Happy Reading🌈
"Kenapa tiba-tiba datang?" tanya Arunika sambil membuka buku pelajarannya diatas kasur.
Sang empu yang ditanya hanya tidur telentang disamping Arunika. "Gak tau Run. Gue cuma mau cerita aja sama lo."
Arunika menghembuskan nafas. "Mau cerita apa Nay? Tumben. Biasanya, ceritanya pas udah di sekolah."
"Lo tahu gak, kemarin gue kehujanan sama Kak Reano."
Arunika yang awalnya membuka-buka buku, langsung menghentikan gerakan tangannya. Lantas menoleh ke arah Nayra. "Di-dimana?" tanyanya.
"Di sekolah. Pas pulang, taksi online yang gue pesan belum datang. Alhasil gue nungguin di sekolah, terus ketemu sama Kak Reano." Nayra mengingat-ingat kejadian saat kemarin.
Arunika masih menatap Nayra dengan wajah serius. "Terus gimana? Kamu gak basah kuyup kan, taksi nya juga datang kan," ada raut khawatir yang nampak dalam wajah Arunika.
Nayra memangku guling milik Arunika yang berbentuk pisang. "Tenang Runi. Datang kok taksinya. Tapi, kemarin gue sempat jatuh, terus ditolongin sama Kak Reano."
"Jatuh dimana? Kok bisa?" Wajah Arunika nampa kaget.
"Pas mau pindah tempat ke gazebo. Aku kesandung batu, jatuh deh. Terus Kak Reano bantu aku dan obatin luka ku pake plaster," ujar Nayra tersenyum tipis.
Entah mengapa tapi Arunika merasakan perasaan yang lagi-lagi tidak nyaman dalam dirinya. Namun ia tepis, karena jika didalam posisi itu, memang wajar jika Reano seharusnya membantu Nayra.
Perlahan Arunika mengembangkan senyumnya. "Udah luluh yah sekarang Nay," ujar Arunika menyenggol lengan Nayra.
"Apasih," Nayra tertawa kecil. Ia menghembuskan nafas memandang langit-langit kamar Arunika. "Gue gak tau Run."
"Gak tahu apa?"
"Gue gak tahu perasaan gue sama Kak Reano kayak gimana." Nayra tertunduk.
Tak ada niatan untuk membalas, Arunika masih serius ingin mendengarkan perkataan Nayra.
"Gue gak suka waktu dia selalu gangguin gue terus. Gue gak suka waktu dia ngejar-ngejar gue kayak gitu. Karena gue, gue gak mau ada orang lain yang masuk dalam hidup gue. Bagi gue, cuma dia satu-satunya, dan gak ada yang bisa gantiin dia." Tanpa sadar, air mata Nayra mengalir.
"Tapi, setelah kemarin, gue mulai merasa beda Run. Gue ngerasa perasaan yang dulu gue rasain waktu sama dia."
Arunika merangkul Nayra. Mengusap-usap lengan sahabatnya, berusaha memberikan ketenangan pada gadis itu. "Jadi benar perkiraan aku,"
Nayra menatap Arunika.
"Kamu gak mau nerima Kak Rean, karena kamu belum bisa ngelupain dia."
Nayra menggeleng pelan. "Gak mudah Run. Gak mudah hapus dia dalam hidup gue."
"Aku tau Nay. Tapi, kamu gak boleh terus-terusan kayak gitu kan. Hidup kamu terus berjalan. Kamu gak bisa stuck disitu. Coba buka hatimu untuk orang lain."
"Ta-tapi, gue takut Run. Takut, hal yang sama bakalan terjadi sama Kak Reano juga. Gue gak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya." Nada suara Nayra terdengar bergetar.
Arunika tahu bagaimana perasaan sahabatnya. Rasa trauma masa lalu masih terbayang-bayang hingga sekarang. Dan, tidak mudah untuk melupakan semua itu.
Nayra menghapus air matanya. "Tapi, lo benar Run. Mungkin, gue harus coba terima Kak Reano. Dan, ngelupain masa lalu." Ia perlahan mengembangkan senyumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AREANO
Fiksi Remaja[FOLLOW FOLLOW] Reano terbiasa mengejar cinta yang sama-seseorang yang selalu membuatnya berharap, lalu patah lagi. Dalam proses itu, ia tidak pernah sadar ada seorang gadis yang lebih dekat darinya, yang diam-diam menyukainya sejak lama. Saat cinta...
