18. SALTING

60 5 1
                                        

Happy Reading

Senja yang nampak diatas sana, terlihat begitu indah. Mata Arunika tak henti-hentinya berdecak kagum.

Ia mengeluarkan ponselnya hendak memotret langit senja diatas sana. Namun, beberapa kali ia melihat hasil potretannya, semua tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Ia berdecak dalam hati. Oke sekali lagi Runi. Ia berusaha sebaik mungkin agar ponselnya tidak bergerak kesana kemari.

Satu, dua, TAKKK

"Kak Rean! Ponsel aku!"

Sebuah polisi tidur, membuat ponsel Arunika terjatuh dan tergeletak dijalanan. Dengan segera, Reano mengerem motornya. Arunika melompat dari motor dan segera memungut ponsel kesayangannya.

"Ponselnya gimana Run? Gak rusak kan," kata Reano.

"Enggak Kak. Tapi, casing nya udah lecet." Arunika mengelap-ngelap casingnya yang dianggapnya sudah lecet. Wajah sedihnya, membuat Reano memperhatikan silikon gadis tersebut. Gambar panda yang sedang makan tebu.

Lah, yang dipikirin bukan ponselnya tapi silikonnya. "Lu suka banget kayaknya yah, sama panda," ujarnya. Padahal, sebenarnya silikon Arunika hanya lecet sedikit. Tapi, entah kenapa gadis itu begitu terlihat sedih.

Arunika mengangguk kecil.

Melihat respon wajah Arunika yang terlihat sedih, membuat Reano entah kenapa merasa bersalah. "Sori yah, "

"Kenapa?"

"Kayaknya gara-gara gue gak pelanin motor tadi waktu lewat polisi tidur," jelas laki-laki itu.

"Ih, bukan salah Kak Rean. Ini salah aku karena sibuk motret senjanya tadi," ujar Arunika. Yah, sebenarnya ini memang kesalahannya sendiri.

"Motret senja?" kening Reano mengerut. Ia mendongak menatap langit senja yang begitu sayang untuk dilewatkan.

Seketika senyumnya merekah. "Ayo naik. Gue mau nunjukin lo sesuatu," katanya mengajak Arunika untuk naik ke atas motor.

Walaupun nampak kebingungan, tapi Arunika menurut saja. Tempat apa yang mau kakak kelasnya ini tunjukkan?

"Kak Rean mau nunjukin apa?" Arunika memajukan wajahnya bertanya pada Reano yang sudah fokus berkendara.

"Udah. Lu liat aja nanti," ucapnya.

Arunika pun kembali diam dengan pikirannya. Ia menghela nafas memperhatikan senja diatas sana. Cantik banget, batinnya. Arunika penikmat senja.

Tanpa disadarinya, secara diam-diam, Reano memperhatikan gadis tersebut dari spion motornya. Ia ikut mendongak ke atas, dan sekali lagi, ia merekahkan senyumannya.

"Udah sampai?" tanya Arunika begitu Reano memberhentikan motornya.

Reano mengangguk. "Sini," ia berjalan terlebih dahulu menaiki bukit-bukit kecil. Arunika pun mengekor dibelakang.

"Masih jauh gak Kak, aku-Bunda!"

Dengan segera, Reano menahan pergelangan tangan Arunika yang hampir saja terperosot.

"Hati-hati Runi. Sini gue pegangin," katanya membantu Arunika.

"Ma-makasih Kak." Jantung Arunika kembali berdegup. Ia menghela nafas kembali menormalkan kembali irama jantungnya.

AREANO  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang