...
Menjadi pria itu melelahkan. Kau tidak boleh menangis. Dan kau tidak boleh terlihat lemah. Menjadi pria sama saja menjadi robot yang tak mempunyai emosi.
Kadar maskulin seseorang ditentukan seberapa hebatnya dia dalam bidang olahraga, mengerti mesin, dan bermain musik. Menjadi seorang pria harus siap dengan dunia kekerasan, karena mereka tak pernah mengerti perkataan atau perbuatan lembut atas kaumnya sendiri, bahkan oleh sang Ayah sekalipun.
Pria itu dipandang dari harta dan pekerjaannya. Jika dia miskin, dia akan dipermalukan. Jika pekerjaannya tidak bergengsi, dia akan dipandang remeh.
Pria itu mempunyai ego dan kebanggaan yang tinggi. Dia akan malu jika bersanding dengan wanita menawan. Dia akan merasa rendah diri jika berkenalan dengan wanita yang lebih berkecukupan dari dirinya. Walaupun wanita menerima kondisinya yang serba kekurangan itu, pria akan selalu merasa khawatir dan ragu apakah dia bisa membahagiakan wanita pujaannya saat ini.
Seorang pria tak banyak berbicara atas masalah hidupnya. Kebanyakan dari mereka memendamnya dalam-dalam, atau melampiaskan ketika dia berkumpul dengan teman-temannya, entah itu sekedar bermain gim bersama, atau sekadar mengobrol hal yang tak penting di tongkrongannya.
Tidak peduli seberapa tegarnya seorang pria, dia akan selalu luluh ketika mendengar seorang wanita menangis dihadapannya. Terlebih jika itu Ibunya sendiri. Hatinya remuk dan teriris-iris tatkala melihat sang Ibu menangis di depannya.
Pria itu haruslah pergi dari rumahnya. Entah itu karena melanjutkan pendidikan yang dia tempuh atau untuk bekerja. Tak banyak yang cukup beruntung mendapatkan pekerjaan yang dekat dari rumahnya, kebanyakan dari mereka akan merantau. Pergi seorang diri meninggalkan kedua orangtua, saudara dan keluarganya. Dan memulai hidup sendiri di tempat yang tak pernah dia tinggali sebelumnya.
Perjalanan menjadi pria belumlah selesai.
Suatu saat, dia akan menemukan seorang wanita yang akan menjadi istrinya. Menghadapi dan meluluhkan calon mertuanya yang galak. Memikirkan masa depan keluarganya yang akan dia lalui. Memikirkan harga rumah yang akan ia beli atau bangun. Ah, belum lagi menuruti ngidam sang istri yang aneh-aneh, menemaninya bersalin, merawat dan membesarkan anaknya. Memikirkan uang belanja rumah dan anak, biaya sekolah, dan tabungan.
Aku belum sampai di tahap itu, mungkin suatu saat nanti.
Mereka akan tumbuh dewasa dan matang, hingga pada dipuncaknya dia akan dipanggil “Ayah” oleh anaknya, atau dipanggil “Kakek” oleh cucunya sendiri. Menikmati hari tua, dan kilas balik di masa mudanya dulu hingga akhirnya sang ajal menjemputnya.
...
*
*
*
*
*
*
*
n.b:
Aku berharap aku bisa menuliskan kehidupan dari sisi seorang wanita juga, tapi sayangnya aku tak ingin lancang seolah-olah tahu tentang wanita, hehe.
Aku harap ada yang bersedia menulisnya untukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monolog
Storie brevi[RE-PUBLISHED] Hanya berisi tulisan random tentang pikiran, kisah hidup, dan keluhanku yang tidak bisa aku ekspresikan di dunia nyata. Semuanya kutulis agar aku bisa meluapkan apa yang aku rasa saat ini. Publish ulang karena gaada tempat curhat sela...
