Happy Reading🌈
Bel pulang berbunyi. Para siswa segera mengemasi barang mereka, bersiap untuk pulang ke rumah.
"Nay, aku duluan yah. Bang Altair udah nungguin," Arunika sudah memunggungi tasnya.
Nayra yang baru hendak memasukkan buku-bukunya menoleh. "Oh iya Run."
"Kamu pulang naik apa?"
"Naik taksi online aja. Gampang kok gue," jawab Nayra.
"Oke. Aku duluan yah. Irfa, Loka, duluan," Arunika melambai kepada ketiga sahabatnya. Buru-buru keluar kelas karena sudah ditunggui oleh Altair, abangnya.
"Runi kok buru-buru banget?" Irfa yang baru selesai mengemas barangnya bertanya-tanya.
"Ditungguin sama Kak Altair katanya," jawab Nayra sudah siap. "Yaudah, gue juga pulang dulu yah," Nayra segera keluar kelas. Berpisah dengan Irfa dan Loka.
Suara gemuruh menggema diatas sana. Awan hitam pekat terlihat jelas, siap menurunkan hujan. Nayra mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolahan. Sayangnya, Nayra tidak secepat itu. Dia baru beberapa langkah ketika rintik sudah berubah jadi tirai air yang jatuh deras dari atap sekolah.
Dia menghentikan langkahnya, berdiri di teras depan, merapat ke tiang besi. Tasnya sudah dipeluk ke dada, rambutnya mulai basah meski sudah mundur sejauh mungkin.
"Yah, udah hujan lagi," gumamnya. Bagaimana caranya dia pulang kalau seperti ini.
Tiba-tiba seseorang ikut berdiri di sebelahnya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat ngeh.
"Aduh, basah deh baju gue."
Laki-laki itu atau lebih tepatnya Reano. Berdiri menepuk-nepuk seragamnya yang sudah basah. Tidak sadar, bahwa Nayra juga ada di sana.
Nayra melirik dari ekor matanya. Ia hendak geser ke samping, tapi rasanya aneh kalau dia malah pura-pura tidak melihat laki-laki itu. Apakah ia harus menyapa? Tapi untuk apa?
Reano mengacak-acak rambutnya yang sudah basah. Hingga mengenai wajah wanita yang sedang berdiri disampingnya.
"Airnya nyiprat kesini." Nayra tidak bisa sabar jika ada hal seperti ini.
Reano menoleh. "Oh, Nayra. Sorry gue gak tau kalau ada Lo."
"Lu ngalahin rempong nya cewek aja," ujar Nayra bersedekap dada menatap lurus ke depan.
Reano hanya menggaruk kepalanya. "Takut dimarahin nyokap kalau pulang ke rumah," ujarnya.
Nayra tidak menjawab. Tapi dia jadi tahu sesuatu. Reano ternyata laki-laki yang takut juga kalau sudah menyangkut ibu.
"Oh yah, lu sendirian aja? Runi nya mana?" Entah dia selalu saja mencari keberadaan Arunika. Karena, dimana ada Nayra, pasti juga ada Arunika.
"Udah pulang duluan," jawab Nayra. "Hobi banget nyari Runi."
Reano hanya terkekeh. "Enggak. Biasanya kan, Lo selalu bareng dia."
Keduanya menyadari. Lagi-lagi ada perasaan yang sulit dijelaskan. Hawa dingin akibat hujan, rasanya menjadi berkali-kali lipat dinginnya. Setelahnya, keduanya memilih untuk diam.
Beberapa detik berlalu.
Angin kencang meniup air hujan sampai ke dalam teras. Nayra refleks mundur selangkah, tapi tidak cukup. Ujung sepatunya mulai basah.
"Yah, basah." Nayra memperhatikan sepatunya.
"Lo gak mau pindah kesana?" Reano menunjuk gazebo tak jauh dari tempat mereka sekarang. "Disana lebih gede buat neduh. Ada kursi nya juga, bisa duduk."
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Fanfiction[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
