Happy Reading🌈
"Kalian ngapain disini?"
Arunika dan Jeri kompak menoleh. Keduanya sama-sama terkejut melihat Reano yang berdiri disana.
Jeri berdiri. "Kenapa nanya-nanya? Kepo banget jadi orang." Katanya dengan raut wajah tak suka.
"Gue nanya Arunika." Reano memutar malas bola matanya.
"Ya, gu-gue juga ngejawab angin kok. Lo kepo banget sih ngin, bisik-bisikin gue lagi ngapain." Jeri tak mau kalah. Bisa malu dia dihadapan kakak kelas sok ini.
Bodoh, batinnya. Reano pun lalu tak menanggapinya lagi. Ia menatap Arunika yang kini sudah ikut berdiri.
"I-itu Kak, tadi habis," Arunika sedikit panik. Entah mengapa ia merasa panik kedapatan berdua dengan Jeri seperti ini.
"Tunggu tunggu." Reano memajukan wajahnya. Tangannya lalu bergerak untuk menyempilkan rambut Arunika ke belakang telinganya.
Apa? Apa yang dilakukan oleh laki-laki dihadapannya ini? Arunika rasanya ingin terbang saja.
"Lo habis nangis kan," katanya kemudian.
Arunika menatap manik mata Reano. Bagaimana kakak kelasnya itu bisa tahu. Ah, kalau Reano tahu, ia bisa malu. Bagaimana tanggapan laki-laki itu, jika tahu bahwa dirinya menangis hanya karena kagetan kecil dari laki-laki kurang ajar seperti Jeri.
"Lo gak jawab, berarti benar." Pandangan mata Reano lalu jatuh pada Jeri yang hanya berdiri disana. "Lo apain Runi?"
"Gue? Gue apain dia?"
"Runi nangis, pasti ada hubungannya sama lo."
"Oke-oke. Gue cuma ngagetin dia dikit kok tadi. Eh tapi nggak tahu, tiba-tiba anaknya nangis kayak gitu."
"Lo gak tahu, Arunika tuh gak suka dikagetin," Reano nampak kesal. Apalagi melihat wajah Jeri yang tidak merasa berdosa sama sekali.
"Yaudah. Gue juga udah minta maaf kok sama orangnya."
"Lo tuh dibilangin-"
"Kak, udah." Arunika menahan amarah Reano yang entah tiba-tiba kenapa menjadi sangat sensitif. "Aku udah maafin Jeri kok."
"Tuh, dengar. Dia udah maafin gue, jadi gak usah perpanjang lagi masalah ini. Noh, urus aja cewek lu itu." Jeri langsung melongos pergi dari sana.
Wajah Arunika nampak memanas. Dasar Jeri, udah baik dia mau memaafkan laki-laki itu, tapi dia malah ngomong sembarangan. Pasti Reano merasa kesal karena Jeri yang berbicara sembarangan.
"Kak-"
"Udah, biarin aja." Reano menggeleng-geleng. "Lo bener gak pa-pa?" tanya laki-laki itu sekali lagi.
Arunika mengangguk. "Iya, gak pa-pa Kak."
"Yaudah. Sekarang lo mau kemana?"
"Mau ke lapangan."
"Bareng aja." Reano menawarkan. Sebenarnya, dirinya hendak membeli air di kantin. Tapi melihat Arunika sekarang, entah kenapa ia mengurungkan niatnya. Memilih untuk kembali ke lapangan saja menemani gadis tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Novela Juvenil[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
