...
Sebenarnya agak menjengkelkan melihat orang-orang bersikap optimis. Maksudku, kenapa mereka bisa begitu yakin? Baiklah. Optimisme mungkin memang dibutuhkan, tapi aku tidak yakin bagaimana sikap optimisme itu bisa menghibur kegagalanmu nantinya.
Optimisme itu seperti kita yang akan melompat jauh ke seberang. Dan yang menentukan kesuksesanmu adalah seberapa jauh dan kuat kamu melompat. Optimisme mungkin bisa saja menjadi pendorong dan penyemangat. Tapi bagaimana jika kamu gagal? Lompatanmu tidak cukup jauh dan kakimu tidak begitu kuat untuk mencapai ke seberang. Apa yang terjadi selanjutnya adalah dirimu yang jatuh pada jurang kekecewaan. Begitulah sikap optimisme itu bekerja. Seolah-olah tubuh kita berkhianat, usaha kita selama ini sia-sia, dan diri ini tak cukup baik untuk melompat.
Walaupun mungkin diantara mereka bangkit dan melompat lagi, tapi sudah berapa banyak orang yang meratapi kegagalan itu?
Lalu bagaimana dengan pesimisme?
Kurasa mungkin ini lebih baik. Orang-orang pesimis akan ragu untuk melompat. Alhasil dia terjebak akan realitas dan mimpi. Beberapa diantara mereka berani untuk bergerak dan beberapa diantara dari mereka ada yang menetap. Dan mereka yang melompat tak pernah mengharapkan apapun. Semuanya seperti kepingan koin yang dilempar keatas. Dimanapun sisi koin itu berada, dia tak pernah peduli.
Menjadi pesimis adalah sikap yang menurutku tidak cukup buruk. Pesimisme menuntunmu untuk menurunkan sedikit rasa percaya diri, sikap pesimis akan terus mengingatkanmu tentang kelemahan-kelemahan diri sendiri dan memaksamu untuk melihat kualitas dirimu sendiri.
Tidak ada salahnya untuk menjadi pesimis!!
...
KAMU SEDANG MEMBACA
Monolog
Nouvelles[RE-PUBLISHED] Hanya berisi tulisan random tentang pikiran, kisah hidup, dan keluhanku yang tidak bisa aku ekspresikan di dunia nyata. Semuanya kutulis agar aku bisa meluapkan apa yang aku rasa saat ini. Publish ulang karena gaada tempat curhat sela...
