Happy Reading
Suara motor Reano masih terdengar di tengah-tengah padatnya kota Jakarta. Merasa ponselnya berdering didalam saku, ia pun menepikan motornya ke pinggir jalan.
"Halo Ma. Iya, ini udah mau pulang kok. Lagi dijalan ini," ujarnya pada mama-nya diseberang sana.
Reano menghela nafas. Ia pun memasukkan ponsel kembali kedalam saku. Ia menghidupkan kembali motornya sebelum ponselnya kembali berdering.
Reano berdecak kala melihat siapa yang menelponnya. "Kenapa?" tanya nya malas pada temannya diseberang sana, Delon.
"Lu dimana?"
"Dijalan," jawabnya malas.
"Ngapain lu dijalan? Ngemis?"
Reano yang mendengarnya, sontak saja terkejut. "Mulut lo mau gue gergaji?"
Delon diseberang sana tertawa. "Canda Rean."
"Ck, buru kenapa lo nelpon gue?" Reano tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi.
"Ngumpul kuy di rumah Galang. Udah ada Martha juga nih," ajaknya.
"Gak bisa." Reano berujar cepat.
"Kenapa gak bisa anjir? Biasanya juga mau kalau diajak," kata Delon.
"Gue disuruh pulang cepat sama Nyokap gue." Yah, tadi Diana menelpon menyuruh Reano untuk segera pulang.
"Anak Mama banget lu anjir."
"Bodo ah. Retha lagi sakit. Kalau gue pergi, gue gak bakalan diijinin pergi selama-lamanya," jelas Reano.
Keluarganya tidak seperti keluarga lain yang mungkin lengkap dengan kehadiran kepala keluarga. Membuat Reano mempunyai kewajiban untuk menjaga keluarganya. Yah, ibu dan adiknya. Hanya itu yang tersisa.
"Owh, si bocil sakit." Delon diseberang sana mengangguk-angguk. Ia menghela nafas kemudian. "Yah, apa boleh buat Rean, yaudah deh gak usah."
Teman-temannya juga mengerti keadaan keluarga Reano. Mereka tidak ingin memaksakan kehendak jika salah seorang sahabat mereka berhalangan untuk hadir.
Setelah panggilan terputus, Reano segera melajukan motornya menuju rumahnya.
"Reano pulang," ujar Reano memasuki rumahnya. Tapi, keadaan sangat hening. Yah, selalu seperti itu. Ia menaiki tangga rumah menuju kamar sang adik.
"Gimana keadaan Retha Bi?" tanya Reano kepada pembantu rumah yang baru saja keluar dari kamar Aretha.
"Masih panas Den. Tadi, Non Retha manggil-manggil nyonya terus," ujarnya.
Reano mengangguk dan membuka knop pintu kamar Aretha. "Retha," panggilnya. Namun, sang adik terlihat sedang menutup mata diatas ranjang.
Reano menghampiri dengan pelan. Duduk diatas spring bed bermotif kuda poni itu. Tangannya perlahan menyentuh kening sang adik. Dan, itu terasa panas.
Sentuhan dikeningnya, mampu membuat gadis kecil itu membuka matanya. "Abang," katanya serak.
"Iya kenapa? Retha mau apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Roman pour Adolescents[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
