chapter 2 : unlucky?

20 0 0
                                        

English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version. 

Thank you! <3 from tricxo


"Halo, Kak Adi," sapaku.

"Oh, Ana! Kamu sudah siap?"

"Iya, ayo kita masukkan barang ke mobil."

Singkat cerita, aku menerima tawaran Kak Adi tanpa pikir panjang. Setelah dari restoran, aku langsung mengepak pakaian dan barang-barang pentingku, tak lupa memberi tahu pemilik kos untuk pindah. Setelah selesai, aku meletakkan barang-barang di luar kosan agar mudah bagi Kak Adi yang datang membawa mobil untuk mengangkut bawaanku. Barang-barang sudah masuk ke mobil, dan kami berdua pun duduk di dalamnya. Kak Adi menyetir, sementara aku di kursi penumpang di sebelahnya.

"Barangmu sedikit sekali, Ana," komentar Kak Adi.

"Namanya juga bertahan hidup, harus selalu ekstra dalam menghemat uang. Tapi, karena Kak Adi, pasti nanti uangku lebih normal," jawabku, sedikit bercanda.

"Baguslah, untung bisa membantumu. Dulu aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu, Ana."

"Tidak apa-apa, kita 'kan dulu masih SMA." Memang aku sudah miskin sejak dulu, hanya bisa mengandalkan otakku hingga berhasil mendapat beasiswa. Dulu, aku bahkan mencari nafkah dengan menjadi guru les untuk anak SD dan SMP.

"Iya, jadi jangan sungkan bila ada kekurangan. Aku ingin kamu nyaman dengan kehidupan ini, Ana." Kak Adi mengusap kepalaku dengan tangan kanannya, kebiasaan yang sering ia lakukan saat SMA. Aku senang sekali bisa merasakannya lagi seperti dulu, meskipun baginya aku hanyalah seorang adik.

"Ah! Maaf, apa aku melakukannya lagi, ya? Seharusnya aku meminta izin kalau mengelusmu," kata Kak Adi, menghentikan usapannya.

"Tidak apa-apa, Kak Adi. Aku juga jadi terbiasa saat kita SMA."

"Iya, tapi seharusnya kamu juga bilang." Meskipun begitu, ia kembali mengusap kepalaku dengan lembut, membuatku merasa mengantuk. "Huaaammmm..." Aku menguap. Kak Adi menghentikan tangannya begitu mendengar suaraku.

"Ini akan jadi perjalanan panjang. Lebih baik kamu tidur. Pasti capek, 'kan? Kamu semalaman membereskan barang, ya?" Memang benar, aku membereskan barang sekitar jam dua atau tiga pagi, lalu bangun lagi jam delapan. "Iya, kalau begitu, selamat tidur, Kak Adi." Aku pun tertidur, membaringkan posisi dudukku.

"Selamat tidur, Ana."


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Oh... bunga kecilku yang malang, kita bertemu lagi, bunga hemlockku."

"Eh? Ibu? Dan bunga hemlock? Namaku bukan itu, Ibu."

Tiba-tiba di depanku muncul seorang ibu tua yang kutabrak tadi. Mengapa dia ada di sini? Dan ini di mana? Hanya ada kegelapan. Bukannya aku tidur nyenyak di mobil Kak Adi?

"Maaf bila mengganggumu, Nak. Aku mempunyai penglihatan masa depan dan melihat kau akan menjadi bunga hemlock. Aku ingin membantu, tetapi sayang, umurku telah tiba. Maka aku beri hadiah padamu supaya kau tidak seperti bunga hemlock."

"Hadiah? Hadiah apa? Dan namaku Yuwana Felixia, bukan hemlock."

"Kau akan tahu, Nak. Silakan melanjutkan tidurmu. My flower hemlock, you will be my death."


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

My flower hemlockCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang