...
Aku masih teringat ketika aku masih berumur 14 tahun, aku mulai berpikir tentang cara bunuh diri yang "manusiawi" dan paling sedikit menderita. Di benakku saat itu, aku harus mati dalam keadaan yang utuh dan wajar. Aku tidak bisa mati dengan cara terjun dari ketinggian dan membiarkan tubuhku hancur, itu terlalu brutal. Atau menggantung diri karena itu terlihat sakit dan menjijikkan. Meminum racun apalagi. Atau mati dengan mengiris nadi? Aku tidak tahan melihat darah. Aku terlalu miskin untuk membeli pistol. Dan aku terlalu pengecut untuk tenggelam di laut.
Aku menyadari bahwa bunuh diri terbaik adalah dengan terus hidup. Terdengar seperti ironi bukan? Tapi begitulah adanya. Bunuh diri terbaik adalah dengan terus hidup selama mungkin, melihat diri sendiri membusuk dari dalam. Perlahan menghancurkan kewarasan dan kesadaran kalian. Lalu mulai merusak dan menghancurkan diri sendiri. Mereka yang bunuh diri dengan cara seperti ini adalah orang-orang yang pengecut untuk mati, lalu memilih hidup untuk memenuhi ego mereka yang besar.
Tapi setidaknya, aku selalu berharap mereka menemukan cahaya di akhir lorong yang gelap ini. Aku selalu bertaruh kalau ada sebuah taman bunga yang indah menantiku di depan sana. Aku selalu percaya ada sebuah kemungkinan untuk membuatku bersyukur untuk tetap terus hidup sekecil apapun itu. Dan mungkin dari lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar ingin hidup.
Disinilah aku, membunuh diriku sendiri secara perlahan. Sang pengecut yang tidak berani menarik pelatuk atau mengalungkan tali ke lehernya sendiri. Berharap ada sesuatu atau seseorang yang menyelamatkannya. Lalu percaya ada sebuah cahaya di ujung lorong yang gelap. Memilih untuk tetap hidup dalam delusi utopia, membunuh dirinya sendiri dengan terus hidup atau mungkin saja, sebenarnya aku benar-benar sudah mati sedari dulu?
...
KAMU SEDANG MEMBACA
Monolog
Cerita Pendek[RE-PUBLISHED] Hanya berisi tulisan random tentang pikiran, kisah hidup, dan keluhanku yang tidak bisa aku ekspresikan di dunia nyata. Semuanya kutulis agar aku bisa meluapkan apa yang aku rasa saat ini. Publish ulang karena gaada tempat curhat sela...
