Hidup Ana Yuwana Felixia dipenuhi kemalangan, namun sebuah "keberuntungan" tak terduga muncul dan ia langsung meraihnya. Sayangnya, itu hanyalah jebakan. Kini, ia harus menjadi guru bagi empat murid jenius yang masing-masing menyimpan luka psikologi...
English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version.
Thank you! <3 from tricxo
"Hei! Kalian ini kenapa sih melakukan itu tadi?"
Ugh... di mana aku? Aku melihat sekeliling, ternyata aku berada di ruang kesehatan sekolah, atau UKS. Dan suara itu... Kak Adi, 'kan? Sepertinya aku sedang berbaring di ranjang. Apakah aku pingsan? Ah... aku ingin pulang! Walaupun pulang, aku merasa seperti orang jahat.
"Maaf, karena Asoka tadi, jadinya..."
"Sudahlah Asoka, bukan salahmu juga. Kamu dapat dari Ma—"
Aku memotong pembicaraannya, "Kak Adi?" Aku bangun dari tempat tidur, mengubah posisi menjadi duduk.
"Ana? Kamu baik-baik saja?" Kak Adi yang berdiri di sebelahku sedang memarahi empat murid yang kini duduk di lantai.
"Aku baik-baik saja."
"Baguslah, tapi bisa ceritakan sebenarnya apa yang terjadi?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku pun mulai menjelaskan secara detail tentang bagaimana aku bertemu mereka hingga akhirnya pingsan. "Jadi begitu ceritanya...Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan anak-anak ini. Mereka terlalu bersemangat dengan kedatangan guru baru. Aku tidak menyangka mereka akan menyambutmu seperti itu..."
"Iya...tidak apa-apa kak adi" aku tersenyum untuk menenangkan rasa bersalah Kak Adi
Kak Adi melihatku tersenyum merasakan tenang "Juga, kalian ceritakan apa yang kalian lakukan saat kejadian itu. Mulai dari si Luv." Kak Adi menunjuk ke arah lelaki aneh yang pertama kali kutemui. Jadi namanya Luv? Sepertinya aku pernah dengar nama itu...
"Apakah kau berbicara dengan Vlad Heo—"
Kak Adi memotongnya lagi, "Cepat bicaranya, atau tidak, aku sita senjata sabit ini." Kak Adi menunjuk senjata sabit yang tergeletak di dekat pintu.
"It-itu aku beli pakai uang sa—"
Dipotong lagi oleh Kak Adi, "Bicara!"
Luvly kemudian berbicara dengan nada biasa, "Aku dengar guru baru itu... Kak Ana sekarang. Aku pikir ingin menyambutnya di kelas."
"Eh? Bagaimana kau tahu namaku?"
"Kau tidak ingat? Ini adikku, dulu kau mengajarnya bukan, saat masih 7 tahun?" Aku ingat! Si Luvly Bandhawa, dia adik Kak Adi. Dulu aku bekerja sampingan mengajar anak SD dan SMP, dan salah satu muridku adalah Luv. Dia sopan dan sangat pintar, persis seperti Kak Adi. Aku tidak menyangka anak manis itu berubah drastis begini.
"K-KAK ANA JAHAT!!!" Tiba-tiba Luv pergi bersama senjata sabitnya, meninggalkan yang lain. Sepertinya aku telah menyakiti perasaannya karena tidak mengingat dirinya.