English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version.
Thank you! <3 from tricxo
Setelah perbincangan antara aku bersama Will dan Ustin, aku mulai melangkah pergi ke kelas sambil berpikir, "Bagaimana ini? Siapa yang harus aku pilih?"
Apakah Ami? Setelah melihat hubungan antara Ami dan Luv, mereka tidak terlalu dekat. Apalagi jika aku membawanya untuk menghentikan Luv, dia bisa bunuh diri dua kali! Aku tidak tahu akan terjadi seperti apa. Apakah Asoka? Dia memang cocok dengan jurusan olahraga yang menggunakan kekuatannya, maka memang ideal. Akan lebih sempurna lagi bila Asoka tidak memiliki kepanikan... huh... Bahkan hubungan mereka tidak terlalu dekat, jadi... tidak membawa Asoka sungguh mustahil. Terakhir, May? Selama aku melihat pertemanan mereka... tidak terlalu buruk layaknya yang lain. Bukankah mereka dekat? Seperti saat Luv keluar dari kelas ketika ingin dihukum, May keluar. Lalu saat senjata Luv hilang... bukankah dia yang membuat replika? Juga saat aku jatuh di jendela, hanya Luv yang mengejarnya. Hanya saja... aku tidak bisa mengontrol tindakannya... bagaimana ini... ukh... bingung...
"ANNNNNAAAAA!!!!!!!!"
"EKKK!!!!!!" Suara teriakan robotik May mengejutkanku dari belakang. "Jangan teriak di telingaku, May! Juga, panggil Bu Ana!"
"OOOOOKKKKKKKK!!!!!!!"
"Juga, kenapa kamu tidak di kelas? Apakah kamu kabur lagi???"
"TIDAK! ANA LAMA!!" Ah... sepertinya selama aku berpikir, aku tidak sadar sudah terlambat. Pasti di kelas mereka menunggu lama, jadi May datang untuk melihat kondisiku.
"Maaf. Panggil Bu Ana... Juga... aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Apakah kau tahu jalur tercepat untuk menuju jalan ini?"
Aku diberikan informasi jalan oleh May. Dia mengeluarkan HP dari sakunya dan menjelaskan dengan detail sehingga aku bisa memahaminya. "Hmmm... jadi butuh naik busway dua kali pemberhentian ya..."
"MAU KE SANA????? KITA?????"
"Ke sana... uhm... apakah kamu yakin???" Memang petunjuk mereka adalah orang terdekat Luv, namun tetap saja aku tidak mau menambah trauma pada apa yang akan terjadi sebelum kami berjalan.
"MEMANG KENAPA?????" May terbingung dengan konflik pikiranku ini. Sepertinya memang lebih baik aku menjelaskan apa yang terjadi.
"Jadi Bu Ana melihat Luv yang seharusnya berjalan bersama Pak Adi untuk pergi ke dokter, namun dia kabur ke sini. Bu Ana khawatir dengan apa yang terjadi, kemungkinan masalah lalunya." Tiba-tiba May memegang kedua tanganku. "Eh?? M-MAY!?" May tidak menjawab, namun genggaman tangannya membuatku lebih berani untuk mengatakannya, "Apakah kamu diberitahu masa lalu Luv???"
"TIDAK, NAMUN KAMI TAHU MENGAPA KAMI DI SINI!" Ah... mata May seperti bergelinang air mata. "NAMUN MAY TAHU ANA KE SINI UNTUK MENGHILANGKAN ITU!!! SEPERTI KAKAK!" Eh, kakak? Membuatku bertanya-tanya.
"Iya, memang ingin menghilangkan, namun apa maksudmu—" Namun tiba-tiba May menarik tanganku dengan semangat. "Tunggu dulu, May!" Teriakanku membuat May menghentikan tarikannya tersebut. "Apakah kamu serius? Ini akan menjadi trauma nanti karena si Luv... akan... menghilangkan dirinya..."
"PERCAYA! AKU PERCAYA!!!" kata May yang melihatku penuh keyakinan, membuatku tersenyum melihatnya.
"Terima kasih, namun untuk sekarang... Bu Ana mau kirim pesan Pak Adi dulu, agar dia tidak mengetahui kita akan pergi ke sana... hmmm..." Aku mulai mengambil HP dari tas selempang lalu mengetik pesan. Aku takut kalau Kak Adi mengetahui keberadaan Luv yang hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My flower hemlock
RomantikHidup Ana Yuwana Felixia dipenuhi kemalangan, namun sebuah "keberuntungan" tak terduga muncul dan ia langsung meraihnya. Sayangnya, itu hanyalah jebakan. Kini, ia harus menjadi guru bagi empat murid jenius yang masing-masing menyimpan luka psikologi...
