Warning! 18+ mature & smut scene ahead.
Skip it if you feel uncomfortable :)
Bohong rasanya jika Winna tidak merasa takut dan khawatir setelah obrolan intensnya dengan Meisya beberapa hari yang lalu. Dia mungkin bisa terlihat keren sekali saat membantai Meisya dengan fakta yang ia miliki saat itu, tapi seperti kebanyakkan wanita pada umumnya, Winna juga bisa merasakan yang namanya takut juga. Dia takut jika Meisya benar-benar akan merebut Naresh darinya.
Dan perasaan takut itu terbawa hingga ke mimpi sehingga Winna sering kali terbangun di tengah malam karenanya. Seperti yang sekarang ini sedang terjadi.
"Kenapa?" tanya Naresh yang memang sedang begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya begitu dia mendapati Winna sedang duduk di tempat tidur mereka dengan wajah yang agak sedikit pucat. Naresh beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri sang istri. "Mimpi buruk lagi, hm?"
"Nggak kok." Winna berusaha tersenyum.
Naresh meraih gelas berisi susu melon dari meja tempatnya bekerja lalu kemudian memberikannya pada Winna.
"Gue perhatiin lo jadi sering banget kebangun jam segini akhir-akhir ini," kata Naresh dengan nada khawatir. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran lo?"
Sekali lagi Winna menggeleng.
"Jangan bohong. Kita mungkin emang belum lama nikah, tapi gue udah bisa baca semua body language lo." Naresh mengusap-usap kepala Winna lembut. "What's wrong, wife?"
"Nggak apa-apa kok, beneran deh. kayaknya gue mau dateng bulan makanya jadi sensitif banget akhir-akhir ini."
Naresh menyipitkan matanya curiga tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut lagi karena sepertinya Winna masih belum ingin menceritakan kegundahannya. Naresh memang penasaran dan mempunyai tebakan sendiri mengenai alasan dibalik mimpi buruk Winna, tapi dia juga tidak mau memaksa istrinya itu untuk bercerita. Dia akan menunggu hingga Winna datang padanya dan menceritakan segalanya dengan keinginannya sendiri.
"Yaudah kalau emang belum mau cerita, but just remember that I always here if you ready to talk about it," Naresh mengecup puncak kepala Winna dan berjalan kembali ke mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya. "Tidur lagi sana, masih jam setengah 2 pagi, sayang kalau waktu tidur lo kebuang cuma gara-gara mimpi doang."
"Lo sendiri nggak tidur?" tanya Winna penasaran.
"Habis ngirim email ini gue juga bakal tidur kok, lo tidur duluan aja."
"Tapi gue mau dipeluk sama lo tidurnya."
Naresh tertawa pelan lalu kemudian dia kembali memainkan jemarinya di atas keyboard laptop nya untuk segera mengirimkan semua email yang menumpuk itu agar bisa menuruti permintaan Winna. Kesempatan seperti ini tidak boleh Naresh lewati begitu saja karena Winna dalam mode manja plus minta dipeluk ini adalah suatu fenomena yang sangat langka dan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, malah kalau bisa harus dilestarikan juga demi kesejahteraan dunia perbucinan Naresh pada sang istri.
"Resh ih! Gue mau peluuuk!" Winna melotot galak pada Naresh yang masih tertawa.
"Iya, iya sabaaar. Gue kirim email dulu nih 2 menit, baru abis itu lo gue peluk sampe pagi."
Winna memberengut tapi tetap sabar menunggu Naresh menyelesaikan pekerjaannya. Dia memandangi prianya itu dengan seksama, meneliti setiap inci dari wajah tampan, bahu lebar, lengan kekar terus hingga ke kakinya yang putih bersih. Mungkin ini hanya pengaruh 'bonding' yang memang akhir-akhir ini cukup rutin mereka lakukan karena melihat Naresh dalam mode serius dengan balutan kaus hitam serta celana basket selutut membuat pria itu terlihat luar biasa 'hot' sekaligus berhasil membuat pikiran Winna diisi dengan berbagai macam hal yang agak 'random'.
KAMU SEDANG MEMBACA
PREVENTION ( ✔ )
DragosteWinnaura Malya, seorang gadis cantik yang keras kepala dan pemberontak berniat untuk kawin lari dengan pacarnya yang berbeda keyakinan. Sebagai bentuk upaya pencegahan, kedua orang tuanya pun menikahkan Winna dengan Naresthra Jibran, seorang pemuda...
