Hidup Ana Yuwana Felixia dipenuhi kemalangan, namun sebuah "keberuntungan" tak terduga muncul dan ia langsung meraihnya. Sayangnya, itu hanyalah jebakan. Kini, ia harus menjadi guru bagi empat murid jenius yang masing-masing menyimpan luka psikologi...
English translation of this chapter is available below. Please scroll down for the English version.
Thank you! <3 from tricxo
Pagi itu, kelas dimulai dengan biasa. Para murid hadir, mendengarkan pelajaran, mencatat, atau bertanya tentang hal-hal yang tidak mereka mengerti. Sungguh kejadian yang tidak kusangka selama mengajar empat murid yang katanya aneh ini. Ternyata mereka bisa bersikap layaknya murid normal. Seandainya saja mereka bisa melakukan ini setiap hari, pasti aku akan betah bersama mereka. "Apakah ada la—"
BRRRIIIIIIINNNNNGGGGGGGGG Bel sekolah berdering keras. "Oke semuanya, kita sudahi kelas ini. Kalau ingin menanyakan, bisa bertanya nanti."
Aku pergi meninggalkan kelas, dan di balik pintu, ada seseorang yang kukenali. "Pak Adi? Pak Adi tidak masuk kelas?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hai, Bu Ana! Tujuanku memang ingin memasuki kelas, tetapi urusan kerja membuat waktunya kurang cukup. Bagaimana dengan kelas, apakah lancar saja?"
"Lancar saja."
"Benarkah?" Lalu murid-murid di dalam kelas keluar, mulai dari May, Asoka, Ami, dan... Luv yang terakhir. "Oh, Luv? Mengapa dia berada di kelas Ibu Ana? Apakah ada masalah di kelas?"
"Kau pikir aku? Layaknya manusia rendahan ini yang bisa melakukan kesalahan? Tentu saja aku berbeda dari yang lainnya." Luv langsung berdiri di sampingku.
"Hmm? Kau tahu nantinya akan ada risiko." Sepertinya Kak Adi masih belum mengetahui bahwa barang yang telah diambil dari Luv sudah tertukar dengan replika.
"Coba saja." Mereka saling menatap, bagaikan musuh dalam peperangan. Tetapi tatapan tersebut hilang ketika HP Kak Adi berbunyi. 'BBBBBBRRRRRRRR!!!!!!!!!!' Kak Adi mengambil HP di kantong celananya lalu melihat siapa yang meneleponnya.
"Sepertinya kita sudahi saja perbincangan ini. Sampai jumpa, Bu Ana dan... Luv." Kak Adi pun pergi sambil menjawab teleponnya.
"Benar-benar menyebalkan! Bisa-bisanya manusia itu selalu menentangku!"
"Seingatku... kalian akrab sekali satu sama lain. Memangnya ada apa di antara kalian?"
"Akrab? Dari mananya? Aku sarankan kau, manusia, pergi ke tempat menyembuhkan matamu itu!"
Mengingat tentang Kak Adi yang membuang sebuah kertas... Aku ingin sekali membantunya, tetapi lebih baik aku bertanya kepada Luv bila ia mengetahui apa yang terjadi. "Ummm... bolehkah kita berbincang di tempat lain?"
"Oh? Kau mengajakku? Boleh saja, silakan tunjukkan padaku! Vlad Heo—"
"Ayo, kita ke halaman belakang." Kami berdua pergi bersama. Letaknya tidak jauh dari kelas, makanya mudah untuk sampai. "Luv, apakah kau ingat saat ingin mengembalikan senjatamu itu?"