Hidup Ana Yuwana Felixia dipenuhi kemalangan, namun sebuah "keberuntungan" tak terduga muncul dan ia langsung meraihnya. Sayangnya, itu hanyalah jebakan. Kini, ia harus menjadi guru bagi empat murid jenius yang masing-masing menyimpan luka psikologi...
English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version. Thank you! <3 from tricxo
Aku dan May berada di halte busway dengan memakai baju bepergian beserta barang seperlunya. "Apakah kamu membawa tiketnya, May?" Kami akan pergi ke tempat rekreasi bernama 'BLISS' pemberian dari Nola, sebagai tanda merayakan pekerjaan baruku, walaupun terlambat sih...
'BLISS' adalah tempat rekreasi yang diminati oleh semua masyarakat bila ingin berlibur, penuh dengan permainan yang menyenangkan. Permainannya seperti perahu yang dibolak-balik sehingga merasakan terbang di perahu, kincir besar, naik kuda putar, dan lain-lainnya.
May menjawab iya dengan menganggukkan kepala semangat. "Bagus, sekarang kita akan kasih tahu Aka—"
PING! Suara HP-ku berbunyi. Siapa ini? "Tunggu sebentar, May, aku cek dulu." Tangan kananku mengambil HP di tas selempang kecil lalu membukanya. Terdapat sebuah pesan dari Nola.
Nola: Sorry >,< ada dadakan! Jadi barengan dengan May yang menggemaskan itu ya? ^u^ Nanti nyusul!
"Huh... dasar si Nola, selama berteman kamu sama seperti ini bentuknya." Aku mengusap kepala sebal, kecewa dengan kelakuan Nola yang tidak menepati janjinya. "Hmmm... apakah ki—" Tiba-tiba mata May layaknya anak anjing kecil yang lucu ingin menangis karena mainan diambil. Uh... salah satu kelemahanku.... "Kalau begitu... kita pergi saja."
"YAY!" Ah... aku bisa melihat kepala dan ekor bergerak riang. Juga, sayang bila tiket hangus total.
Perjalanan dimulai menaiki busway, melewati 8 halte lalu turun. Halte tersebut mempunyai 2 sisi, dan kami pergi ke sisi haltenya menunggu busway yang akan langsung ke tujuan terakhir. Perjalanan memang mudah diingat, tetapi karena hari libur, maka banyak penumpang berdesakan layaknya kami berdua berada di depan pintu busway sedang dilindungi oleh May dari kesempitan.
Posisinya, kedua tangan May berada di sebelah wajahku dan badannya mendekat. Bukankah posisi ini layaknya di film romantis? Uh... canggungnya.... "Apakah kamu tidak apa-apa, May?" May hanya mengangguk tanpa berkata, tidak seperti biasanya, karena suara layaknya robot akan memancing perhatian.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selama menunggu halte terakhir, aku melihat wajah May... baru sadar... sepertinya aku tidak pernah melihat May membuka maskernya...eh...enggak...kamu pernah namun itu hanyalah sebentar saja saat kejadian tersebut, namun bagaimana dia bisa makan dan minum itu???? Bahkan olahragapun tidak, Menjadi penasaran....
"May, apakah maskermu sesak?berat?" May menjawab tidak dengan menggelengkan kepala.
"Bolehkah aku memegangnya?.....Aku penasaran saja....." May mengangguk. Aku langsung merabanya dan merasakan bahwa masker ini tidak berat seperti dilihat, malahan ringan serta dingin! Ingin sekali menempelkan wajahku ke masker May, karena keramaian yang penuh membuat suhu AC tidak terasa sehingga otakku layaknya meleleh. Apakah aku tempel saja? Tidak! Jangan, Ana! Bila menempelkan wajahmu, nanti posisi canggung ini akan lebih parah! T-tetapi ini.... dingin! Aku merasa di surga!!!