PREVENTION - 10

15.6K 1.1K 164
                                        



"Jadinya ke mall nih?" tanya Winna pada Naresh yang sudah rapi dengan kaus lengan panjang warna biru tua yang dipadu dengan celana jeans warna hitam favoritnya. Pria itu sedang berbaring ditempat tidur sambil menunggu Winna selesai dandan.

"Iya. Tapi palingan kita cuma sebentaran doang keliling di mall nya, abis itu kita bakalan nongkrong di salah satu kafe outdoor nya. Reksa bilang kalau malam minggu gini kafenya suka ada live music nya gitu." jawab Naresh.

"Wih seru dong!" Winna tersenyum bahagia sedangkan Naresh justru malah menghela nafas lesu. Sejujurnya dia paling malas berkumpul di tempat yang ramai seperti itu karena keramaian bisa menguras energinya dalam sekejap. "Kok lo jadi lesu?"

"Nggak apa-apa. Sebenernya gue kurang suka sama tempat yang terlalu rame, tapi demi Reksa yang udah ngebet banget pengen nongkrong disana dari kemarin-kemarin, yaudah lah gas aja."

Winna menatap Naresh dalam-dalam. Akhir-akhir ini dia memang sering kali mengamati Naresh, mempelajari segalanya yang ada pada pria itu agar dia bisa mengerti semua hal tentangnya lebih baik lagi. Dan salah satu hal yang paling sering ia temukan pada diri Naresh adalah fakta bahwa suaminya itu adalah orang yang sangat tidak suka dengan keramaian. Bahkan saat mereka pergi belanja bulanan ke mall waktu itu saja, Naresh lebih memilih untuk berjalan di area yang jauh dari keramaian dan terkadang lebih suka menunggu di luar toko ketika Winna ingin melihat-lihat barang di dalamnya.

Setelah selesai dengan semua riasannya, Winna berjalan mendekati Naresh yang sedang memainkan ponselnya lalu kemudian mengulurkan tangan.

"Ngapain?" tanya Naresh keheranan.

"Nanti kalau lo pusing gara-gara rame langsung pegang tangan gue aja. Siapa tau bisa ngebantu sedikit." jawab Winna polos.

Naresh diam sebentar lalu kemudian menyambut tangan Winna dan menggenggamnya erat-erat.

"Win."

"Hm?

"Gue cium ya?"

Winna tersenyum keki. "Nggak. Gue udah pake lipstik. Nanti berantakkan."

"Waktu itu gue pernah liat ada temen kantor gue yang update status di WA, tulisannya begini," kata Naresh sambil menggoyang-goyangkan tangan Winna. "Find a man who can ruin your lipstick, not your mascara."

"Ya terus maksudnya lo pengen hancurin lipstik di bibir gue sekarang gitu?!"

"Nanti kan bisa pake lagi kalau udah selesai."

"Nggak ah! Udah cakep begini masa mau langsung dirusak, enak aja!" Winna melepaskan genggamannya lalu kemudian kembali memeriksa dandanannya di cermin sementara Naresh hanya memandanginya dari tempat tidur sambil tertawa pelan.

Bahkan hal-hal kecil yang dilakukan Winna untuknya seperti yang baru terjadi tadi saja mampu membuat suasana hatinya menjadi jauh lebih baik. Setelah semuanya siap, Naresh dan Winna keluar dari unit apartemen mereka dan menaiki lift menuju basement 1 tempat dimana mobil Lexus hitam Naresh dan HRV silver Winna diparkirkan. Dan seperti biasa, kalau untuk jalan-jalan keluar mereka lebih sering menggunakan mobil Winna karena selain jarang dipakai, mobil itu juga lebih mungil dan praktis.

"Seat belt nya dipake." perintah Naresh begitu keduanya sudah berada di dalam mobil.

"Iya, bentar." balas Winna yang masih sibuk dengan ponselnya.

Naresh menarik nafas dalam-dalam lalu kemudian bergerak untuk meraih seat belt milik Winna dan memasangkannya dengan begitu cepat hingga nyaris membuat sang istri memekik kaget. Wajah keduanya bertemu dengan jarak yang cukup dekat dan Winna yang tadinya sempat ingin mengamuk langsung terdiam seribu bahasa begitu matanya bertatapan dengan mata Naresh. Pria itu tersenyum tipis seraya memandangi wajah sang istri dalam-dalam lalu kemudian pandangan itu turun secara perlahan ke area bibirnya. Dan begitu Naresh berniat untuk mencuri satu ciuman dari sana, Winna langsung menahan bibir Naresh dengan jari telunjuknya kuat-kuat.

PREVENTION ( ✔ )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang