Hidup Ana Yuwana Felixia dipenuhi kemalangan, namun sebuah "keberuntungan" tak terduga muncul dan ia langsung meraihnya. Sayangnya, itu hanyalah jebakan. Kini, ia harus menjadi guru bagi empat murid jenius yang masing-masing menyimpan luka psikologi...
English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version.
Thank you! <3 from tricxo
"EEEHHHHHH????????????????????????????" Aku berteriak tak percaya.
"Kenapa lo terkejut, Ana??? Bukankah kita mirip??????" Nola memeluk erat May.
"Yah... lo aja enggak pernah ceritakan sepupu lo."
"Masa?"
"Iya! Bahkan nama atau bentuk pun tidak!"
"Hehehh! Maaf, karena gua enggak mau banyak yang mengetahui betapa imutnya sepupuku ini! Benar 'kan, May?" Nola mengusap kepala May hingga berantakan, sedangkan May tampak senang.
"Juga... apakah lo enggak apa-apa dengan... pekerjaanmu? Kayaknya di belakang ada yang ngejar lo."
"Oh, masa?" Nola berbalik dan melihat salah satu polisi berusaha mengejar atau memberitahunya, tetapi terhalang oleh kerumunan warga yang melihat kebakaran. "Sepertinya gua harus kembali. Sebelum itu, Ana! Apakah nomormu masih sama?"
"Iya."
"Nanti kita lanjutkan pembicaraan ini di HP!" Nola pun meninggalkan kami semua dan melanjutkan pekerjaannya.
"May dan Luv, kita ke taman." Kami pun pergi ke taman yang letaknya tidak jauh, hanya butuh lima menit. "Juga, May, ini." Setelah berada di taman, aku langsung memberi May uang ke tangan kanannya. "Bu Ana traktir minuman dari mesin penjual di sana, jadi May terserah pilih maumu."
"BAIKK!!!!"
"Bagaimana, Luv? Kamu mau apa???"
"......." Luv tidak menjawab, jadi aku yang memilih? Seingatku... dia suka... "Anggur untuk Luv dan Bu Ana lemon, oke? Kita akan duduk di bangku taman." Aku menunjuk bangku yang dekat.
"SIAPPP!!!!" May langsung pergi ke mesin penjual minuman, sedangkan aku dan Luv duduk bersampingan.
"Luv... apakah kamu masih ingat saat kita bertemu?"
"......." Luv masih tidak ingin berkata. "Aku ingat kok, waktu dulu kamu masih kecil sekali. Bahkan kamu mirip sekali dengan Kak Adi bila tubuhnya menyusut. Selama Kak Ana sebagai guru les dulunya, sungguh sangat menyenangkan. Bahkan Bu Ana tidak ingin berpisah layaknya sebelumnya Luv pindah." Aku berdiri dari bangku dan menghadap ke Luv yang pandangannya ke bawah.
"Untungnya kita ditemukan lagi di sini dantidak ingin kamu hilang lagi di hadapanku." Aku mulai memeluk Luv sambilmengusap punggungnya agar tenang. "Kak Ana......"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Luv memelukku balik, sepertinya tetesan air mata tersebut telah habis namun tubuhnya masih gemetaran penuh ketakutan, Pastinya Luv sangat trauma saat ia masih kecil. "Jadi mau bilang apa sekarang? Aku dengarkan keluhmu."