Gue masih inget banget senyum terakhir yang tercetak di bibir Meisya sebelum dia benar-benar melangkah masuk kedalam area check in setelah suara pengunguman boarding pesawat menuju Australia terdengar menggema di seluruh area terminal bandara, dimana gue hanya bisa melihat itu dari kejauhan secara diam-diam. Dan senyum itu diiringi dengan lambaian tangannya kepada kedua orang tuanya yang saat itu begitu menggemaskan di mata gue dan keinginan gue untuk terus menunggu dia semakin menggebu-gebu. Bagi gue, menunggu selama 3 tahun sama sekali nggak ada apa-apanya dibandingkan harus kehilangan dia.
Awalnya gue nggak paham kenapa Meisya nggak pamitan secara langsung ke gue sebelum berangkat. Dia juga nggak ninggalin pesan apapun yang sempet bikin gue kecewa sedikit. Tapi gue berusaha untuk terus berpikir positif bahwa dia melakukan ini mungkin supaya gue nggak sedih dan gue pun menghormati niat dia itu dengan diam-diam ikut ngelepas dia pergi di bandara. No matter what happen I will always wait for her return.
Tapi segalanya hancur tepat 2 bulan setelah cewek yang setengah mati gue sayang itu sampai di Australia sana. Tanpa ngasih kabar sekalipun dan semua akun sosial media gue di blok, tiba-tiba gue dapet kabar kalau Meisya punya pacar disana.
Well, I didn't mean to be dramatic, but I really-really devastated back then. And it's all because of that girl.
Meisya Aura Kairani adalah satu-satunya perempuan yang berhasil mencuri hati gue, dia adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat gue mulai memikirkan dan juga merancang masa depan bersama. She had everything that I wanted to be my eternal companion.
Iya, gue secinta dan sebucin itu sama dia dulu. Saking bucinnya, gue sampe sering diingetin sama kakak-kakak gue untuk nggak terlalu berlebihan dalam mencintai sesuatu karena yang maha kuasa bisa cemburu dan gue akan dipisahkan sama orang yang gue cintai itu. Dan ternyata omongan mereka beneran kejadian.
"Resh, mau sampe kapan kamu kayak gini terus?"
Suara kakak sulung gue, Irena langsung membuyarkan lamunan gue yang semula sibuk memandangi langit malam bertemankan keheningan dan sebatang rokok. Gue tersenyum tipis seraya mematikan batang rokok gue yang udah mulai pendek. Kalau kak Irena yang bersabda, sesungguhnya gue nggak akan pernah bisa apalagi berani melawan. Dia itu terlalu lembut dan sangat hati-hati kalau ngomong sama gue, beda sama kakak gue yang kedua, Nadine, dia mah kalau negur gue udah kayak guru BP lagi ngomelin berandalan sekolah.
"Naresh baik-baik aja kak." Gue menjawab dengan jawaban yang sama setiap seluruh anggota keluarga gue bertanya di setiap tahunnya.
"Udah 5 tahun loh dek. Dia nya mungkin udah bahagia sama orang lain disana," kak Irena mengusap rambut gue lembut.
Gosh I love my sister so much. Kak Irena selalu paham bagaimana caranya berbicara dengan gue. Dia tau banget gue tuh orangnya kayak gimana, makanya daripada sama bunda atau kak Nadine, gue lebih suka curhat sama dia.
"Gimana caranya biar kamu bisa ceria dan berisik kayak dulu lagi? kamu tuh udah kayak orang yang nggak punya semangat hidup tau nggak? kakak khawatir kamu stress nanti kalau masalahnya dipendam terus kayak gini."
"Nggak ada yang berubah dari aku kak. Aku masih Naresh yang dulu. Cuma sekarang udah lebih dewasa aja, udah nggak bisa ceria, berisik apalagi jahil kayak dulu lagi. I'm 26 already. Semua orang pasti akan berubah ketika mereka tumbuh dewasa kan?" Gue tersenyum lagi.
"Kamu nggak coba move on ke cewek lain aja? Ke teman kantor kamu mungkin? Atau temen-temen SMA kamu? kamu baru reunian kan kemarin-kemarin?"
Gue menggeleng. "Kalau bisa sih jangan sama temen SMA lah kak. Nanti aku inget sama yang di Aussie mulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
PREVENTION ( ✔ )
RomansaWinnaura Malya, seorang gadis cantik yang keras kepala dan pemberontak berniat untuk kawin lari dengan pacarnya yang berbeda keyakinan. Sebagai bentuk upaya pencegahan, kedua orang tuanya pun menikahkan Winna dengan Naresthra Jibran, seorang pemuda...
