...
Aku mengalami banyak tragedi, dan itu membuatku melihat dunia ini dengan sudut pandang yang berbeda, jauh berbeda dari orang-orang lain pada umumnya. Mungkin terdengar begitu depresif dan pesimistik, tapi kurasa begitulah dunia ini sebenarnya.
Aku yakin bukan aku saja yang merasakan hal itu, pada dasarnya orang yang mengalami realisme depresif melihat dunia ini secara lebih realistis. Sama halnya seperti ketika seekor domba (yang kita namakan “Domba A”) yang menyadari bahwa dirinya tak akan pernah bisa terbang di langit, itulah realitas Tapi tak semua domba berpikiran seperti itu, pada realitasnya, banyak domba berpikiran dia bisa terbang ke langit setelah melihat elang berputar-putar di atasnya, dan menganggap Domba A, adalah domba yang putus asa dan pesimis.
Tapi bukankah itu sebenarnya yang terjadi? Begitulah kira-kira analoginya.
Konsep realisme depresi pertama kali disebut dalam laporan terbitan 1979 oleh L.B. Alloy dan L.Y. Abramson yang berjudul Judgment of contingency in depressed and non-depressed students: sadder but wiser?. Dalam studi ini, para peneliti memberi sebuah tombol dengan lampu hijau kepada peserta yang depresi dan tidak depresi.
Lalu, peserta diminta menentukan sejauh apa tanggapan mereka (memencet tombolnya) memengaruhi lampu tersebut. Peserta yang depresi berhasil menilai tingkat kontrol mereka, sedangkan peserta dalam keadaan sehat cenderung berasumsi mereka mampu mengendalikan lampu hijau lebih besar dari kenyataannya.
Filsuf Norwegia Peter Wessel Zapffe berpendapat bahwa pada dasarnya kapasitas manusia untuk berpikir dan kesadaran diri itu dibatasi agar tidak dapat melihat dunia ini secara utuh. Melainkan sesuatu yang dapat kita cerna agar kita tidak menjadi gila, untuk mengatasinya; “Kebanyakan orang belajar untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan secara sadar membatasi isi kesadaran dengan ilusi positif.”
Sebagai contoh, pasangan yang baru menciptakan ikatan mungkin cenderung melebih-lebihkan kemungkinan memiliki bulan madu menyenangkan atau punya anak yang berbakat, sementara meremehkan kemungkinan memiliki keguguran, jatuh sakit, atau perceraian.
Baiklah kurasa aku akan menyampingkan topik "Ilusi Positif" kali ini (yang sebenarnya sudah aku tulis secara samar di judul "Tidak ada salahnya menjadi pesimis!"). Walaupun sebenarnya berkaitan, tapi aku akan meringkas agar lebih mudah dibaca.
“Banyak psikolog masih menganggap realisme depresi sebagai hipotesis,” ucap Colin Feltham, mantan profesor studi konseling kritis di Sheffield Hallam University dan penulis buku Depressive Realism. Sejumlah studi telah menyelidiki teori ini dengan berbagai hasil, katanya.
Colin menjelaskan teori ini kemungkinan berkaitan dengan teori-teori psikologis lainnya, seperti teori penanganan teror. Penanganan Teror mengusulkan sifat manusia sebetulnya mengarah ke penipuan diri. Kita lebih baik hidup dalam khayalan daripada harus memikirkan konsep mengerikan seperti kematian. Mungkin, ketika depresi, kita tak mudah tertipu.
...
KAMU SEDANG MEMBACA
Monolog
Короткий рассказ[RE-PUBLISHED] Hanya berisi tulisan random tentang pikiran, kisah hidup, dan keluhanku yang tidak bisa aku ekspresikan di dunia nyata. Semuanya kutulis agar aku bisa meluapkan apa yang aku rasa saat ini. Publish ulang karena gaada tempat curhat sela...
