...
Aku menginginkan kematian sejak kecil. Di umur 14 tahun aku pernah ingin menyayat nadiku berharap aku bisa mati dengan tenang. Namun sayangnya aku tak punya keberanian walau pisau itu telah menempel di urat nadi. Lalu tiap harinya aku akan selalu berpikir: "Dengan metode apa aku mati nanti?"
Walau pada akhirnya aku tak benar-benar melakukannya. Alasannya adalah, karena aku adalah anak yang penasaran.
Aku penasaran, ke arah mana takdir ini membawaku? Apakah di depan sana aku bahagia? Mungkinkah aku bisa menghapus rasa ini nantinya?
Mungkin itu hanyalah alasan yang aku buat. Tapi sebenarnya aku tak punya nyali karena aku mengkhawatirkan ibuku. Aku tak bisa menambah beban hidupnya dengan cara mengakhiri hidup. Aku tak boleh mati sebelum aku bisa membalas jasanya. Aku tak bisa membayangkan perasaannya ketika aku bunuh diri, dan membuatnya merasa menjadi seorang ibu yang gagal.
Aku tidak bisa mengambil hidup yang bukan benar-benar milikku. Batasan itu lah yang membuatku tak punya nyali, dan membiarkanku tetap hidup. Dengan perasaan itu aku bertarung mati-matian melawan perasaan ini.
Bocah yang menginginkan kematian, tidak pernah bisa mati, karena seorang Ibu lah yang membuatnya tetap hidup.
...
KAMU SEDANG MEMBACA
Monolog
Short Story[RE-PUBLISHED] Hanya berisi tulisan random tentang pikiran, kisah hidup, dan keluhanku yang tidak bisa aku ekspresikan di dunia nyata. Semuanya kutulis agar aku bisa meluapkan apa yang aku rasa saat ini. Publish ulang karena gaada tempat curhat sela...
