"Besok kamu izin lagi, Win?"
"Iya mbak Anna. Soalnya temenku ini keluarganya lagi pada di luar kota semua, jadinya cuma aku yang bisa nemenin," Winna melirik Naresh yang sedang sibuk meniup-niup indomie rebusnya lalu kemudian kembali fokus pada aktivitas menelepon kepala HRD nya untuk meminta izin tidak masuk kerja lagi. "Nanti kerjaan aku pantau dari sini mbak. Kalau emang nggak bisa izin juga, mbak potong aja dari jatah cutiku mbak. Kalau nggak salah jatah cutiku masih ada sisa 10 hari lagi deh."
Mbak Anna tertawa. "Haduh masih kaku aja kamu Win. Udah besok kamu bikin form izin lagi aja kayak kemarin. Lagian alasan kamu juga jelas kok."
Winna tertawa. "Ih makasih ya mbak Anna! Besok aku traktir makan siang deh, tempatnya terserah mbak aja mau dimana!"
"Gampang lah itu! Semoga temennya cepet sembuh ya Win!"
"Iya. makasih ya mbak Anna."
Winna meletakkan ponselnya di meja lalu kemudian kembali fokus memandangi Naresh yang masih sibuk dengan indomienya. Meskipun hatinya masih merasa kesal dengan tingkah Meisya tadi, namun melihat kedua pipi Naresh yang mengembang saat mengunyah mau tak mau membuat Winna merasa sedikit terhibur.
"Kamu nggak makan?" tanya Naresh begitu dia selesai makan dan membiarkan Winna membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Ngeliat kamu makannya heboh kayak tadi aja udah lumayan bikin aku kenyang."
Naresh tertawa lalu kemudian menggenggam tangan Winna erat-erat.
"Kita pulang aja yuk?" ajaknya dengan nada yang begitu halus dan menenangkan. "Kalau kita pulang, kamu nggak perlu izin gak masuk lagi. kamu bisa istirahat dan tidur di tempat tidur kita sekarang."
Winna menggeleng. "Kita udah sepakat untuk nemenin Meisya sampe orang tuanya dateng, Resh. nggak apa-apa, lagian aku udah diizinin juga tadi."
"Setelah apa yang dia bilang ke kamu tadi, kamu masih mau nemenin dia?"
"Daripada kamu yang nemenin dia ya mendingan aku aja!" Winna memutar bola matanya jengkel. "Sumpah aku tuh nggak habis pikir deh sama cewek itu! no offense ya Resh, aku tau kalau Meisya tuh aneh, tapi aku sama sekali nggak nyangka kalau selain aneh, dia juga nggak tau diri! Dia pikir dia siapa minta kamu untuk stay disini dan nyuruh aku buat pulang?! dia nggak punya manner apa ya?! atau seenggaknya punya malu gitu!"
Naresh terkekeh. "I have no reason to feel offended anymore. Tapi ya, dia emang aneh banget sih sekarang. padahal dulu dia nggak kayak gitu."
"Emang dulu dia kayak gimana?" tanya Winna penasaran.
"Hmm gimana ya jelasinnya? Meisya tuh dulu baik banget. Lemah lembut, ramah, terus segala hal yang dia lakukan pasti hasilnya selalu sempurna. Dia juga nggak pernah ngobrol terlalu deket sama cowok dan lebih suka kumpul-kumpul sama temen-temen ceweknya. Ya kalau kata Harya sih, Meisya tuh definisi cewek yang nyaris sempurna lah pokoknya," jawab Naresh apa adanya. "Tapi setelah bertahun-tahun nggak saling kontak dan akhirnya ketemu dia lagi, aku nggak melihat itu semua di diri dia yang sekarang."
"Well, 5 tahun itu waktu yang lebih dari cukup untuk mengubah sifat seseorang." kata Winna akhirnya.
"Setuju. Makanya kamu nggak usah kaget kalau tiba-tiba Meisya bersikap kayak gitu," Naresh tertawa. "Dia percaya kalau aku masih cinta sama dia dan yakin kalau aku juga bakalan nungguin dia. Man, kalau dia aja bisa berubah, kenapa aku nggak coba?"
Winna menatap Naresh dalam-dalam. Ekspresi pria itu tampak tenang malah cenderung santai. Dia tidak menemukan sorot cinta yang tulus itu lagi di mata Naresh untuk Meisya. Sepertinya itu adalah tanda bahwa Naresh benar-benar sudah sepenuhnya melepas bayang-bayang Meisya dari pikirannya. Dan bukan Naresh namanya kalau dia tidak menyadari tatapan menyelidik yang Winna lemparkan padanya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
PREVENTION ( ✔ )
RomanceWinnaura Malya, seorang gadis cantik yang keras kepala dan pemberontak berniat untuk kawin lari dengan pacarnya yang berbeda keyakinan. Sebagai bentuk upaya pencegahan, kedua orang tuanya pun menikahkan Winna dengan Naresthra Jibran, seorang pemuda...
