Hidup Ana Yuwana Felixia dipenuhi kemalangan, namun sebuah "keberuntungan" tak terduga muncul dan ia langsung meraihnya. Sayangnya, itu hanyalah jebakan. Kini, ia harus menjadi guru bagi empat murid jenius yang masing-masing menyimpan luka psikologi...
English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version.
Thank you! <3 from tricxo
Pagi cerah menyinari kamarku. Suara burung bernyanyi merdu dan udara segar tanpa polusi yang mengganggu, membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Ini kesegaran yang belum pernah kurasakan. "Uh... sudah pagi hari, ya? Dan ini, ah..." Kejadian kemarin menampar takdirku secara tiba-tiba.
"Aku enggak mau bangun..." Saat aku ingin kembali tidur, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. "Ana! Oh? Kau sudah bangun? Sarapan pagi sudah siap," sapa seseorang. Tiba-tiba, seorang perempuan mirip Ustin, mulai dari warna rambut dan pakaian, namun berbeda jenis kelamin, berdiri di sana membuatku kebingungan.
"Si-siapa????"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Eh? Ini Ustin, apakah kau lupa denganku?" Saat aku masih penuh kebingungan, seorang lelaki mirip Will muncul di belakangnya. "Oi! Cepetan! Lumayan makanan masih hangat."
"Kamu siapa????"
"Ih! Masa enggak tahu? Willa! Ada apa dengan Yuwana Felixia sih, Ustin???"
Perempuan mirip Ustin berpikir sejenak, lalu berkata, "Oh, mungkin kamu melihat kami berubah kelamin?"
"Berubah kelamin????"
"Asal tahu saja, kami G.O.D aslinya tidak memiliki bentuk ataupun kelamin. Jika kami menunjukkan wujud asli, kau manusia akan panik. Jadi, kami membuat G.O.D memiliki bentuk dan kelamin sesuai keinginan penglihatan manusia."
"Oh? Benarkah? Bagaimana untuk mengembalikan kalian seperti semula?"
"Perubahan ini dikondisikan untuk kenyamanan bersosialisasi dengan kami, contohnya sekarang. Sebaiknya kamu sarapan pagi sekarang."
Mereka berdua pun pergi meninggalkanku. "Hah... aku jadi tambah ingin melarikan diri dari kenyataan... akan tetapi bakal sulit..." Aku pun mulai mempersiapkan mental sebagai pengajar empat murid jenius ini.
TOK-TOK Suara ketukan pintu dari luar bersama suara yang kukenal. "Ana? Apakah kau sudah siap?" itu Kak Adi. Aku mulai mengecek persiapanku; semuanya lengkap, pakaian rapi. Tinggal menyelesaikan sarapan bersama Ustin dan Will di ruang makan.
"Ah! Tunggu sebentar!"
"Oke!" Aku bergegas ke pintu luar, lalu langsung membukanya sambil memasang sepatu heels yang pas di kakiku.
"Pagi, Ana."
"Pagi, Kak Adi." Kami berdua berjalan bersama sambil mengobrol.