Chapter 17 : finally?

2 0 0
                                        

English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version. Thank you! <3 from tricxo


Langit gelap, angin keras, hujan deras turun, dan sekelompok orang berbaju hitam membawa payung hitam, menangis. Aku pun bertanya kepada salah satu dari mereka, "Maaf, tetapi ada apa ini?"

Dia menjawab, "Mati....."

"Mati??? Siapa???? Siapa yang mati???" Pertanyaanku tidak dijawab, dia hanya bisa melanjutkan tangisannya. Aku pun memaksa diri masuk ke dalam keramaian. "P-permisi..." Mereka sangat fokus menangis hingga tidak menyadari keberadaanku. "Ukh..... P-permi....." Sampai pernapasanku tercekek. "To...long..." Saat penglihatan mulai hilang, sekilas kulihat sebuah ruangan tanpa kerumunan. Apakah itu tempatnya??? Akhirnya, ku gunakan tenaga terakhir menembus semuanya. "HAH!...... HA....HA.....ha....." Berhasil melintas semuanya, aku buru-buru mengambil napas dalam lalu membuangnya perlahan-lahan. "Akhirnya aku b—" Saat pernapasanku kembali, kulihat di depanku ada dua peti mayat, dan mayat tersebut adalah May dan Luv.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


"AHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Aku terbangun dan melihat sekitar. "Eh? Kenapa aku berada di kamarku?" Aku melihat jendela yang telah gelap, melihat jam sekaligus tanggal berapa di HP yang terletak di sebelah bantal. "Hari ini... sama saat pulang dari rekreasi Bliss... syukurlah, mimpi....."

*BRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNGGGGGGGGGG* Tiba-tiba suara berdering. Terlihat kontak bernama Luv menelepon. Mengapa dia menelepon? "Halo?" Karena penasaran, aku menjawab telepon Luv.

"Bagus! Manusia menuruti panggilan yang sangat terpuji ini!"

"Luv, kau tahu, kan, ini jamnya untuk tidur?"

"Luv???? Jam tidur?? Sebagai malaikat pencabut nyawa! Vlad Heol—"

"Aku hitung sampai tiga, perbincangan ini akan selesai."

"Apa-apaan ini! Kau bisa menent—"

"Satu....."

"H-HEI DENG—"

"Dua......."

"...AN......"

"Ti—"

"Maaf, Ka-Kak Ana, t-tolong jangan matikan HP-nya!!!!!!" Aku merasa seperti pengganggu bagi orang lemah, tetapi apa boleh buat, dia yang pertama melakukannya.

"Seharusnya kau seperti itu, Luv, Kak Ana tidak akan mengakhiri perbincangan ini."

"H... Habisan....."

"Habisan kenapa, Luv??? Apakah kamu kangen sama Kak Ana ini????" Apa aku sedikit usil? Bagaimana sikapnya?

"Em-mmang kenapa?????? Apa salah kalau k-kangen dengan Kak Ana??" Eh? Masa? Jawaban yang tidak kuduga.

"Hmmm..... Kangen sama Kak Ana?????" Luv memang menggemaskan jadi ingin mengusilinya, tetapi..... "Makasih buat telepon malam ini." Aku biarkan saja.

"Makasih?"

"Iya, tadi... aku punya mimpi buruk sekali sampai teriak tidak jelas untuk terbangun. Sungguh mengerikan sekali..... Aku merasa bodoh teriak di malam hari."

"Kalau tidak ingin mengingat, dengarkan ini, wahai manusia!" Kenapa sifatnya kembali lagi???? "K-kau tahu, kan, manusia yang aku paling benci?" Bukankah aku pernah mendengar ini, ya????

My flower hemlockCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang