"Lo kenapa sih lesu amat dari kemarin-kemarin?"
Ryuka menatap Winna yang sedang sibuk mengaduk-ngaduk jus alpukat nya dengan tidak berselera. Mangkuk berisik bakwan malangnya saja bahkan masih sisa setengah dan itu merupakan hal yang cukup mengejutkan bagi Ryuka karena dia jelas tahu sekali bahwa Winna bukanlah tipe perempuan yang suka menyisakan makanan. Apalagi ini adalah salah satu makanan yang cukup disukainya.
"Nggak tau nih Ryu, udah dari minggu lalu badan gue nggak enak." jawab Winna lesu.
"Masuk angin kali lo," Ryuka menyentuh dahi Winna. "Agak anget nih badan lo, abis makan siang ini lo pulang aja ya? Nanti gue telepon Naresh buat jemput lo deh."
Winna menggelengkan kepalanya. "Nggak usah ah Ryu, dari kemarin-kemarin gue udah banyak izin, nggak enak gue sama karyawan yang lain mentang-mentang kerja di bagian HRD jadi seenaknya gitu. Lagian Naresh juga lagi sibuk. Minggu depan aja dia mau berangkat lagi ke Surabaya."
"Yee daripada nanti lo tepar di kantor!"
"Nggak apa-apa. paling nanti gue izin istirahat sebentar di restroom. Kerjaan gue hari ini juga nggak begitu banyak kok."
"Bener-bener ini anak. Susah emang kalau ngomong sama workaholic mah!"
Winna terkekeh. "Ngomong-ngomong gimana rasanya jadi bini orang sekarang? masih sering bangun kesiangan nggak lo?"
"Masih dong! Ya tapi nggak bisa sesering dulu," Ryuka mengerucutkan bibirnya. "Pada dasarnya Ben sih nggak masalah kalau gue bangun siang, tapi yang paling penting itu gue nggak skip sholat. Dia ngamuk banget tuh kalau gue nggak sholat."
"Ya wajar itu mah! Lo pikir Naresh nggak bakalan ngamuk kalau gue skip sholat? Gue aja pernah diomelin habis-habisan gara-gara dibangunin buat sholat subuh nya susah banget."
"Ternyata laki kita emang selalu galak dan sadis pada tempatnya ya!" Ryuka tertawa geli sembari membayangkan bagaimana muka sangar Naresh saat mengomeli Winna walaupun dia yakin omelannya itu pasti tidak akan kasar. Naresh kan sangat soft kalau sudah berhadapan dengan Winna.
Setelahnya, keduanya sama-sama berhenti tertawa dan saling pandang satu sama lain. Seulas senyum penuh arti pun menghiasi bibir mereka. Sejujurnya Winna dan Ryuka tidak pernah menyangka bahwa mereka akan ada di posisi ini. Posisi di mana mereka akhirnya resmi menjadi seorang istri dan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Dan berbeda dengan Winna yang memang ingin sekali menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga sesuai dengan impiannya sejak dulu, Ryuka bahkan sempat berniat untuk tidak menikah. Impiannya dulu adalah untuk menjadi seorang perawan tua kaya raya yang hidup dengan santai dan bebas tanpa terikat dengan hal apapun.
Tapi ternyata yang maha kuasa justru berpikir sebaliknya. Dengan kuasanya yang mutlak, Ben datang ke dalam hidupnya. Awalnya Ryuka sama sekali tidak terlalu menanggapi bagaimana Ben secara terang-terangan menunjukkan rasa tertariknya padanya. Dia berkuliah di jurusan teknik yang gedungnya terletak jauh dari gedung jurusan Ryuka di fakultas ekonomi. Dan meskipun jaraknya jauh, Ben dengan sukarela menyisihkan waktunya untuk mengunjungi Ryuka di gedung fakultasnya hampir setiap hari. Singkat cerita mereka mulai berpacaran di semester 4 masa perkuliahan mereka. Tapi sesuai dengan prinsipnya yang dulu pernah ia buat, Ryuka tetap tidak ingin menikah dan hanya ingin menjalani hubungan pacaran ini sampai Ben mulai merasa lelah dan memintanya untuk putus lebih dulu.
Sekali lagi Tuhan menunjukkan kuasanya dimana Ben sama sekali tidak ada niatan untuk memutuskan hubungan mereka dan disaat yang bersamaan Ryuka sendiri juga tidak berani mengajaknya putus duluan karena sudah terlampau nyaman dengan hubungannya bersama pria itu. Dia takut hatinya tidak bisa menerima dan merasa kehilangan setelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PREVENTION ( ✔ )
RomanceWinnaura Malya, seorang gadis cantik yang keras kepala dan pemberontak berniat untuk kawin lari dengan pacarnya yang berbeda keyakinan. Sebagai bentuk upaya pencegahan, kedua orang tuanya pun menikahkan Winna dengan Naresthra Jibran, seorang pemuda...
