runi pasti gak bakalan suka kalau digituin," gumamnya geleng-geleng. Yah, mengingat gadis itu punya seseorang yang dia taksir.
"Ck, Irfa plis cepet dong. Lama banget lu,"
Reano mengerutkan kening mendengar suara yang menurutnya tidak asing di telinganya. Ia menoleh dan melihat Nayra dan juga Irfa yang berusaha mengambil buku di rak atas.
"Nayra berisik deh. Irfa gak nyampe nih ambil bukunya. Nayra kan tahu badan Irfa ini mungil," cemberut perempuan berikat rambut dua itu.
"Ck minggir lu." Nayra menggeser badan Irfa dan berjinjit mengambil buku itu.
Reano melihat interaksi kedua perempuan itu. Tanpa sadar ia terkekeh. Ia bangkit dan menghampiri keduanya. Mengambil buku itu dan memberikannya kepada Nayra.
"Kalau gak nyampe, minta tolong," ujarnya.
Nayra menghela nafas. "Makasih. Yuk Fa," ajaknya pada Irfa.
"Tunggu Nay." Irfa menahan Nayra yang sudah menarik tangannya. "Terimakasih Kak Reano," katanya tersenyum. "Oh iya, Kak Reano disini sama siapa?" mata Irfa berbinar-binar.
"Sendiri," jawab Reano.
Raut wajah Irfa berubah. "Kak Galang gak ada yah," kata nya tersengir.
"Fa apaan deh," Nayra berbisik pada Irfa. Sepertinya Irfa sudah tidak memiliki urat malu lagi menanyakan Galang pada Reano sahabatnya.
Reano yang awalnya terdiam langsung mengerti. "Nanti nyusul kok kesini, cuma ke kantin dulu sama yang lain."
Mata Irfa membulat. "O-oh, kalau kayak gitu, Irfa sama Nayra boleh gabung dong."
Mata Nayra lebih-lebih membulat terkejut. Ia mencubit lengan Irfa. "Ngapain Fa?" Ia lalu menatap Reano yang berdiri dihadapan mereka. "Irfa cuma bercanda. Kami mau cari tempat duduk lain kok."
"Boleh kok kalau mau gabung."
Kalimat yang dikeluarkan dari mulut Reano membuat Nayra berdecak dalam hati. Semua ini gara-gara bocil Irfa.
Irfa segera berjalan mengikuti Reano menuju tempat laki-laki itu belajar. Dengan setengah kesal Nayra mengikuti kedua orang itu.
"Kak Rean lagi belajar yah," tanya Irfa saat sudah duduk disana. Mereka duduk saling berhadapan dengan Reano.
"Lagi ngerjain tugas Irfa," jawab Reano. "Kalian mau ngerjain tugas juga?" Reano menatap kedua perempuan yang entah terlihat sangat canggung dihadapannya.
Nayra yang sempat bertatap mata dengan Reano langsung memalingkan pandangannya. "Udah tau ngapain nanya."
"Ih Nayra kok gitu." Irfa langsung menatap Reano dan tersenyum. "Iya Kak. Mau ngerjain tugas kelompok," katanya.
"Udah Fa buruan. Nanti gak selesai-selesai," Nayra membuka buku terlebih dahulu.
Reano hanya bisa menghela nafas. Niatnya ingin mengerjakan tugas tapi sepertinya ia tidak bisa. Ia menatap satu perempuan dihadapannya yang sedang serius menulis.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Teen Fiction[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
